Tuesday, December 6, 2016

Serpih Kata di Sela Masa 15

4 Januari 2015
Tak hanya sekedar niat dan perencanaan. Tapi juga butuh keberanian untuk melakukan...

7 Januari 2015
Wahai diri, betapa memalukan, memelihara resah karena hal fana, resah bukan karena dosa atau kebaikan-kebaikan yang tertunda. Memalukan, memelihara kesedihan karena perkara dunia, bukan karena amal yang sering ditinggalkan atau keburukan yang masih saja dilakukan...

14 Januari 2015
Seakan terhempas dalam ketakberdayaan dan merasa jauh tertinggal saat dendang mereka kudengar berulang-ulang,
"Bukankah dalam hidup ini mati hanya sekali?
Kenapa tak jadikan akhirnya syahid di jalan ilahi?
Jiwa seorang syuhada berada di tempat yang tinggi,
diberi kedudukan mulia di sisi pencipta langit dan bumi..."

23 Januari 2015
Wahai diri tak kah kau ingat bahwa Dia Maha Melihat, berkuasa untuk mengazab, dan bisa saja murka dengan tingkah raga dan indra yang kau punya, sebelum terlambat dan menyesal, sebelum Ia turunkan hukuman untuk mengingatkan, lebih baik segera menyadari segala yang dilakukan....

10 Februari 2015
Kemana kan kau gantungkan sisa harapan, kemana kan kau labuhkan sisa impian, ketika setiap jalan dan peluang telah terbentur dinding penghalang, setelah segala usaha seakan dimentahkan...? pada yang maha besar, pada penguasa seluruh alam, tiada selain-Nya tempat tertuju semua pinta...

13 Februari 2015
jika kau dalam gamang, sejenak lupa pada apa yang seharusnya kau kerjakan,
kembalilah ke pintu, tanya kembali apa tujuanmu memasuki ruangan itu...
kembalilah ke titik awal, tanya kembali apa yang kau cari di jalan yang kini kau susuri...


(kembali mengaca diri, cikarang selatan 13/2/2015)

15 Februari 2015
meski kadang menyakitkan dan menuntut kesabaran yang tak biasa, nikmati saja prosesnya. karena kita tak pernah tahu bagaimana nanti akhirnya, seringkali hikmah tak kan kita ketahui sebelum prosesnya selesai dijalani...

16 Februari 2015
entah hukuman, teguran atau cobaan, saat keinginan untuk menuju kebaikan ditangguhkan. mungkin niat yang kurang kuat, mungkin ada haram dalam makanan yg disuapkan, mungkin tertahan oleh kemaksiatan yang berulang, mungkin ada sekian insan yang mendoakan pembalasan atas kedzoliman yang dilakukan...mungkin... mungkin... Ya Rabb, kumohon ampunan atas salah yang sadar dan tak kusadar...

19 Februari 2015
walau tanpa slogan dan penampilan yg tak se"syar’i" dan se"islami" dirimu, belum tentu mereka seperti pandangmu. Meski tampak biasa siapa duga rupanya mereka lebih taat dari yang kau kira, lebih dermawan dalam masalah harta, lebih takut pada sang pencipta pada setiap lakunya. Mungkin saja ibadah mereka yang sedikit lebih bernilai di mata-Nya karena disertai sesalan dan ketakutan sebab sadar akan kurangnya ketaatan. Dan boleh jadi banyaknya amalmu, juga bersegeramu kepada kebaikan tak berpahala karena disertai rasa bangga dan memandang sebelah mata atas mereka...

(subuh di mushola sebuah pabrik, cikarang selatan)

20 Februari 2015
Terima kasih wahai Rabb, Kau pertemukan diriku dengan orang-orang baru yang tumbuhkan rasa syukur atas keadaanku. Senyuman dari mereka, pertanyaan-pertanyaan mereka, cerita keseharian mereka, keinginan dan cita mereka, terdengar sederhana namun tulus dan apa adanya. Menyadarkanku betapa luasnya dunia, betapa beragam pikiran manusia, betapa tak semua memiliki kesempatan yang sama...
terima kasih pada kalian atas tanya, canda dan cerita, terima kasih atas senyuman dan keramahan yang diberikan....

(cikarang selatan, dlm shift malam berbincang dgn staf percetakan)

21 Februari 2015
Wahai diri, tak perlu pedulikan kata manusia akan capaian yang senantiasa tertunda, cukup terus berusaha dan jangan pernah berputus asa. Jadilah pemburu surga yang tak mengharap apa pun kecuali ridho-Nya dan nilai diri di sisi-Nya....

12 Maret 2015
sebuah pesan kudapatkan....

A: ambillah piring dan hempaskan ke lantai
B: iya, sudah...
A: apakah piring itu pecah?
B: iya
A: sekarang ucapkan maaf pada piring itu
B: Maaf...
A: apakah ia utuh kembali?
B: .....

#‎mengerti?

Memang kata maafku tak bisa mengembalikan hati yang terluka seperti sedia kala. Dan aku pun hanya bisa menerima ketika kau panjatkan doa agar Yang Maha Kuasalah yang akan membalas segala perlakuan yang kau terima. Siapa pula yang bisa melawan doa orang teraniaya, yang tiada hijab antara dia dengan Rabbnya, siapa pula yang mampu melawan seseorang yang dibela oleh Penciptanya?
Kalau memang tak ada lapang, kalau memang berat utk memaafkan, mungkin memang itulah yg pantas kudapatkan. Namun aku akan tetap mengatakan, "mohon maafkan..." dan berharap maaf darimu, hingga Allah pun tak pula ikut memurkaiku...

4 Mei 2015
Tak seberani yang kau kira, tak bisa setangguh yang kau pinta. Lelaki biasa yang terlalu ragu pada dirinya dan menutupi ketakutan yang dipunyai dgn kata-kata tinggi. Ia terpuruk dalam rendah diri melihat capaian yang kau miliki. Maka ia menghilang untuk menggapai tenang dan berharap ada jalan yang bisa tegakkan lagi tatapnya ke depan. Bukan dalam angkuh namun dalam yakin apa yang ingin ia rengkuh... bukan dalam sombong namun dalam yakin akan kuasa Sang Maha Penolong...

15 Mei 2015
Akankah derajatku meninggi di dalam pandanganmu wahai Ilahi? Dengan segala kekurangan diri dan taat yang entah berarti atau malah tak bernilai sama sekali. Akankah ada tempat istimewa yang tersedia bagiku wahai penguasa semesta? dengan amal yang terbersit riya, alpa yang tanpa jeda, tak juga henti menumpuk dosa dan taubat yang selalu ditunda...
namun kumasih memupuk asa, bahwa ampunan-Mu seluas samudra, bahwa pintu-Mu senantiasa terbuka...

14 Juni 2015
Berpuluh tahun hidup di dunia, dengan tumpukan dosa yang entah setinggi apa...
Apakah sebanding dengan kebaikan yang buahkan pahala,
yang diharap kan bisa beratkan timbangan di alam berikutnya...
Ah, masih ada nyawa yang lekat dengan raga...
Masih ada masa untuk perjuangkan derajat mulia...
Akankah di sisa usia kan didapat ampunan dan ridho-Nya?
semoga... semoga...

8 Juli 2015
hanya tinggal sepertiga, akankah sekedar mendapat lapar dahaga?

10 Juli 2015
"Seharusnya ia tak perlu ragu, bukankah tak selamanya dia bisa bersama kedua orang tuanya, kapan lagi ia bisa membuat keduanya bahagia. Jika di dunia tak ada lagi kesempatan dan tak ingin menyesal di hari depan karena tak sempat membahagiakan maka sekaranglah saatnya untuk sedikit membalas kebaikan yang telah ia terima. Tak ada ruginya dia mengikuti permintaan orang tua, lebih-lebih dia tahu yang diinginkan orang tuanya adalah kebaikan. Tak ada alasan untuk menolak dan mengelak, apa lagi jika hanya mengikuti keegoisan diri, jika demikian sungguh lakunya tak terpuji. "
(dari sebuah cerita: Menggenggam Cahaya. bag. 1)

17 Juli 2015
bukan karena barunya pakaian yang dikenakan atau lezatnya makanan yang dihidangkan, namun bagi yang bertambah ketaatan dan ketaqwaan. merekalah yang pantas merayakan hari kemenangan...
Taqoballahu minna wa minkum...


9 Agustus 2015
Inna lillahi wa innaa ilaihi rooji’uun...
telah meninggal dunia, hati yang jauh dari Ilahi. disebabkan karena tak lagi peka akan seruan kebenaran, dan enggan mengingat kebesaran pencipta alam, yang menghitam karena noktah kemaksiatan tak juga dibasuh dengan air mata pertaubatan. berlarut dalam kesalahan, menikmati berkubang dalam lumpur kehinaan dan tak juga indahkan panggilan kebaikan ...


19 Agustus 2015
Wahai Rabb, aku tetaplah sosok biasa yang punya keinginan seperti umumnya manusia. Maafkan jika kulancang dalam meminta, tak juga bisa sabar dalam menanti pengabulan doa, dan tak sopan dalam tuturan di hadapan-Mu wahai penguasa semesta... maafkan hamba...


27 Agustus 2015
wahai diri, bertahanlah dalam kebenaran, teruslah berbuat kebaikan, tebarkanlah kemanfaatan pada setiap orang, dan jangan palingkan hatimu dari tujuan demi keridhoan yang Maha Besar. Semoga dengan itu semua kau kan dapatkan keselamatan di kehidupan setelah kematian...


15 September 2015
Semoga rukun islam kelima yang ditunaikan oleh yang telah memiliki kemampuan diterima di sisi Yang Maha Besar.
Semoga dimudahkan segala urusan, tak ada halangan dalam perjalanan, juga dalam memenuhi syarat dan rukun peribadahan. Hingga kelak bisa kembali ke negeri ini sesuai harapan keluarga yang menanti... amin


24 September 2015
apa dan siapa yang akan kau salahkan? apakah menyalahkan keadaan atau seseorang akan merubah keadaan? Tidak!
Mencari kambing hitam bukanlah sifat pejuang, bagaimana ia kan bertahan dan akan bisa memperbaiki kekeliruan jika selalu melimpahkan kesalahan pada orang-orang sekitar atau situasi yang tak menguntungkan?


27 September 2015
Tak perlu ikut membenci atau menghakimi karena informasi yang belum pasti. Diamlah jika kau belum mengerti masalah yang terjadi atau bertanyalah tapi jangan hanya dari satu arah. Siapa yang tahu bahwa yang engkau hujat hari ini telah mengumpulkan jasa dan pahala yang menutupi kesalahannya. Ini bukan masalah setetes nila yang merusak susu sebelanga tapi bahwa setetes najis tidak merubah air dua kulah...

13 Oktober 2015
Karena Ia kuasa atas segala...

18 Januari 2016
Melihatnya serasa diri ini tak ada nilainya... fisik sempurna yang dipunya akankah malah mengantar ke neraka?

5 April 2016
Pernahkah kita bertanya, Apakah kegaduhan yang kita berikan akan menjadikan simpul ukhuwah terikat lebih erat dan jama'ah semakin kuat atau malah sebaliknya, menambah lebar renggang perpecahan dan munculkan prasangka yang belum tentu benar... ?
Mengerti akan kapasitas diri, jika memang kita tentara dengan pangkat yang tak kentara tak perlu bergaya layaknya panglima atau seperti jendral berbintang tiga...

===========================================================
Rangkai kata di atas merupakan kumpulan status dari akun FB “Tiada Nama (Ardhi el Mahmudi)

Friday, November 4, 2016

Menggenggam Cahaya (bag. 2)

Akhirnya ia pergi juga, kembali meninggalkan rumah yang belum lama disana ia singgah. Demi memenuhi keinginan orang tua juga demi hasratnya untuk berbakti pada keduanya. Ia coba untuk tak hiraukan segala hal yang akan menanti di hadapan. Usia yang menua, pernikahan yang tertunda dan pemasukan yang belum jelas dari mana, semua itu tak lagi ingin ia fikirkan. Yang penting kini bagaimana ia bisa sedikit membuat ayah dan bundanya tersenyum bahagia.

Maka disinilah ia, di sebuah tempat yang tiap saat terdengar suara ayat-ayat-Nya dibaca. Dari beratus lisan suara itu bersahutan yang jika didengar dari kejauhan seakan dengungan kepak sayap lebah yang berjumlah ribuan.

Tempat itu, yang hidup penghuninya diatur sedemikian rupa sejak terbukanya mata hingga mereka kembali dalam baringnya. Setiap kegiatan yang mereka lakukan selalu ditandai dengan lonceng yang dipukul berulang. Dari dentangnya mereka tahu kapan harus bangun, kapan membersihkan diri, kapan mereka makan, kapan bersiap untuk belajar, kapan mulai mengaji, dan kapan mereka berhenti untuk beristirahat. Setiap kali lonceng berbunyi maka akan tampak beratus orang yang mengenakan pakaian yang hampir serupa, -peci hitam yang selalu lekat di kepala, sarung sebagai pengganti celana dan baju lengan panjang yang tak sedikit yang jarang disetrika-, berlalu lalang, bergegas untuk melakukan aktivitas yang telah terjadwal.

Dari hari ke hari rutinitas mereka tak jauh berbeda. Bangun awal sebelum fajar, melantunkan pujian berisi nama-nama indah milik penguasa alam sembari menanti sembahyang subuh ditegakkan. Menjelang pagi, tampak antrian di depan pintu-pintu kamar mandi. Tak jarang di sela-sela mereka mengantri terdengar teriakan, "Lama kang! Ngapain di dalam? Mencurigakan." Atau "Cepetan Kang, itu mandi atau nyuci truk?" Atau "Mandinya kayak perawan Kang, luluran ya? Lama banget."

Ketika datang waktu makan maka terlihat di depan asrama lingkaran-lingkaran manusia mengelilingi sebuah nampan. Lima hingga sembilan orang bergantian mengambil suapan nasi dengan tangan telanjang. Meski seringkali makanan mereka masih mengepulkan asap, tapi itu tak mengurangi kecepatan suapan. Dan panasnya hidangan bukanlah penghalang untuk mengisi perut yang lapar.

Di lain waktu, akan terlihat mereka menyendiri di sudut-sudut lingkungan pondok dengan tangan memegang kitab suci. Bibir mereka bergerak-gerak tanpa henti, mengulang-ulang bacaan Al Qur'an dan berusaha untuk menghafalkan.

Demikian pula dengan dirinya, ia pun mengikuti alur kehidupan di lingkungan ini. Memang dia sudah terbiasa, kehidupan seperti itu sudah tak lagi asing baginya karena ia lahir dan besar di tengah-tengah tempat dengan suasana yang tak jauh berbeda.

Memang menjenuhkan, hidup terkurung di lingkungan kecil dengan kegiatan dan orang yang itu-itu saja. Namun semua tetap mereka jalani demi capaian mulia yang akan didapatkan setelah mati, itulah yang mereka yakini. Kemantapan hati yang mereka miliki untuk bertahan di tempat ini semakin menjadi ketika guru mereka, sang Kyai, selalu mendampingi dan memberi motivasi.

Kyailah yang mengingatkan mereka akan tujuan dan apa-apa yang kelak akan didapatkan di sisi Tuhan. Begitulah pula yang ia rasakan kala pertama kali datang, pesan dan nasehat pun ia dapatkan.

"Mau nyantri disini?" Tanya pak Kyai kala itu.
"Iya pak Kyai." Jawabnya
"Mau menghafalkan Al Qur'an?" Tanya beliau lagi. Dan ia kembali menjawab, "Iya pak Kyai."
"Alhamdulillah, alhamdulillah kalau sampeyan mau menghafal Al Qur'an. Disyukuri ya Kang, karena tidak semua orang mendapat kesempatan. Tidak setiap orang dibukakan hatinya dan dimudahkan untuk mau menempuh jalan Al Qur'an. Allah sudah membukakan jalan pada sampeyan untuk menjadi salah satu Ahlullah, keluarga Allah di muka bumi, tinggal sampeyan mau bersungguh-sungguh atau tidak. Sudah siap nyantri disini kan?"
"Insya Allah sudah pak Kyai."
"Kalau memang sudah siap ada beberapa hal yang mesti sampeyan perhatikan Kang sebelum menghafal Al Qur'an." Ia mulai menajamkan telinga, bersiap menerima petuah pertamanya.
"Yang pertama, niat yang ikhlas. Luruskan niat dulu, bukan karena siapa-siapa dan bukan karena apa-apa tapi cuma mengharap ridho-Nya dan kemuliaan di sisi-Nya. Agar nanti amal yang dilakukan tidak sia-sia. Yang kedua, ada guru yang membimbingmu. Tanpa guru kita tidak akan tahu sudah benar atau belum bacaan dan hafalan kita. Yang ketiga, susunlah jadwal. Kapan sampeyan harus menghafal, kapan mengulang hafalan, kapan istirahat. Harus ada kejelasan pembagian waktu sehingga ada keteraturan agar waktu yang ada tidak terbuang percuma. Yang keempat, istiqomah. Istiqomah dalam menetapi jadwal yang sudah sampeyan susun sebelumnya. Dan yang kelima, ini yang terakhir. Sabar, karena menghafal Al Qur'an membutuhkan waktu yang panjang, tidak sekedar sehari dua hari. Dan tentunya nanti dalam prosesnya tidak seterusnya lancar pasti akan ada cobaan yang datang."

Dia menganguk-menganguk mendengar tuturan itu. dan menyahut "Mohon doa restunya pak Kyai semoga bisa berhasil."
"Iya, Semoga kamu nanti dimudahkan dan diberi kelancaran." Sahut sang Kyai.

* * *

Ia pun mulai mencoba melekatkan dalam benak ayat demi ayat dari firman Ilahi. Memindahkan dari bentuk tulisan yang bisa dipandang ke dalam hati dan ingatan.

Pikirnya di awal mula, waktu dua tahun cukup untuk menuntaskan semua yang sekarang ia jalani dan keinginan kedua orang tuanya pun akan segera terpenuhi. Hitungnya, kitab Al Qur'an yang dicetak biasanya terdiri dari kurang lebih 600-an halaman. Sedangkan satu tahun terdiri dari 360 hari. Jika sehari dia mampu menghafal satu halaman maka dalam jangka waktu kurang dari dua tahun semua telah tuntas dihafalkannya. Lagi pula dia percaya dengan kemampuan akal yang dianugerahkan Tuhan padanya. Menghafal sudah menjadi kebiasaannya sejak usia muda. Prestasi demi prestasi juga ia torehkan pada tiap jenjang pendidikannya. Guru-gurunya memuji kecerdasan dan mudahnya ia memahami segala yang ia terima. Tentunya jika hanya menghafal selembar sehari tanpa aktifitas lain yang mengganggu dia pasti mampu.

Namun, terkadang segala rencana dan hasrat seseorang tidak seiring dengan kenyataan yang ada di hadapan. Tak selalu sama antara apa yang dikehendaki dengan hasil akhir yang dihadapi.

================================================================
Kudus, Agustus 2015
Bersambung

Baca : Menggenggam Cahaya (bag. 1)

Tuesday, November 1, 2016

Serpih Kata di Sela Masa 14

9 Januari 2014
Wahai saudariku seiman, jangan nodai hijab itu dgn nilai-nilai yang jauh dari ajaran, karena di belahan bumi lainnya para wanitanya butuh perjuangan ketika ingin mengenakan...

12 Januari 2014
Wahai diri, apa kan kau lupa pelajaran pertama yang kau terima saat melingkar bersama? Tentang segitiga cinta. Cinta pada sang pencipta penguasa semesta, cinta pada Muhammad sebagai utusan Yang Kuasa dan cinta Islam sebagai agama yg kau rindukan tegaknya? Namun kini, apakah kau sadari kemana cintamu berlari?

14 Januari 2014
Ketika sesuatu tertunda kadang bukan karena kemauan kita, kecewa sewajarnya saja dan coba nikmati kesempatan yang tak biasa. Anggap saja sebagai istirahat di kala jeda...

15 Januari 2014
Jika ia tak juga hilang dari ingatan maka mintalah pada yang Maha Besar untuk menghapus bayang yang ada dalam pikiran. Bukankah ada yang lebih penting untuk diperhatikan? Yang lebih bisa memberi kepastian dalam kebaikan? Yang lebih menjanjikan balasan yang tak berkesudahan ...

17 Januari 2014
Mendekat... Mendekat... Semoga Ia membuat diri lebih kuat dalam menghadapi coba yg terasa berat...

19 Januari 2014
Asa itu selalu ada, tinggal diri kita mau atau tidak menjaga nyalanya. Bukankah masih ada Yang Esa? Bukankah hanya pada-Nya bermuara segala harap dan pinta. Maka, wahai diri, tak ada alasan utk berhenti memupuk asa di hati hingga keputusan Ilahi terjadi...

21 Januari 2014
Kata yang telah terlontar seringkali akan timbulkan sesalan karena tanpa berpikir panjang. Sekedar kata maaf mungkin tak akan cukup menghapus luka karena sepatah kata. Namun tetap akan kukatakan, maafkan diri ini yang telah lontarkan kata yang sakitkan hati....

30 Januari 2014
Kadang tak mengerti sebab kenapa ada resah di hati. Kemudian sibuk mencari demi sebuah solusi. Tapi tanpa sadar masa pun terbuang hanya untuk menelusuri hal yg tak pasti. Ada kalanya perlu untuk tak peduli pada tanya "kenapa?" kemudian terus berjalan menuju tujuan, seiring waktu yg berlalu resah pun tak kan bertahan....

30 Januari 2014
Apa ku harus kembali ke tempurung lamaku? kemudian berdiam mencoba buta dan menutup gendang telinga. Karena rupa dunia yang butuh sabar tanpa purna dalam menghadapinya. Selalu ingin lari menghindari, selalu ingin pergi atau berhenti. Tapi jika itu pilihanku, aku takkan pernah sampai pada tempat yg kutuju...

30 Januari 2014
Tak perlu menghujat, janganlah disalahkan, tak kita salahkan pun ia telah buat kesalahan. Apa dengan hujatan dan cemoohan bisa membuat ia kembali beriman? Sungguh dalam beragama tak ada paksaan, seharusnya kita kasihani, karena iman telah tercabut dari hati dan lebih memilih kesengsaraan abadi setelah mati. doakan saja dia agar bisa kembali menikmati manisnya hidayah di sanubari. dan bersyukurlah karena bukan kita yang diberi coba berkenaan dengan ingkar keluar dari islam ....

1 April 2014
Kau kah orangnya, bagian dari para pemburu surga yang bersedia menjadi otak, hati, dan tulang punggung bagi indonesia?! Tak kah kau bersedia?

8 Juni 2014
Tanpa kau minta pun, aku akan tetap berusaha. Tanpa kau ingatkan pun, aku akan tetap tuntaskan. Tak undur karna cela, tak patah karna lara. Laju langkah tak kan reda, karena yakin di ujung gelap kan ada cahaya

10 Juni 2014
Wahai diri, bagaimana kau kan memberi terang pada sekitar sedang engkau masih saja tenggelam dalam kegelapan?

6 Agustus 2014
Jalan memang tak selalu lurus. Meluruskan jalan yang berkelok-kelok? Mustahil. Kadang jalan dibangun berkelok untuk memudahkan mencapai tujuan. Pernah mencapai puncak bukit atau gunung dengan jalan lurus? Kerasnya suara palu dipukul di atas paku tentu lebih mengganggu dari pada putaran obeng saat memasang sekrup ... nikmati saja kelokannya karena itu niscaya... asal hati dan amal tak bercabang dan menyimpang dari kebenaran....

6 Agustus 2014
Mudah kita berkata "jalani saja", "sabar", "nikmatilah" atau "tetaplah bertahan", ketika seseorang tumpahkan keluhan, sedang kita dalam kelapangan dan belum pernah alami sendiri apa yang terjadi. Menjadi sosok sok tahu dan seolah mengerti padahal belum tentu kita sekuat mereka ketika menghadapi hal yang sama....
Menjadi sosok tahu diri yang tidak menggurui, memberi semangat tanpa memposisikan diri lebih tinggi, semoga kita bisa...

7 Agustus 2014
Karena tidak selalu yang berlaku seperti inginmu... Karena tidak selama yg kita cita kan tergenggam sempurna...
Kelapangan hati dan yakin bahwa yang dialami adalah yg terbaik bagi diri, semoga senantiasa dimiliki...

8 Agustus 2014
Wahai diri...
Sampai kapan kan kau biarkan dirimu dalam kubang kehinaan?
Dengan tak perhatikan keadaan jiwa yang selalu berteman kealpaan.
Tak juga malu ketika izzah diri tak nampak lagi.
Pedulimu pun hilang saat perhatikan segala keburukan.
Tak juga terbersit iri ketika orang-orang berlari mendahului dalam menggapai ridho Ilahi.
Pekamu sirna, banggamu akan agama pun tak lagi ada, ghirah juga tiada getarnya...
Apa kau telah memilih panasnya neraka?

9 Agustus 2014
Dan kumelihat di antara mereka ketika gagal mendapatkan sesuai kemauan atau tak bersanding dengan sosok yang didambakan, mereka dianugerahi oleh Ilahi lebih dari yang diingini....

8 September 2014
Dia pengasih dan penyayang. Dia yang memenuhi segala harapan dan mengganti setiap yang hilang. Dia berkehendak atas segala yang ada tapi tak pernah menzhalimi hamba-hamba-Nya. Dia muara segala pinta, cita dan asa... Dia Yang Maha Esa... tak ada tandingan, tak ada sekutu yang disandingkan... seruan nama-Nya senantiasa berkumandang... Allahu akbar! Allahu Akbar! Allahu Akbar....!

30 September 2014
wahai diri... bukankah pintu-Nya senantiasa terbuka, sebelum regang nyawa yang entah kapan datangnya... apa masih akan menunda?

23 Oktober 2014
jangan bersedih,
karena kau pun punyai nilai lebih...

27 Oktober 2014
Jangan kecewa, kau tetap istimewa. Tak perlu risaukan strata, gelar di belakang nama atau kau anak siapa untuk berlomba dan mempersembahkan yang dipunya. Karena setiap ciptaan punya peran dan kesempatan yang sama di sisi Yang Maha

1 November 2014
Allah tahu yang terbersit di dalam hatimu. Lebih-lebih segala yang kau lakukan dan utarakan, Dia menyaksikan!

3 November 2014
Tidak selamanya, usia terbatas jumlahnya, pasti alami regang nyawa dan kembali pada-Nya. Sudahkah sedia?

15 November 2014
alhamdulillah... segala puji hanya milik-Mu! terima kasih wahai penguasa semesta atas karunia yang Engkau anugerahkan kepada hamba, meski butuh sekian masa akhirnya satu lagi anak tangga cita telah tertapak sempurna...
terima kasih wahai Yang Maha Besar, atas kesabaran, keteguhan dan kekuatan yang Engkau karuniakan hingga ku tak henti di tengah jalan, tak berpaling dari cita yang ingin kutuntaskan... terima kasih ... terima kasih wahai Ilahi ... telah memberi nikmat ini...

16 November 2014
Mengenalmu, membuatku belajar untuk tak memaksamu menjadi seperti inginku. Yang kulakukan, terus berusaha memahami dan bersabar melihatmu berkembang dengen segala minat yeng kau inginkan...

27 November 2014
Akan ada pilihan yang kadang membingungkan, ada kesenangan yang ditinggalkan, ada keinginan yg ditangguhkan dan ada hal yang dikorbankan! Ketika ada banyak goda, akankah bisa tuk tak palingkan mata dari cita?

===========================================================
Rangkai kata di atas merupakan kumpulan status dari akun FB “Tiada Nama (Ardhi el Mahmudi)

Saturday, October 29, 2016

Garis Manusia Tidak Sama

Kadang muncul angan-angan
kalaupun waktu bisa diulang
aku ingin menempuh jalan kalian
jikalau kubisa kembali ke masa silam
ku akan tetap ada dalam lingkaran
dan menyerap semua aura yang kalian tebar
jua menikmati setiap mili sentuhan di hati

Namun aku tak pernah tahu masa depan itu
atau esok hari yang kan kulalui
yang kumengerti hanya berusaha mencari
sesuatu yang lebih berarti
menuruti kata sanubari yang kurasa
baik bagi diri

Jikalau sekarang telah kusaksikan
keterbelakangan dan ketertinggalan yang kugenggam
dan hanya bisa memandangi kalian yang jauh di depan
Aku akan tetap sunggingkan senyuman
Meski terbersit kecewa karena
aku tak bisa membuat bangga
atau mendapat capaian
yang layak dipandang manusia
aku tetap berusaha bahagia

sebab tak setiap insan diberi kesempatan
untuk berjalan di atas keinginan
atau berlaku tanpa paksaan
dan tidak sekedar mengikuti arus kata orang

Jogja, 28 Oktober 2016. 22.50

Thursday, October 27, 2016

Menggenggam Cahaya (bag.1)

Menggenggam Cahaya 
~Bagian 1~


Dilema, sepertinya kata itu selalu lekat dalam kehidupannya. Layaknya menghadapi simalakama, buah legenda. Menunjukkan pilihan yang sama-sama membuat derita.Dimakan, bapak meninggal. Tidak dimakan, ibu yang nyawanya meregang.

Seperti kini yang sedang ia hadapi. Jika ia memilih bertahan maka akan ada hati-hati yang tersakiti dan akan ada sosok yang menanti dalam rentang masa yang tak pasti. Tapi jika ia meninggalkan apa yang sedang ia jalani, maka ia menjelma menjadi sosok durhaka yang tak memperhatikan keinginan orang tua.

Semua bermula saat ia pulang dari perantauannya mengejar gelar sarjana. Beberapa tahun yang lalu, ia berkumpul di ruang keluarga bersama dengan ayah dan bundanya. Awalnya mereka berbincang ringan, kemudian berlanjut pada hal-hal yang terasa dalam.

Seperti orang tua kebanyakan yang ingin tahu bahwa anaknya punya bayangan masa depan agar nanti keduanya tidak mengkhawatirkan dan bisa memberi dukungan pada anak tersayang. Hingga kelak sang anak punya kehidupan yang wajar dan layak.

Demikian pula dengan orang tuanya yang bertanya apa yang akan ia lakukan setelah ini. Ia pun coba utarakan apa yang ia inginkan. "Saya ingin konsentrasi merintis usaha dulu, menjadi pengusaha kemudian setelah itu menikah dan melanjutkan S2."katanya kala itu.  

Ia lihat ayah dan bundanya diam saja. Ia mengira diam mereka berarti menyetujui dan mendukung semua yang ia tuturkan. Tapi saat tuturannya berakhir tampak ayahnya menghela nafas pelan dan memperbaiki posisi duduknya. Gelagat yang sudah biasa ia lihat ketika beliau hendak memberi sebuah pendapat atau nasehat yang bertentangan dengan keinginan anak-anaknya.

"Nak..." kata ayahnya, sapaan halus itu membuatnya merasa ada sesuatu.
"Abah anggap kamu sudah besar, sudah dewasa. Lagi pula kamu sudah sarjana juga sudah berkeliling jawa, nyantri ke beberapa kyai. Kira-kira menurutmu, apa bekalmu sudah cukup untuk meneruskan perjuangan Abah?"
Dia diam, mencoba meraba kemana arah pembicaraan yang ayahnya inginkan.

"Memang setiap orang bisa menjadi apa saja, boleh apa saja. Abah juga tidak menghalangi anak-anak Abah bercita-cita, bercita-cita apa saja. Asal itu dalam kebaikan dan tidak bertentangan dengan ilmu-ilmu yang kamu dapatkan di pesantren-pesantren yang dulu pernah kamu tinggali."

"Boleh-boleh saja kamu jadi pengusaha, Abah dan Ummimu tetap mendukung tapi Abah dan Ummimu juga punya rencana dan keinginan, itu pun kalau kamu berkenan mengabulkan keinginan Abah dan Ummi."

Sejenak ruangan itu dalam keheningan, ia tak tahu hendak berkata apa. Yang ia tahu lebih baik diam dan mendengarkan semua tuturan yang disampaikan. Suasana ini tak seperti biasa yang ia rasa, tak akan dia bantah atau mengejar dengan berlusin kata tanya "kenapa". Karena sebelumnya tak pernah ayah dan ibundanya mengutarakan keinginan dengan cara seperti ini, seakan kali ini keduanya sedang memohon padanya.

"Abah dan Ummi sudah tua, sudah tidak sekuat dulu. Harapan Abah dan Ummi tinggal kamu. Masmu sudah diminta untuk membantu di pesantren mertuanya. Mbak-mbakmu juga sudah ikut suami mereka. Kalau bukan kamu siapa lagi yang akan menghidupkan tempat ini?"

Jelaslah kini apa yang dikehendaki orang tuanya. Mereka ingin dia tinggal dan meneruskan langkah perjuangan yang telah dirintis oleh leluhurnya. Sebuah pesantren warisan kakeknya telah menanti kiprahnya. Dia memang belum sempat berpikir ke arah sana tapi telah menjadi niatnya pula muara akhir nanti adalah kembali ke rumah, merawat kedua orang tuanya dan mengembangkan apa yang telah dirintis oleh keduanya.

"Insya Allah Abah, saya tetap akan pulang dan siap membantu mengembangkan pesantren."

Ayahnya tampak menganguk-anguk mendengar perkataannya. "Tapi saya hanya ingin mencoba bagaimana nanti bisa mandiri secara finansial sehingga tidak menggantungkan pemasukan dari gaji mengajar dari yayasan yang Abah dirikan atau dari proposal-proposal sumbangan, makanya saya ingin jadi pengusaha yang sukses. Sedangkan untuk gelar S2 itu juga tidak lepas dari perkembangan zaman. Pesantren kita kan sudah merambah ke pendidikan formal, jadi saya kira butuh cara-cara baru untuk mengembangkannya. Di samping juga orang zaman sekarang lebih melihat gelar pendidikan dari pada repot-repot meneliti keahlian seseorang yang tak punya titel di belakang namanya." Panjang lebar ia coba jelaskan tentang jalan pilihan yang hendak ia lalui.

"Begitu ya hmm, Abah paham. Tapi tiba-tiba Abah ingin sebelum Abah meninggal ada satu putera Abah yang hafal Al Qur’an. Abah ingin kelak bisa mendapat kiriman bacaan Al Qur’an dari anak Abah yang hafidz. Itu pun kalau kamu mau meluangkan waktu untuk nyantri lagi."

Kembali ia terdiam agak lama. Tak terpikir sebelumnya untuk menghafalkan kitab suci yang lumayan tebal itu meskipun ia tahu keutamaan-keutamaan dan hal-hal yang dijanjikan Tuhan bagi para penghafal al Qur’an. Apa lagi kalau dia harus pergi lagi dari rumah, kembali ke lingkungan baru yang asing, kembali ke bilik-bilik pesantren sedang sedari kecil dia tak pernah lepas dari lingkungan itu. Karenanya kadang dia merasa jenuh dan menginginkan hal baru, hal yang berbeda dan tidak melulu berjumpa dengan budaya kaum bersarung.

Selepas sekolah dasar hingga selesai Madrasah Aliyah ia sudah jauh dari rumah. Kuliah S1nya pun ia tunda demi mendalami agama di pesantren-pesantren tradisional yang masih menerapkan gaya klasik dalam mengajarkan kitab-kitab berbahasa arab. Maka dari itu di usianya yang ke 25 dia baru menselesaikan program sarjana. Kalau dia harus kembali ke pesantren lagi dan menjadi santri tentu beban mentalnya berbeda, lebih-lebih jika ia harus berkumpul dan belajar di kelas yang sama dengan santri yang jauh lebih muda darinya, tak terbayangkan bagaimana ia akan bersikap. Gengsinya tumbuh untuk memulai hal baru di tempat dan keadaan semacam itu.

Tapi di sisi lain dia juga tak ingin mengecewakan kedua orang tuanya. Sedari dulu keduanya selalu memenuhi pintanya. Orang tuanya juga tak pernah menyuruh sesuatu kecuali untuk kebaikan masa depan dirinya. Dan kini ketika mereka meminta satu hal padanya apakah bisa dikatakan berbakti jika ia tak memenuhi?

"Atau begini saja..." Ibundanya yang sedari tadi hanya mengikuti pembicaraan mulai urun suara. "Bagaimana jika rencanamu untuk merintis usaha ditunda sebentar, nanti setelah kamu menghafal Al Qur’an langsung menikah saja. Untuk urusan nafkah toh kita juga punya sawah yang ada bagianmu. Juga ada toko di pesantren yang nanti bisa dikembangkan bersama istrimu." lanjutnya.

"Begitu juga bagus." Ayahnya ikut menimpali
"Jadi kamu tidak perlu khawatir dengan urusan penghasilan selama kamu menghafal Al Qur’an, tapi Abah dan Ummimu tidak memaksa, semua keputusan ada padamu. Kalau kamu nyantri lagi, mau menghafal Al Qur’an dan jadi hafidz Abah seneng, Ummimu juga seneng. Tapi kalau tidak ya tidak apa-apa. Abah dan Ummimu tetep seneng, yang penting kamu jadi anak sholeh."

Abahnya tetap tersenyum saat mengatakan itu, tampak ketulusan disana. Tak memaksa, demi kebahagiaan sang putra. Hatinya terasa basah mendapati hal itu.
"Ah, betapa benar kata sebuah ungkapan, kasih orang tua sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah. Mereka merawat sang anak demi mengharap kehidupan, sedang sang anak merawat keduanya demi menanti kematian."

Dalam bimbang dan keraguan, antara menuruti keinginan kedua orang tua atau keinginannya sendiri ia coba menimbang segala kemungkinan. Seharusnya ia tak perlu ragu, bukankah tak selamanya dia bisa bersama kedua orang tuanya, kapan lagi ia bisa membuat keduanya bahagia. Jika di dunia tak ada lagi kesempatan dan tak ingin menyesal di hari depan karena tak sempat membahagiakan maka sekaranglah saatnya untuk sedikit membalas kebaikan yang telah ia terima. Tak ada ruginya dia mengikuti permintaan orang tua, lebih-lebih dia tahu yang diinginkan orang tuanya adalah kebaikan. Tak ada alasan untuk menolak dan mengelak, apa lagi jika hanya mengikuti keegoisan diri, jika demikian sungguh lakunya tak terpuji. 

"Bagaimana?" Tanya ibundanya meminta kepastian. Dan tanpa ragu ia pun menganguk patuh sembari berkata, "Iya, saya akan melakukannya."

============================
Kudus, Agustus 2015
Bersambung.....

Friday, May 1, 2015

Serpih Kata di Sela Masa 13

14 Agustus 2013
Wahai para tentara yang mengumbar kedurjanaan di bumi Musa menjadi utusan, apa yang akan kau katakan jika Dia menanyakan peluru-peluru yang kau tembakkan? Ribuan orang terluka, ratusan lebih meregang nyawa, ini bukan pembubaran demi ketertiban, ini pembantaian! Dan sungguh Dia tak akan pernah melupakan hamba-hamba-Nya yang teraniaya... hasbunallah wa ni'mal wakil, ni'mal maula wa ni'man nashiir...

(mengenang pembantaian Rabiah)

14 Agustus 2013
Innalillah... 2000 orang dalam 8 jam! Bukan oleh bencana alam namun oleh peluru yang ditembakkan. Keji dan biadab tak cukup mewakili untuk menyebut peristiwa ini... Rabb Engkau lebih tahu derita dan aniaya yang ada... Hanya pada-Mu kami kini mengadukan kekejian dan kebiadaban yang menimpa para ikhwan di bumi Nil dialirkan... Engkaulah sebaik-baik pemberi balasan. (mengenang pembantaian Rabiah)

5 September 2013
Sabar menunggu tuk kembali ke masa itu....
Dengan segala potensi yang dipunyai tuk memperjuangkan apa yang telah diyakini...

27 September 2013
Wahai diri... sesalan, mohon ampunan dan tekad tak akan mengulang hanya akan tersia di hadapan-Nya jika tak ada maaf dari yang kau lukai hatinya...

24 Oktober 2013
Wahai diri, jika kau dapati sesuatu seakan mustahil, namun atas izin-Nya tak akan ada yang tak mungkin. Pertolongan dari-Nya akan datang berbanding dengan seberapa kuat tekad dan niat di hati yang tertambat....

24 Oktober 2013
Jika kau tak mengerti, kadang diam lebih berarti ...

27 Oktober 2013
Keoptimisan dan keyakinan bahwa pertolongan dari Yang Maha Besar akan datang, pupuk kembali! Hingga bisa tumbuhkan semangat dan harapan, hingga hasrat yang tak bermanfaat hilang tertimbun keinginan demi keridhoan.

29 Oktober 2013
Ada hal yang tak kau senangi,namun tak bisa dihindari. Ia harus dihadapi, kesulitan demi kesulitan, benturan demi benturan. Pasti ada hikmah yang tersimpan, ada kebaikan di balik kepahitan. Wahai diri, di dalam hati yang kau miliki adakah keyakinan yang demikian telah tertanam?

30 Oktober 2013
Mencoba mengingat-ingat nikmat yang masih terus lekat agar tak ada lagi hujat atas satu dua peristiwa yang menekan dan dirasa berat

31 Oktober 2013
Buat apa kau bandingkan capaian dengan orang-orang sekitar tanpa berusaha mengejar? Teruslah berusaha menjalani semua dengan senyuman dan tak henti memupuk harapan bahwa esok pasti akan ada jalan...

31 Oktober 2013
Inginku menahan diri untuk tak memulai cakap agar tak ada lagi cacat dalam sikap. Kuberharap kudapat menjaga adab hingga bisa menyusul para pemikul amanah yang tak pernah lelah menjalankan perintah demi ridho sang Ilah....

1 November 2013
Bukankah tujuanmu kehidupan setelah kematian? Bukankah akhir dari perjalanan adalah demi keridhoan? Bukankah semua yang kau lakukan kini untuk kemulian di sisi yang Maha Besar? Maka kenapa risau dengan pandangan sebelah mata manusia? Cukuplah jika Dia tak menjadikan segala amal hilang tak tersisa dan tak menjadikan sia-sia di sisi-Nya...

3 November 2013
Saat tujuanmu masih sama, saat harap yang kau punya masih ada, dan kakimu masih menapak di jalan yang kau yakini kebenarannya. Tak usah risau akan usia yang kian tua yakin saja Ia tak kecewakan hamba-hamba yang terus berusaha...

4 November 2013
Angan yang menari-nari, ingin yang menjadi-jadi, hasrat yang selalu mendatangi, jika memang bermanfaat bagi diri dan umat yang besar ini, juga diyakini akan memberi keuntungan di akhirat nanti, ia akan menjadi terpuji jika berusaha digapai meski beresiko mati....

6 November 2013
Siapa pula yang tak ingin bersegera, namun memang kadang kenyataan yang ada tak sesuai dengan rencana semula, nikmati saja prosesnya, hasil akhir ada di tangan-Nya. Tugas kita hanya berusaha dengan segala daya yang dipunya...

7 November 2013
Seringkali kata dengan bahasa sederhana lebih mengena, seringkali kata dengan bahasa yang tak begitu tinggi lebih bisa merasuki hati dan mengilhami...

7 November 2013
Kenali diri! Letakkan pada tempat yang selayaknya kau tempati. Tahu kadar yang dimiliki bahwa kau hamba Ilahi...

8 November 2013
Wahai Allah, Engkau tuhanku, penciptaku. Yang maha satu, kuasa atas segala sesuatu. Hanya pada-Mu sepantasnya kutertuju...

9 November 2013
Takkah ada kekhawatiran akan akhir dalam ketragisan, karena segala amal tak murni dikerjakan demi keridhoan? Karena hati tak juga rela atas segala keputusan yang Maha Besar? Wahai diri, tak kah kau sadari bagaimana nasib akhirmu nanti? Akankah dalam kemuliaan atau dalam lingkar kemurkaan?

9 November 2013
Jika tak sehati maka hanya akan menjadi duri. Ini bukan demi pribadi, tapi generasi dan sesuatu yg diyakini. Jika pasangan tak sepaham, jika berbeda pandang, dan bersimpang jalan, bagaimana kan tercapai tujuan....

10 November 2013
Bayangnya ingin kau lupa? Engkau bisa! Karena mengingatnya hanya timbulkan hal sia-sia. Tak usah bebani diri dengan terikat pada tradisi jahili yang sebenarnya jauh dari nilai-nilai yang kau yakini. Nanti jika saatnya tiba, penguasa semesta pasti akan memberi yang lebih menenangkan hati...

11 November 2013
Ampuni aku karena ada bersit kekecewaan atas keinginan yang tak kudapatkan. Ampuni aku karena ada rasa tidak terima saat yang di depan mata tak sesuai dengan yang kupinta. Ampuni aku karena ada rambah marah saat doa-doa tak juga diijabah. Ampuni aku wahai Rabbku...

11 November 2013
Tak ada waktu untuk menyesal atas pilihan yang telah diputuskan. Yang ada kini hanya terus menatap ke depan dan bagaimana cara mengejar ketertinggalan!

12 November 2013
Wahai diri, saat kau disapa coba apakah kau ingin semua menjadi sia-sia? Betapa ruginya, berlelah merasakan macam derita yg tak diminta, kemudian berakhir dalam murka, di akhirat masih mendapat siksa... karena kesabaran yang tak dipunya dan sikap rela yang tak ada...

13 November 2013
Ketika dalam berbagai hal seakan tak ada tempat lapang dan memuaskan. Kesyukuran yang tak dipunyai, mungkin itu yang membuat tak ada kepuasan hati...

14 November 2013
Saat rasa menerima atas benturan dan cobaan belum bisa merasuk dengan dalam, kemudian hanya ada keluhan berkelanjutan, akankah bisa menuai pujian di hadapan Yang Maha Besar?

15 November 2013
Duh keimanan ini, rasa penghambaan ini, kuharap tak jadi sirna... Wahai Allah, mohonku untuk Kau berkenan memelihara...

16 November 2013
Wahai Rabb, jangan jadikan aku ingkar karena keinginan yang tak Kau berikan. Sadarkan diriku, tumbuhkan dalam hatiku ridho atas putusan-Mu dan munculkan keyakinan bahwa Kau senantiasa memberikan kebaikan meski berbeda dengan yang kuinginkan...

16 November 2013
Ada ketakutan, jika benturan-benturan menjadikan keimanan hilang dan marah pada pencipta alam. Kita ini siapa pula, yang berani menentang penciptanya. Betapa tak beradab dan memiliki kebodohan berlipat. Wahai diri, Dialah yang maha berkehendak, maka hanya sabar dan ridho atas putusan-Nya untuk terhindar dari laknat...

18 November 2013
Wahai diri, jika sesuatu tidak seperti yang diingini, itu hal biasa yang terjadi. Bahwa setiap peristiwa tak selalu seperti yang dikehendaki. Kau risau dengan hal itu? Manusiawi. Tapi Ia yang menciptakan kehidupan dan mengatur semesta alam tahu apa yang kau butuhkan....

19 November 2013
Kuingat kembali pesannya pada diri, "Disini kamu bukan untuk mencari istri! Tapi ilmu demi ridho Ilahi, demi kemuliaan setelah mati!"

21 November 2013
Memang tak selalu seperti keinginan namun bukankah kau pun tidak kekurangan? Ini hanya masalah penyikapan dan sudut pandang akan setiap kejadian yang ditimpakan...

22 November 2013
Saat benturan demi benturan ia dapatkan, kekecewaan demi kekecewaan hadir tanpa diundang. Yang ia harapkan adalah anugerah kesabaran. "Biarkan kutersenyum wahai Tuhan dengan senyum ketulusan, senyum yang menunjukkan bahwa aku ridho pada segala putusan yang telah Engkau tetapkan. "

25 November 2013
Kenapa pula tak juga kau lupakan? Selalu beralasan ia terlanjur ada dalam pikiran. Bukankah kau ingin rasakan hati tanpa beban? Bukankah ada cita-cita yang lebih besar yang lebih berarti untuk dikejar? Takkah kau segera sadar?

26 November 2013
Wahai diri, jangan ikat benak dan dirimu, kau bebas dalam menentukan pilihan. Jangan pula kau buang usia dengan memperhatikan satu sosok yang belum memberi kejelasan, yang hanya akan menjadikanmu layaknya mainan...

28 November 2013
Wahai diri, jangan... jangan terpaku padanya! akan tersia masa jika kau putuskan menantinya. Karena ada banyak manusia di luar sana, yang mungkin akan lebih bisa menerima, lebih tulus mencinta, dan lebih bisa memberi perhatian yang tak biasa...

28 November 2013
Saat pikiranmu buntu, mungkin saja karena lakumu jauh dari tuntunan yang Maha Satu, hingga ilmu tak layak bertempat di kalbu yang penuh dengan hal-hal tabu. Jika kau terus begitu, wajar kalau kau selalu dalam lingkar dungu...

1 Desember 2013
Jika kau terlalu terpaku pada masa lalu kau tak akan pernah maju. Jika kau terlalu berlebihan mengangankan masa depan kau pun akan tenggelam dalam khayal.

13 Desember 2013
Memang bukan mutlak karena anak pinak dan harta benda kemuliaan akan dipunya. Namun tak disangkal pula jika keduanya dalam kuasa membuat agama akan lebih terjaga dan harga diri tak mudah terbeli...

===========================================================
Rangkai kata di atas merupakan kumpulan status dari akun FB “Tiada Nama (Ardhi el Mahmudi)

Sunday, August 17, 2014

Wahai yang maha, aku hanya manusia biasa.

Ia bayangkan masa depan, terbayang kesuraman. Terbersit dalam hati sebuah ucapan, "Apakah ku kan mampu menjalani kehidupan di hadapan?"

Hanya bisa berusaha yakin atas pertolongan-Nya, bahwa Sang Pencipta tak akan mensia-siakan hamba-Nya. Ia rasakan tak ada kebaikan yang bisa dijadikan nilai tawar, hanya bisa berharap belas kasihan dari yang Maha Besar.

Dalam kesendirian dan kesunyian ia pernah tuliskan harapan yang ia tujukan pada penguasa alam.

 "Wahai Rabb, Engkau tahu aku kesulitan dalam mengungkapkan dengan lisan maka kumengadu dalam bentuk tulisan. Berharap Engkau meringankan dan menghilangkan beban yang kusandang."

"Maafkan aku wahai Rabbku, bila yang kusampaikan hanyalah keluhan atas keadaan yang kurasakan. Semoga Engkau tak murka, kemudian memberi yang kuminta namun Kau pandang aku tiada nilainya karena tak sabar atas coba yang menimpa."

"Aku takut jika kumeminta apa yang kuinginkan, Engkau akan memandang dengan pandangan hina karena kumengharapkan nilai-nilai dunia."

"Aku hanya manusia biasa yang juga menginginkan harta. Harta yang bisa kunafkahkan kepada keluarga dan kuberikan pada sesama  hingga kutak menjadi peminta-minta di hadapan manusia."

"Aku hanya manusia biasa yang ingin dipandang seperti orang kebanyakan, yang memiliki pekerjaan dan penghasilan. Hingga tak dinilai sebelah mata karena berpangku tangan atau karena terkesan menjual agama demi sesuap makanan."

"Aku tetaplah manusia biasa yang juga inginkan istri jelita dan anak-anak sebagai penyejuk mata. Yang bisa menjadi hiburan dan kesenangan dalam mengharungi kehidupan."

"Maafkan jika ku tak sopan dalam menyampaikan permintaan, maafkan aku jika ku tak beradab dalam berdoa dan terlalu memaksa. Maafkan hamba, dan harapku janganlah Engkau murka. Jika Engkau murka, kepada siapa lagi kan kugantungkan asa?"

"Wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang. Wahai yang memiliki 99 nama penuh kebaikan, kepada siapa lagi kan kuadukan segala kesedihan dan kesusahan selain kepada-Mu wahai pemilik seluruh alam?"


Jogja, Oktober 2016

Saturday, May 11, 2013

Serpih Kata di Sela Masa 12

19 Juni 2012
Duhai hatiku yang penuh noda hitam. Wahai amal-amalku yang penuh cacat tambal sulam. Duhai harta yang dianugerahkan kemana saja kubelanjakan. Wahai anggota badanku yang entah untuk apa saja kugunakan. Apa akan selamat di saat nyawa dalam regang... apa akan selamat di kala hari perhitungan. Wahai Yang Maha Besar, wahai pemilik semesta alam... ampunan... ampunan... ampunan-Mu kubutuhkan...

20 Juni 2012
Lihat fungsi bukan demi gengsi...
Lihat kebutuhan bukan menuruti keinginan...
Karena kesederhanaan lebih menyelamatkan, karena kemewahan seringkali menjerumuskan. Harta yang abadi bukan yang dibelikan dalam wujud barang tanpa kemanfaatan, namun yang dbelanjakan demi keridhoan Yang Maha Besar dan demi kejayaan islam...

11 Agustus 2012
Aduhai... untuk apa kau bicarakan aib mereka? apa kau hendak rusak pahala puasa dengan berbuka daging manusia..?

18 Agustus 2012
Berkabung... berkabung atas perginya tamu agung. Tak ada lagi pahala berlipat dan setan-setan pun tak lagi terikat. Bagaimana kan gembira jika tak dirasa taqwa di dada setelah sebulan berpuasa? Betapa merana jika hanya dapatkan lapar dahaga tanpa pahala, tanpa penghapusan dosa, tanpa amal-amal yang diterima...
Taqoballahu minnaa wa minkum...
semoga sebelas bulan ke depan kita bisa bertahan dalam ketaatan setelah berlatih selama Ramadhan... Selamat Hari Raya Idul Fitri 1433 H...

23 Agustus 2012
di hari itu... apakah ku kan bisa menjawab segala tanya tentang apa-apa yang telah terlaksana?
di hari itu... apakah kubisa pertanggungjawabkan amanah kehidupan yang dianugerahkan?
di hari itu... akankah aku bisa selamat dengan segala apa yang telah kuperbuat?

23 Oktober 2012
Engkau yang sedang larut dalam kepiluan hingga seakan terasa tak ada sesuatu yang bisa menggembirakan. bukankah nafas itu masih memenuhi rongga paru? Bukankah panca indra itu masih berfungsi layaknya dahulu? Berpikirlah akan nikmat-nikmat yang senantiasa lekat, agar syukurmu pada Yang Maha tak ikut lenyap...

24 Oktober 2012
Tolong wahai pencipta langit dan bumi redagan gejolak di hati ini. sungguh tak pantas benar jika sesama muslim memelihara benci dan dengki, rasa ini tak kusukai, rasa yang menyiksa diri. Menunjukkanku tak miliki kelapangan hati dan seakan tak ridho atas segenap putusan-Mu duhai ilahi. Tolong biarkan cinta ini bersemi pada segenap pencinta-Mu dan para pencinta Nabi

25 Oktober 2012
Saat kurasa hidup hanya akan menambah dosa dan kematian hanya akan mempercepat siksa. Kemana kan kulangkahkan kaki mencari asa? Hanya pada-Nya, hanya pada-Nya sebelum nyawa tercekat di kerongkongan Ia senantiasa melimpahkan rahmat dan nikmat yang bisa diharap...

26 Oktober 2012
Ratapku hanya pada-Mu, karena hanya kaulah yang kuasa atas segala sesuatu. Hamba akhir zaman ini yang hanya miliki secuil keimanan di hati mengharap belai kasih-Mu. Tolong, jangan bebani dengan hal yang membuatku ingkar akan kenikmatan yang telah Kau anugerahkan. Jangan beri cobaan yang menjadikan amarah atas segala ketentuan yang Kau putuskan. Duhai Rabbku kasihani daku, pada siapa lagi kujadikan hati terpaut kecuali pada-Mu wahai Yang Maha Lembut.

27 Oktober 2012
Mereka bilang kehidupan hanya menunda kekalahan? Bagaimana mungkin demikian, bahkan setelah akhir kehidupan ada pembalasan. Kekalahan atau kemenangan setelah kematian akan tampak nyata sebanding dengan tingkah laku manusia selama ia rasakan detak jantung di dada saat berada di alam fana....

28 Oktober 2012
Duhai diri, Cobalah bertahan, teruslah bersabar atas kepahitan. Sampingkan hasrat-hasrat yang kau inginkan yang tak berhubungan dengan tujuan, demi menyelesaikan harapan yang ingin kau genggam. Tak kah kau ingat pesan Thariq bin Ziyad di Gibraltar setelah ia bakar kapal para pasukan, "Jika kalian bersabar sedikit menghadapi kesulitan, niscaya kalian akan bersenang-senang dengan kenikmatan dalam waktu yang panjang."

29 Oktober 2012
wahai diri kenapa juga masih saja dari tenaga sisa kau berikan pengabdian pada-Nya? Sarat kekurangan cacat-cacat dlm peribadatan dan kau masih bisa tertawa penuh kesenangan. Apa yang kau tertawakan? atas hal apa kau sunggingkan senyuman? atas kemaksiatan yang berulang? atas kesia-siaan yang terus saja dilakukan? bagaimana kan gembira jika pengabdianmu tiada nilainya? Duhai diri apa kau tak malu dengan tingkahmu itu?

30 Oktober 2012
Wahai diri, kebaikan sikap yang kau dapat bukan sekedar usaha mandiri atau pun datang atas kekuatan sendiri. Apakah kau lupa akan peran-Nya? Bisa saja ia cabut segalanya. Ketaatan, kepatuhan, prinsip-prinsip kebaikan, bahkan keimanan dan keislaman. Bisa jadi Ia beri cobaan yang demikian dan menenggelamkanmu dlm keingkaran. Sungguh kita tak kuasa atas segala yang kita punya. Semua tak lepas dari anugerah dan kasih-Nya. wahai diri apa kau masih hendak busungkan dada di hadapan kekuasaan-Nya?

31 Oktober 2012
Maka tak sepantasnya kupandang rendah orang-orang yang melakukan keburukan atau orang yang di mataku jauh dari kebaikan. Karena bisa jadi derajat mereka melampaui diri ini di sisi Ilahi suatu saat nanti. Lihat saja diri sendiri dengan keburukan-keburukan yang masih lekat, amal-amal penuh cacat, pengabdian dengan bercabang-cabang niat. yah, jalan panjang perbaikan diri, masih banyak yang harus dibenahi...

1 November 2012
Wahai diri, tetaplah berhusnudzon! Husnudzon, setelah kejatuhan yang berulang. Husnudzon setelah kegagalan demi kegagalan. Husnudzon, setelah segala harap dan keinginan tak juga dalam genggam. Husnudzon, bahwa yang diterima adalah yang terbaik yang dipilihkan oleh Rabb Penguasa Alam. Husnudzon, bahwa Ia tak pernah melupakan hamba-Nya yang beriman. Husnudzon, bahwa ada akhir yang indah setelah semua kesuraman dan kepahitan...

2 November 2012
Saat sekali lagi hati terpaut, tentunya ada kerinduan dan keinginan yang merajam. Namun jika hanya sekedar akan timbulkan sakit yang terulang maka sepantasnya gejolak hati itu diredam, ditahan agar tak terlalu dalam merasakan getar yang hanya akan berakhir dengan rasa kecewa dan penyesalan. Wahai diri apakah kan kau ulang kesalahan yang sempat membuat hati pekat penuh karat?

3 November 2012
Allahumma....
wahai Yang Maha Kuasa
duhai Yang Memiliki alam semesta
Anugerahkan kesabaran dalam dada atas segala coba, atas segala pahit dan sakit yang melanda.
Dan jadikanku senantiasa bersyukur dengan apa-apa yang masih ada. Jangan masukkanku dalam golongan ingkar hanya karena cobaan dan satu dua nikmat yang hilang... Allahummaj'alnii minasy syakiriin waj'alnii minash shobiriin...

6 November 2012
Kuputar lagi, kuulangi lagi, berkali-kali. Hingga mata berkaca, hingga rasa satu jiwa muncul seperti sedia kala, hingga gemuruh hati dipenuhi rasa tuk kembali peduli. Maafkan aku saudaraku, maafkan aku yang larut dalam lena dengan kepedihan semu yang tak ada nilainya! Sungguh, sakitmu lebih pedih dari yang kurasa.
Betapa ku tak tahu malu saat hari-hariku dlm rintihan karena sedikit benturan. Tak seperti benturan yang kalian rasakan, tak sebanding dengan luka yang kalian dapatkan. Bertahun dalam pendudukan, penjajahan dan tertimpa kedzoliman kalian tetap bertahan penuh kesabaran. Hanya doa yang bisa kupanjatkan....
Wahai Rabb anugerahkan kemenangan dan kembalikan Al Quds dalam pangkuan Islam...

8 November 2012
Wahai diri...
Apa mungkin kau bisa menggapai tujuan jika semangatmu kian memudar? Apa mungkin kau kejar ketertinggalan jika hari-harimu diisi dengan penundaan demi penundaan tanpa ada kesungguhan? Tentu saja tidak akan!
Wahai diri, ini saat beramal bukan berangan. ini saat berbuat bukan berdebat. Tinggalkan keraguanmu dan segeralah melaju...

9 November 2012
Ujub tanpa wujud. merasuk menusuk membuat hati membusuk...
Duhai diri tak kah kau waspadai rasa bangga diri yang kan membuatmu rugi di akhirat nanti?

16 November 2012
Wahai umat yang mengikrarkan dua kalimat syahadat, yang mengakui kenabian Muhammad, yang menjadikan Ka'bah sebagai kiblat! Bukankah kita bersaudara? bukankah kita ini satu raga? Saat ada luka tak kah kau juga rasa? Wahai umat yang mendunia! Doa! Doa! untuk Gaza! untuk Syria! untuk Rohingya! untuk semua bumi muslim yang teraniaya!

29 November 2012
Butuh ide-ide kreatif untuk mengubah sesuatu yang sepintas hanya membuat kotor dan memakan tempat menjadi sesuatu yang bermanfaat...
Kadang hal sederhana akan lebih mengena dan bisa langsung dirasa manfaatnya....

30 November 2012
Ada banyak hal yang tidak disangka, tak sedikit alur yang ada tak sesuai dengan rencana, esok hari adalah sebuah misteri. Mencoba meyakini bahwa setiap yang terjadi itulah yang terbaik bagi diri...

29 Januari 2013
Cinta itu ada yang hadir tanpa diminta. Ada yang tumbuh karena sering berjumpa. Ada juga yang harus dipaksa...

24 Maret 2013
Bukan dengan akal dan tenaga sisa-sisa, namun sepenuh jiwa....

26 Maret 2013
Dalam salah satu cabang kemunafikan... dalam salah satu cabang kemunafikan...
akankah kerak neraka yang akan menjadi bagian... Allahumma ajirnaa minannar..

===========================================================
Rangkai kata di atas merupakan kumpulan status dari akun FB "Tiada Nama (Ardhi el Mahmudi)"

Sunday, March 17, 2013

Tebaran Nama-Nama


Oleh: Ardhi El Mahmudi




Ruangan ini senyap, hanya ada suara tuts keyboard yang kutekan bergantian. Kadang terdengar suaraku sendiri, berdehem atau iseng-iseng bersiul membunuh bosan.

Sesekali juga dengan suara agak keras aku mengeja satu persatu tulisan nama-nama kemudian mengetikkannya.

 “Abdullah Badi’.”

“Abdul Basith.”

“Abdul Hadziq.”

“Abdul Mu'thi Irhamna.”

“Adib Al Mahzumi.”

“Ahdaf Allawi.”

“Ahmad Muhajir.“

“Ahmad Shoby Amnan.”

“Ali Asyhadi.”

“Ali Rofi'i Al-Halimy.”

“Alzim Shobri.”

“Amirul Hadi.”

 

Nama-nama ini sedikit asing di lisan dan telingaku. Baru kali ini aku membaca nama dengan bau arab semua.

 “Aniq Fanani.”

“Aniq Najibullah.”

Asif Sifaus Shobari.“

“Asyroful Khotim.”

“Attabik Huda.”

“Azhar Nadhif.”

“Badruz Zaman.”

“Barqillah Romadhoni.”

“Dliyaur Rahman.”

“Dzul Kifli Amka.”

“Faiq Syafi’uddin.”

“Faizud Daroini.”

 

Daftar nama ini harus selesai hari ini. Sebenarnya memang bukan bagianku menjadi juru ketik. Lebih-lebih aku orang baru di tempat ini. Tapi di pesantren tradisional seperti disini memang tidak banyak yang bisa lancar mengoperasikan komputer.

Dan semalam, seorang ustadz datang ke asrama menemuiku kemudian bertanya, “Bisa komputer?”

Maka disinilah aku sekarang, mengeja nama satu-satu dan mengetikkannya.

 “Fathul Hanan.”

“Faza Ersyada.”

“Fitroh Saifuddin.”

“Fuad Zain.”

“Ghulam Ubaidillah.”

“Hadi Irfani.”

“Haris Taufiqul Kamal.”

“Harisun Alaikum.”

“Hatim Hulwi.”

“Hizbullah Huda.”

“Husna Mahtida.”

“Husni Muaffa.”

“Idrus Al Mutawashlih.”

 

Mataku berpindah-pindah antara tulisan tangan di lembaran dengan hasil ketikan di layar monitor. Aku berhenti sejenak, kugerakkan badan dan pinggang, berharap bisa menghilangkan rasa pegal. Kulirik lembaran-lembaran itu. “Hmm, masih ada banyak nama.” Batinku. Memang tak bisa berhenti lama-lama. Dan jariku kembali bekerja.

 “Iqbal Salahudin Abdul Khobir.”

“Iqbal Tazakka.”

“Irfanul Mawahib.”

“Jauhar Maknun.”

“Jihaduddin Akbar Auladi.”

“Jundan Furqoni.”

“Kanzul Ghina.”

“Kafil Aziz.”

“Khirzi Ya Maulana Nur Muhammad.”

“Khoironi Al Kafi.”

“Khoirul Anam.”

 

Apa arti nama-nama ini? Pertanyaan itu terbersit begitu saja. Tentu saja aku tak paham sama sekali. Otak milikku yang binaan sekolah umum tak bisa mencerna kata-kata bahasa Arab, masih terlalu asing. Hitungan pekan di tempat ini belum bisa membuatku mengerti. Maka aku hanya bisa mengeja tanpa tahu apa-apa.

 “Khoirul Anshori.”

“Khoirun Na’im.”

“Kholilurrohman.”

“Luthfi Hakim.”

Mahrus Fauzi.”

Mahzum Idris.”

Miftah Farid Anis Muzayyan.”

Mizwar Shofa.”

Mu’affif Ubaidillah.”

Muayyad Najih.”

“Mufidh Raudhoh.”

“Mufidul Anam.”

“Muhammad Nabilul Umam.”

Muhibbi Ja’far.”

 

Bagiku kini, membaca nama-nama ini serasa sedang melantunkan dzikir atau menyanyikan syair-syair arab. Sama-sama tak tahu artinya tapi aku menikmatinya.

Multazam.”

Muzakki Labib.”

Nafi’uddin Abid.”

Nukman Azzizi.”

Nur Adib.”

“Nurul Ahsin.”

Nur Wahid Syamsuri.”

Roji Fadlan.”

“Romza Jayyida.”

“Saiful  Arifuddin.”

“Saiful Bahri.”

“Sholah Muqoddam.”

“Sulthon Jamil.”

“Suhartono.”

 

Kali ini aku berhenti lagi. Agak lama, kupandangi nama yang terakhir kuketikkan. “Suhartono.” betapa jauh berbeda dengan nama-nama sebelumnya. Aku tersenyum kecut, saat melihat nama itu. Itu namaku sendiri. Sebuah nama jawa yang aku sendiri tak begitu paham maknanya.

Dulu ketika usiaku masih belasan, aku begitu bangga menyandang nama itu. Cuping hidungku pun sering kembang kempis dengan senyum lebar di bibir ketika ada yang memanggilku “Pak Harto!” Pikirku saat itu, kapan lagi bisa disamakan dengan presiden yang dijuluki bapak pembangunan. Nama “Harto.” serasa begitu istimewa, apa lagi bila ada pemutaran film Janur Kuning atau G30/S/PKI. Tampak disana peran pak Harto di tonjolkan, aku yang punya nama mirip ikut kecipratan populer.

Tapi setelah reformasi 1998, aku lebih suka mengenalkan diri dengan menyebut potongan nama belakangku, “Tono.” Tentu saja nama “Harto” tetap populer namun tak bisa lagi dibanggakan seperti ketika usiaku masih belasan. Pasti pikiran orang langsung ke hal berbau KKN jika disebut nama itu. Dan setelah beliau mangkat, nama itu tak lagi sepopuler dulu. Ah, masa lalu. Kuputus kenangan di benakku dengan kembali mengetikkan nama-nama.

“Syafawi Irsyad.”

“Syafiq Naufal.”

“Syafrul Umam.”

“Syahril M. Noor.”

Syauqi Nur Affandi.”

Ulil A’la.”

Ulil Aidi.”

Waqos Affan.”

 

Sebuah tepukan di bahuku membuatku menoleh. Sosok yang menemuiku semalam berdiri di sampingku. “Sudah selesai?” tanyanya. “Tinggal sedikit lagi tadz.” Jawabku.

“Kalau sudah selesai, tolong ya, ini ada lagi. Daftar nama santriwati.” Katanya sembari mengangsurkan lembar-lembar kertas ke arahku. Aku menerimanya dan membaca daftar nama-nama itu. Lagi-lagi nama yang asing di lisanku.

“Wahidatur Rohmah.”

“Aizzatin Nisaa.”

“Nur ainun Nadhiroh.”

“Nailil Mafazah.”

“Iklilatun Nafi’ah.”

“Inayatul Khariyah.”

“Fitrotul Laili.”

“Irsalina Rohmah.”

“Rizul Wasithoh.”

“Nila Miftahun Ni’mah.”

“Wardatul Luthfiyah.”

“Nur Lathifah Ulya.”

 

Aku tersenyum.

“Ada apa kok senyum-senyum sendiri?” tegur ustadz. “Apa ada nama yang kamu kenal?” lanjutnya seperti menyelidik. Aku menggeleng. “Tidak tadz, Cuma senang saja membaca nama-nama ini, bagus-bagus, terdengar unik. Meski asing di lisan dan tak tahu artinya.”

Ustadz tertawa kecil.

“Memberi nama yang indah itu salah satu kewajiban orang tua pada anak. Nama juga bisa jadi cerminan harapan orang tua atas anaknya. Nama itu doa.”

Aku menganguk-anguk mendengar penuturan itu. Kulanjutkan membaca daftar nama di tanganku.

“Aniqotuz Zahro.”

“Anis Fatur Rofi’ah.”

“Faiqotul Isnaini.”

“Inna ‘Azimatul Musa’adah.”

“Khiyarotun Nisaa.”

“Nailil Mafazah.”

“Siti Khulafiyah.”

“Husnus Sa’adah.”

“Alfian Na’im.”

“Sa’idatun Mubayyanah.”

 

Aku merasakan kejanggalan saat membaca daftar ini.

“Ainun Sakinah.”

“Dhuhurus Sa’adah.”

“Kuni Farichah.”

“Nia Uswatun Nuha.”

“Sitta Umdatul Millati.”

“Uyun Nashihah.”

“Tazyinatul Millah.”

“Laya Liyana Mahla.”

“Himmatul Ulya.”

 

“Maaf tadz, ini belum urut abjad ya? Atau memang sengaja tidak diurutkan?” Tanyaku memastikan kejanggalan yang kurasakan.

“Oh iya, itu belum urut. Sini tak benarkan dulu urutannya, biar kamu tidak kerja dua kali.” Jawabnya sambil mengambil lembaran kertas dari tanganku. Dan aku pun kembali ke pekerjaanku yang tertunda, mengetikkan nama-nama.

Yazid Syahri.”

Yusrul Ula.”

“Za’imul In’am.”

Zainun Naja.”

Ziaurrohman.”

“Zidni Nafi'.”

 

Adzan dhuhur berkumandang tepat saat kuketikkan nama terakhir dari lembaran, “Tinggal nama-nama perempuan.” Batinku.

“Dilanjutkan nanti malam saja. Kamu istirahat saja dulu.” Kata-kata itu melegakanku, “Istirahat saja dulu.”

Aku menganguk, sembari mengarahkan krusor ke ikon start, menekan mouse, memilih menu shutdown, beberapa kali klik dan monitor di depanku pun berubah warna.

“Ke masjid?” Suara ustadz lagi, pertanyaan yang lebih terkesan ajakan. Aku kembali menganguk dan mengikuti langkah-langkah kakinya.

 

***


“Disuruh apa sama ustadz? Kok lama?” Pertanyaan Ali menyambutku saat aku memasuki kamar asrama. “Ngetik daftar absen.” Jawabku. Dia ber “o” panjang, dan kembali menekuni koran terbitan kemarin yang dibaca bersama dua orang santri.

Kulepas peci hitam yang melekat di kepalaku sejak pagi tadi. “Nama santri disini bagus-bagus ya? Unik. Sayang aku tidak paham semua artinya.” Kataku sambil duduk di samping mereka. Kudengar tawa kecil mereka. “Beda jauh dengan namaku yang jawa banget.” Lanjutku. “Ganti nama saja Ton.” Kali ini suara Fuad menimpali. “Iya Mas, minta sama Kyai biar dicarikan nama baru.” Kata Multazam, ikut nimbrung.

“Memangnya bisa?” tanyaku.

“Bisa, santri sini kan ada yang ganti nama juga. Dulu ada yang namanya Iwan, diganti dengan Ridwan. Pak Har alias Ustadz Azhar, dulu namanya Haryanto. Mas Ahdaf dulu juga namanya Dwi. Semua nama yang ngasih pak Kyai.”

Aku menganguk-anguk mendengar tuturan mereka.

“Lagi pula, kalau namamu tidak diganti malah lucu, aneh.”

“Kok bisa?”tanyaku.

“Terang saja aneh, kalau kamu jadi ustadz atau malah jadi Kyai, manggilnya gimana? Ustadz Tono gitu? Atau Kyai Tono? Atau malah Kyai Harto? Emangnya pantes?”

Aku tersenyum kecut dan mereka tergelak.

“Kalau Ustadz Fuad atau Kyai Ali, itu baru cocok.” Dan lagi-lagi gelak tawa mereka terdengar.

“Kyai Tono? Ustadz Harto? Memang kedengarannya tidak pantas.” Batinku. Aku pun beranjak dari dudukku sebelum tawa mereka berhenti.

“Lho? Mau kemana Ton? Gitu aja ngambek.” Seru salah satu dari mereka saat melihatku meninggalkan ruangan.

“Siapa yang ngambek? Mau ke wartel, telpon rumah.” Jawabku sambil berlalu.

 

***


Kubuka pintu kaca bertempel stiker KBU 1. Kuraih gagang telepon dan menekan nomor yang telah kuhafal di luar kepala. Nada panjang teratur mengisi gendang telingaku. “Halo Assalamu’alaikum.” Suara perempuan di seberang, Ibu.

“Wa’alaikumussalam.” Jawabku. “ini Har bu.”

“Oh kamu le? Ada apa? Tumben telepon, bagaimana kabarnya? Uangnya apa sudah habis?”

Aku tersenyum mendengar rentetan tanya itu, khas Ibu. “Kabar Har baik bu, uang saku juga masih. Bapak ada bu?”

“Bapak pergi, ada apa to?”

“Ada perlu sedikit.”

“Perlu apa?”

“Anu.. kalau misalnya Har ganti nama gimana bu? Boleh tidak?”

“Ganti nama bagaimana? Maksudnya?”

“Ya namanya diganti, jadi yang lebih islami.”

“Lha namamu itu apa ndak islami terus ndak boleh dipakai gitu? Haram?”

“Ya ndak gitu bu..”

“Lha iya, wong ndak apa-apa, kenapa pengen diganti segala. Ndak usah neko-neko!”

“Tapi…”

Le.. nama itu pemberian bapakmu, itu doa dan harapan bapak dan ibu. Asmo kinaryo jopo! Itu kata orang-orang dulu. Namamu Suhartono, harta yang baik, kamu itu harta terbaik bapak dan ibu. Sudah bagus begitu kok malah mau kamu ganti.”

Aku diam, mendengar tuturan ibu.

“Apa masih mau ganti nama?”

Kucoba tersenyum dan akhirnya kujawab, “Mboten bu…”

Dan setelah salam, kuletakkan kembali gagang telepon ke tempatnya.

Bagaimana pun juga setiap nama yang diberikan orang tua punya makna, meski hanya sederhana. Dan namaku adalah cerminan harapan kedua orang tuaku. Jika kuganti semauku, begitu tak menghargainya aku akan doa mereka berdua. Ya sudahlah, mau bahasa jawa, bahasa arab atau bahasa inggris sekalipun yang penting aku punya nama dengan arti yang baik. Nama yang baik tidak harus pakai bahasa Arab kan?

 

***


Nada suaranya tenang dan berwibawa saat ia bertanya,

“Namamu siapa?”

“Suhartono pak kyai.” Jawabku.

“Suhartono?”

Nggih.”

“Tidak ingin diganti?”

Aku diam sejenak, “Mboten.”

“Kenapa?”

“Karena itu pemberian orang tua saya, Itu doa dan harapan mereka.”

Kulihat tak ada gurat kemarahan saat sarannya kutolak, yang ada hanya senyuman di wajah teduhnya.

 

 

Kudus, selesai diketik pada akhir Mei 2012


 

Untuk rekan-rekanku di PTYQ Kudus Putra & Putri, maaf nama-nama kalian kucantumkan tanpa menunggu persetujuan.

Sungguh, nama-nama itu begitu mengesankanku…

Friday, June 15, 2012

Serpih Kata Di Sela Masa 11

1 Januari 2012, pukul 9:06
Dimana kalian wahai para pemuda yang mendalami agama?
Dimana kalian wahai pemuda yang mengaku mencintai Allah dan utusan-Nya?
Dimana kalian wahai pemuda yang mengikrarkan keislaman dan merasa memiliki keimanan?
Dimana kalian?
Saat bumi dipenuhi kedurjanaan dan ketidaksesuaian dengan ajaran Tuhan, dimana kalian?
Apa kau hanya bisa diam dan mencukupkan diri dengan selemah-lemah iman. Kau punya akal dan lisan, kau punya pena di tangan. Serukan kebenaran, tuliskan segala keindahan ajaran. Bukan sekedar hasil yang kita tuju, namun kemuliaan di sisi Yang Maha Satu! (kaca diri pagi ini)

3 Januari 2012, pukul 19:10
Hamba yang hina ini mencoba tahu diri, bahwa amalnya memang tak seberapa, bahwa kehidupannya terlalu banyak alpa dan dosa. Maka hanya rahmat-Nya yang diharap bisa menyelamatkan dari siksa neraka...
Yaa Muhaimin yaa Salaam... Salimnaa.. salimnaa

14 Januari 2012, pukul 16:50
Dan engkau akan lihat Dia begitu perkasa, Rabb kita Dia lah Tuhan Yang Maha Mulia...
Dia telah janjikan kemenangan yang nyata....

30 Januari 2012, pukul 7:17
Untuk apa kau tuliskan keluh tentang benturan yang membuatmu mengaduh. Untuk apa kau ungkapkan duka dan kecewa pada manusia, mengumumkannya hingga setiap orang bisa membaca. Sedang Tuhan kau lupakan, padahal Ia senantiasa akan mendengar, Ia lah pemberi kelapangan dan jalan keluar.

30 Januari 2012, pukul 7:31
Wahai diri, Kenapa tak kau tuliskan saja tentang hikayat para pahlawan, semangat yang berkobar dalam berkorban atau hasrat untuk menggapai kemuliaan di sisi Tuhan. Atau tulis saja sabda sang junjungan, Nabi akhir zaman atau ucapan Ulama dan cendekiawan. Siapa tahu pembaca akan mengamalkannya dan kau pun mendapat bagian pahala yang sama dengan mereka. Dari pada menuliskan keluhan dan mengumumkan kegiatan yang entah dicatat sebagai apa di sisi-Nya, mungkin hanya akan tersia dan malah memberatkan timbangan keburukan karena menjadi bagian kemubadziran...

18 Februari 2012, pukul 23:57
Wahai Yasir dan Sumayyah, duhai Hamzah dan Handzalah. Mush'ab, Ja'far, Zaid bin Haritsah, ibnu Rawahah, jua para syuhada' di bi'ru ma'unah... Kuingin impikan kalian, menapaki jalan dimana kaki kalian langkahkan, memahami arti iman dan pengorbanan layaknya yang kalian persembahkan, dan berharap bisa berdiri membersamai di akhirat nanti.

1 Maret 2012, pukul 14:40
Perbaiki usaha, kuatkan tekad akan asa. Sebelum timbul sesalan panjang atas berlalunya usia yang tanpa guna, atas segala kesempatan yang terlewatkan dengan sia-sia, atas masa yang tak kan terulang seperti sedia kala. Maka tak ada lain kata yang pantas diserukan oleh lisan, bersegera... bersegera... menuju genggam cita yang telah lama didamba...

2 Maret 2012, pukul 21:07
Sang penguasa alam tentu saja tak sekedar mempermainkan. Mungkin itu adalah teguran, atau sebuah pelajaran, atau untuk meningkatkan derajat ketaqwaan. Tinggal dirimu, bisakah mengambil hikmah dari sekian banyak kisah yang tak sedikit membuat sakit...

4 Maret 2012, pukul 15:01
Mencoba bertahan, menguatkan pijakan kaki meski ada keinginan untuk pergi. Mencoba tak peduli, saat ada tawaran yang lebih bisa memenuhi hasrat hati. Semua demi sebuah janji. Janji-Mu, wahai Robbku. Janji-Mu pada para penuntut ilmu....
kemudahan jalan ke surga.

6 Maret 2012, pukul 9:14
Wahai diri, akankah kau ingin menjadi hamba yang biasa saja. seperti orang yang tak mengerti arti mengapa kau dicipta. Akankah berlalu umurmu dengan tanpa kesan? Beramal sekedar penggugur kewajiban agar tak dianggap hamba ingkar? Padahal bermacam kebaikan telah Ia janjikan, tak kah kau tergerak untuk mendapatkan? Tak terhingga Ia anugerahkan kenikmatan, tak kah kau berhasrat untuk lebih banyak berkorban? Kapan segala yang terbaik kan kau persembahkan jika memang keridhoan dan cinta-Nya yang kau citakan?

14 Maret 2012, pukul 1:10
Kumelihatnya, sekilas saja. Seorang gadis berkacamata berkursi roda. Azzam macam apa yang ia punya, Ia coba mandiri dengan keterbatasan yang dimiliki. Jauh berbeda kota, meninggalkan orang tua dan sanak saudara demi sebuah cita yang ia damba, menjadi bagian dari keluarga Yang Maha. Bagaimana dengan kita yang tumbuh dengan tubuh sempurna? Hidup sekedarnya dan sering melupakan-Nya? Betapa tak bernilainya...

14 Maret 2012, pukul 15:36
doa untuknya...
semoga yang tertulis di atas sana sesuai dengan hasrat hatinya. kalau pun berbeda semoga selalu bisa sabar menerima dan ridho atas segala putusan-Nya

20 Maret 2012, pukul 3:18
saat kita pernah merasakan sakitnya kehilangan,
nanti kita akan bisa menikmati rasanya memiliki
(celetukan di dini hari)

21 Maret 2012, pukul 22:05
Mungkin di satu tempat engkau didahulukan dan dituakan. Apa yang kau banggakan dengan penghormatan yang kau dapatkan? Sedang setelah ketuaan akan datang kematian. Selanjutnya dimandikan, dibungkus kafan dan disholatkan kemudian ditanam di dalam lubang tanpa penerangan. Apa yang akan kau banggakan? Apa yang akan kau banggakan?!?

30 Maret 2012, pukul 8:05
kau pernah rasakan sakitnya namun masih saja tak juga jera melakukan hal yang sama. bodohnya, kenapa tak juga belajar pada kesalahan yang sempat kau lakukan.

14 April 2012, pukul 6:09
Pada-Nya semua bermuara. Benturan tak seharusnya putuskan asa. Ia lebih tahu, apa yang terbaik bagi dirimu. Ia lebih paham, apa yang seharusnya kau genggam. Ia lebih mengerti jalan mana yang sebaiknya kau lalui. Menerima setiap ketentuan-Nya dengan lapang dada tentunya lebih membuat lega...

23 April 2012, pukul 12:20
Wahai diri, Kesholihan macam apa yang kau punyai?
Kesholihan, bukan sekedar dengan sebutan akhi dan ukhti atau anta dan anti.
Kesholihan, bukan sekedar rapat berjam-jam dengan alasan memikirkan umat namun penuh debat tanpa manfaat. Kesholihan bukan sekedar dengan menunjukkan rasa malu ketika bertemu namun tanpa segan berlama-lama berbincang berduaan melalui pesan dan jejaring sosial.
Wahai diri, Kesholihan macam apa yang kau punyai?

25 April 2012, pukul 12:18
Duhai diri,
saat tangan kiri tidak mengetahui apa yang tangan kanan beri, bukankah itu lebih terpuji. tutupi.. tutupi.. agar segala yang diberikan tersimpan di sisi yang maha Tinggi...

1 Mei 2012, pukul 17:35
Wahai ayah bunda, jangan pelihara duka. di jalan ini ku telah bahagia. Jangan pula risaukan kehidupan nanda di masa depan karena semua telah tertuliskan. Harta dan kedudukan bukan tujuan, pandangan manusia tak lagi ingin kurisaukan. Ku telah cukupkan inilah jalan pilihan, yang kuyakin membawa pada kebaikan hingga kematian, hingga alam keabadian. Dan sungguh balasan di sisi Yang Maha Besar lebih menjanjikan...

3 Mei 2012, pukul 22:05
Saat kata demi kata buah karyanya kueja di hati. Tusukan demi tusukan hadir melukai. Namun yang kudapati bukanlah luka yang menyakitkan melainkan luka yang menyembuhkan. Tak bosan, meski kubaca berulang-ulang. Goresan pena sang murobbi dalam pilar-pilar asasi memberi energi tersendiri di tengah keasingan yang menyertai...

8 Mei 2012, pukul 11:33
Wahai diri, jangan kau panjangkan kata dan cerita akan keinginan tentang masa depan. Sungguh, orang yang lapar tak kan kenyang hanya dengan membayangkan makanan. Orang yang kehausan tak kan hilang dahaganya hanya dengan menyebut jenis-jenis minuman. Demikian pula dengan cita-cita dan harapan, semua tak kan tergenggam hanya dengan ucapan berulang. Tanpa langkah pertama dan usaha nyata semua hanya angan-angan tanpa makna.

13 Mei 2012, pukul 7:38
Pesannya, "Jangan, kecewa atau pun putus asa hanya karena mereka tak mendengar seruan yang kau sampaikan. Nilainya bukan disana, namun kejujuranmu, kesungguhanmu dan keistiqomahanmu dalam menyeru. Tetaplah mengatakan kebenaran karena -sebuah keniscayaan- sebagian akan ada yang beriman, sebagian pun akan ada yang ingkar dan menentang..."

19 Mei 2012, pukul 11:36
Wahai diri tak kah kau sadari, hatimu telah mati. Kau tak lagi peka akan dosa. Di matamu, terlihat hanya lalat yang hinggap di ujung hidung. Sekedar kau kibaskan tangan maka ia akan terbang meninggalkan. Padahal.. padahal.. sesungguhnya di hadapanmu ada tumpukan batu yang akan menimpamu dan menguburmu dalam penderitaan yang panjang, dalam siksaan yang akhirnya entah kapan.

7 Juni 2012, pukul 8:23
Wahai diri.. waspadai hati-hati yang tersakiti. Saat mereka terluka karena sikapmu yang tercela atau tajamnya kau bicara. Sungguh kau kan celaka jika dalam batinnya mereka berkata,"Wallahi! akan kuadukan perkara ini pada Ilahi. Memang ku bukan hamba yang sempurna ketaatannya. Namun kuyakin tak ada hijab antara Ia dengan orang yang teraniaya..."

=========================================================================================
Rangkai kata di atas merupakan kumpulan status dari akun FB kami : “Tiada Nama“ -ardhi el mahmudi-)

Sunday, April 29, 2012

Karena Iman dan Taqwa, Bukan Darah dan Bangsa

Mereka terhina di awal mula. Mereka diperjualbelikan layaknya barang, bekerja tanpa upah, dan tak jarang mengalami siksaan tanpa ada pembelaan. Golongan budak memang tak memiliki hak yang sama dengan orang merdeka. Bahkan kehidupan yang mereka punya adalah milik tuannya. Saat islam datang dan dada mereka dipenuhi keimanan maka semua berubah. Mereka pun menjadi orang-orang mulia, tak jauh berbeda dengan bangsawan atau pun golongan terkemuka.

Di antara mereka ada Bilal bin Rabbah, sebelum islam ia adalah budak milik Umayyah bin Khalaf seorang pembesar di kalangan Quraisy. Di awal keislamannya siksaan dan deraan dari sang majikan selalu ia terima. Hingga akhirnya Abu Bakar Ash Shiddiq membelinya dan memerdekakannya. Saat cahaya Islam semakin benderang di Madinah, ia didaulat menjadi muadzin Rasulullah saw. Para sahabat yang lain pun menghormatinya, misalnya Umar ketika ditanya mengenai Abu Bakar dia selalu menyertakan Bilal dengan menjawab, ”Abu Bakar adalah pemimpin kita, yang telah memerdekakan pemimpin kita.” Lelaki hitam mantan budak ini adalah lelaki surga, Rasulullah pernah mengabarkan padanya bahwa pada malam mi’raj beliau mendengar suara terompah Bilal di sana. Betapa mulianya, kasta memang tak berlaku, taqwalah yang selayaknya dituju.

Ada pula Ammar bin Yasir. Ayahnya memang merdeka, namun dia hanya seorang pendatang dari Yaman. Sedang ibunya, Sumayyah, adalah salah satu budak Ibnul Mughirah. Statusnya yang anak budak telah menjadikan Ammar berada dalam kasta rendahan di kalangan Quraisy. Maka di awal keislamannya ia dan keluarganya tak luput dari siksaan hingga harus kehilangan kedua orang tua di depan mata. Namun kedudukannya di kalangan umat islam begitu istimewa. Rasulullah SAW. begitu sayang padanya, hingga ketika beliau mendengar bahwa Khalid bin Walid bertengkar dengan Ammar, Rasulullah SAW langsung berkata pada Khalid, “Hai Khalid, siapa yang memaki-maki Ammar bin Yasir, Allah akan memaki-maki dia. Barang siapa yang memusuhinya, Allah akan menjadi musuh dia. Barangsiapa yang merendahkan Ammar, Allah pun akan merendahkan dia.” Demikianlah kedudukan Ammar bin Yasir dihadapan Allah dan Rasul-Nya. Dan akhirnya, di perang Shiffin pada masa kekhalifahan Ali bin Abi Thalib, ia dianugerahi kesyahidan, Setelah jasadnya dikuburkan, para sahabat kemudian berkumpul dan saling berbincang. Salah seorang berkata, “Apakah kau masih ingat waktu sore hari itu di Madinah, ketika kita sedang duduk-duduk bersama Rasulullah SAW dan tiba-tiba wajahnya berseri-seri lalu bersabda, "Surga telah merindukan Ammar?"
Ya, memang dia pernah terhina, disiksa dan sempat dipandang sebelah mata, namun surga telah lama merinduinya.

Disana juga ada Salim. Seorang mantan budak milik sahabat Rasulullah, Abu Hudzaifah. Setelah Abu Hudzaifah masuk islam maka Salim pun dimerdekakan dan diangkat menjadi anaknya. Namun setelah turun larangan menisbatkan anak angkat kepada sosok yang bukan ayah kandungnya, maka Salim yang tidak dikenal siapa bapaknya, menghubungkan diri kepada orang yang telah membebaskannya hingga dipanggil Salim maula Abu Hudzaifah. Meski pun ia mantan budak, itu tak mengurangi kemuliaanya, dialah yang menjadi imam bagi orang-orang yang hijrah dari Mekah ke Madinah setiap mereka shalat di masjid Quba, ia juga tempat bertanya tentang isi Kitabullah, dan Rasulullah pun memerintahkan para sahabatnya untuk belajar Al Qur’an padanya dengan bersabda, “Ambillah olehmu al-Quran itu dari empat orang, yaitu: Abdullah bin Mas’ud, Salim maula Abu Hudzaifah, Ubai bin Ka’ab dan Mu’adz bin Jabal.”
Di saat perang Yamamah, memerangi Musailamah sang nabi palsu, ia bersama Abu Hudzaifah berjuang bersama, Dan akhirnya ia menjadi salah satu dari 70 penghafal Al Qur’an yang syahid di perang itu. Di sampingnya juga telah terbaring mantan majikannya yang telah menjadi layaknya saudara. Sebuah akhir yang indah, dua saudara yang masuk islam bersama, hidup bersama, dan mati pun bersama.

Ada juga Salman Al Farisi, meski ia berasal dari Parsi dan merupakan putra tokoh disana ia pernah merasakan menjadi budak milik seorang Yahudi di Madinah. Semua dilaluinya demi menemui penghulu para Nabi yang ia nanti-nanti. Saat Rasulullah hijrah ke Madinah ia pun menyatakan keislamannya. Dengan statusnya yang masih budak, ia tak bisa mengikuti Rasulullah berjihad di Badar dan Uhud. Maka saat Rasulullah tahu keadaannya beliau pun bersama para sahabat menebus kemerdekaannya. Ketika perang Ahzab, Salman mengeluarkan gagasan cemerlang dengan mengusulkan untuk menggali parit demi melindungi kota Madinah. Strategi ini berhasil menahan sekitar sepuluh ribu pasukan musuh. Ia pun dijuluki Luqman Al Hakim karena keluasan pengetahuannya. Sahabat yang mantan budak ini juga pernah diperebutkan oleh kaum Muhajirin dan Anshor karena keutamaannya, kala itu kaum Anshar serentak berdiri dan berkata: “Salman dari golongan kami”. Bangkitlah pula kaum Muhajirin, kata mereka: “Tidak, ia dari golongan kami!” Maka Rasulullah pun menengahi, “Bukan keduanya, tapi Salman adalah bagian dari kami, dari ahlil bait.” Salman, dia orang asing, bukan seorang arab, pernah pula menjadi budak, namun karena keutamaan yang dimiliki, ia pun diakui termasuk golongan keluarga Nabi.

Demikianlah, kemuliaan seseorang bukanlah didasarkan pada trah keturunan atau dari bangsa apa seseorang dilahirkan. Kemuliaan sejati didapat karena keteguhan iman dan tingkat ketaqwaan, juga dengan ilmu dan keahlian yang bisa memberi kemanfaatan pada sekian banyak orang.
Wallahu a’lam.



Kudus, 9-10 Maret 2012
By. A.E.M
==============================
Telah Dimuat di Buletin Madani edisi:15 / bulan maret 2012

Monday, January 23, 2012

Wahai Yang Maha Satu, Ampuni aku ...

Wahai diri, tak kah kau gentar?
Adakah peringatan yang datang tak buatmu gemetar.
Tak kah kau takut akan akhir dalam kesia-siaan?


Saat nyawa tak lagi lekat pada raga.
Dan saat kau kan ditanya tentang apa yang kau lakukan di dunia.
Tak kah kau dengar tentang beratnya siksa
bagi kaum yang tak indahkan peringatan dari Yang Kuasa?


Ku telah dengar,
ku telah temukan dari bacaan-bacaan,
juga dari lisan para penyeru kebenaran.
Namun kenapa ku tak juga mampu gerakkan sendi-sendiku menuju kebaikan?
Ataukah aku telah terikat pada keburukan dan ditakdirkan untuk menemani setan
yang telah dituliskan sebagai ahlun naar?
Betapa menyedihkan jika demikian?


Betapa malangnya jika di akhir nanti ku dibelenggu bersama-sama manusia durhaka,
yang ingkar pada kebesaran Yang Maha.
Betapa sengsara bila ku dilemparkan ke neraka
dengan siksa yang tak ada habis-habisnya.
Betapa tak beruntungnya... betapa tak beruntungnya...


Wahai Yang Maha Satu, Ampuni aku... ampuni aku...
Saat kemaksiatan selalu saja kuulang.
Saat kemalasan selalu saja tak bisa kuenyahkan.
Saat keengganan menuju kebaikan selalu saja bersemayam.
Saat seruan kebenaran tak juga kuindahkan.
Saat ayat-ayat-Mu berlalu tanpa kurenungkan, tanpa kuambil pelajaran.
Saat segala ajaran islam tak kupedulikan...


Wahai Yang Maha Satu, Ampuni aku... ampuni aku...
atas kelemahanku,
atas kebodohanku,
atas ketdakpatuhanku,
atas pembangkanganku,
atas ketidakridhoanku akan putusan-Mu,
atas kemalasan dan keengganan dalam menuju-Mu,
atas segala dosa dan kesalahan yang telah lalu...


Wahai Yang Maha satu, Ampuni aku... ampuni aku...
Jangan, jangan gabungkan  aku dengan mereka,
para pendurhaka yang tak juga percaya pada kebesaran dan kuasa-Mu
Jangan, jangan jadikan aku berkumpul dengan mereka,
orang-orang yang ingkar dan selalu menentang perintah-perintah-Mu.
Jangan, jangan jadikan aku bagian dari mereka,
orang-orang yang selalu mencari-cari alasan pembenaran sebuah kesalahan,
yang meminta pemakluman namun tak juga bersegera dan terus saja menunda pertaubatan.
Jangan, jangan Kau cabut keimanan yang bersemayam di dada,
Jangan Kau jadikan kecenderunganku untuk bersama dengan para hamba dunia...


Wahai Yang Maha satu, Ampuni aku... ampuni aku...
Mohonku sangat, Jangan jadikan aku terlaknat
Harapku dalam cekat,
ku kan tercatat menjadi bagian dari orang-orang yang bertaubat
=============================================
Kudus, 23/01/2012

Saturday, January 14, 2012

Dua Pendidik Itu Mengesankanku -sebuah catatan perjalanan ke Jombang-

Senin, 9 Januari 2012, kurang lebih Pukul 21.00, benda mungil yang kupegang berdering. Hmm sebuah nomor asing. Saat kuangkat terdengar suara perempuan. "Ustadz Arifin? Sampai mana?" sapanya setelah mengucap salam. "Sebentar bu, ini orangnya disamping saya." jawabku. Kusodorkan HP itu ke rekan yang sedang memegang setir. Dan terdengarlah percakapan dengan bahasa Jawa campur dengan bahasa nasional kita, Indonesia. "Nggih insya Allah jadi kesana bu. Niki nembe perjalanan. Mungkin sampai disana radi dalu. menawi bade tindak ditinggal mawon bu, dalem sak rencang sowanipun besok saja kalau begitu." Dan kudengar suara samar-samar jawaban ibu tadi dari seberang , "Malam ini sampainya juga tidak apa-apa. saya tunggu."


Benar saja, kami sampai tujuan sudah terlalu malam untuk bertamu, pukul 23.00 wib. Tapi pintu rumah yang kami tuju masih terbuka, dan pasangan suami istri itu tetap menyambut kami dengan hangat, menjamu kami dengan makanan dan melayani percakapan demi percakapan hingga larut malam. Saat jarum jam menunjukkan pukul 00.30. kami pun undur diri.


Setelah semalaman sengaja tidur di dalam kendaraan agar tidak tambah merepotkan tuan rumah. Esok paginya kami kembali. Dan lagi-lagi kami dijamu seperti saat kami datang semalam. Disambut dengan hangat dan dipersilahkan untuk sarapan. Kali ini bukan hanya pasangan suami istri itu saja yang menemani tapi ditambah dengan dua orang pemuda murid mereka, Islah dan Badruzzaman. Di tengah-tengah menikmati sarapan, muncul seorang tukang koran yang hendak menagih iuran langganan bulanan. Spontan pasangan tuan rumah dan dua orang muridnya itu mempersilahkan si tukang koran untuk masuk dan ikut makan bersama. "Kalau tidak sarapan dulu uangnya tidak saya bayarkan lho." Canda si ibu. Dan dengan malu-malu tukang koran itu pun duduk bersama dengan kami, mengambil nasi dan hanya mengambil lauk sederhana,kering tempe. "Itu bapaknya dilayani Is." kata si ibu. "Pakai ini pak," kata Islah sambil menaruh sepotong bebek goreng di piring sang tukang koran. "Ini juga dipakai." katanya lagi, kali ini telur asin. "Sampun... sampun." Kata si tukang koran. Aku tersenyum melihat pemandangan itu. Betapa ramahnya, betapa mereka bisa bersikap begitu biasa dengan siapa saja. Tak ada strata, entah ia tukang koran, ustadz pesantren, murid-muridnya siapa pun itu tak mereka bedakan perlakuannya.


Setelah perangkat hidangan diangkat, kami berbincang dengan sang ibu. Selama tiga jam kami bercakap ada banyak ilmu yang kami dapat. Petuah demi petuah yang disampaikan tanpa ada kesan menggurui atau nada menasehati. Melalui cerita ia mengajak kami merenungi kehidupan yang dijalani. Diantaranya beliau berujar, "Setiap manusia pasti diberi cobaan baik lewat anaknya, istrinya, suaminya, harta, jabatan, banyak hal. Kadang ada orang yang sebelumnya ada di atas tiba-tiba berada di titik paling bawah, Sebelum jadi seperti ini kami pun pernah di angkat oleh Allah dengan kondisi berkecukupan, namun tiba-tiba dicoba dengan kekurangan harta hingga serendah-rendahnya. Bahkan rumah ini juga sempat hampir di jual. Dan sekarang diangkat kembali, metode Hanifida itu ditemukan saat kami ada di titik terendah. Memang semua itu liyabluakum ayyukum ahsanu 'amala, cobaan itu untuk mengetahui siapa yang paling baik amalnya...."


Ah, perjalanan yang memberi banyak pelajaran. Dan kami pun pulang dengan membawa kesan menawan tentang dua pendidik yang tinggal di Jombang. Mereka Yang telah memberi kami ilmu dalam pertemuan yang singkat itu, menyambut kami di tengah-tengah kesibukan mereka, memuliakan kami yang datang di saat jam-jam istirahat malam. Mereka adalah Dr. Hanifuddin Mahadun,M.Ag dan Dr. Khoirotul Idawati Mahmud, M.Pd.I, Penemu metode menghafal Hanifida, Master trainer yang telah menyampaikan materi-materi temuan mereka di berbagai kota di Indonesia, dan pemilik pesantren La Raiba Hanifida Training Center Jombang. Semoga beliau berdua senantiasa dalam keridhoan dan naungan Cinta Yang Maha.


 


==============================================================


Kudus, 13 Januari 2012. Menjelang maghrib.

Saturday, January 7, 2012

Mereka Yang Kucinta, Orang-orang Sederhana Yang Luar Biasa

Selepas Isya' kami berkumpul untuk kesekian kali guna membicarakan aturan-aturan di asrama yang belum lama kami huni. Lima belasan orang dengan beragam usia bertukar kata, debat kecil dan usulan silih berganti mengalir.

"Iuran lima puluh ribu sebulan itu murah!" kataku.

Beberapa rekan menganguk-anguk tanda setuju, beberapa yang lain diam dalam kebisuan.

"Coba saja kita makan di warung sebelah, paling tidak sekali makan habis tiga ribuan, kalikan saja tiga puluh hari, sudah 90 ribu! Itu kalau makannya cuma sekali, kalau tiga kali? hitung saja sendiri."

Aku berhenti sejenak, sembari melihat beberapa wajah yang masih ragu dengan argumenku.

"Kalau ini cukup dengan 50 ribu per orang, kita bisa makan tiga kali sehari meski dengan lauk seadanya. Disamping itu kita juga bisa mengeratkan kebersamaan, senasib sepenanggungan."

Untuk meyakinkan mereka, kusodorkan coretan-coretan kecil rencana anggaran yang kubuat sebelum rapat.

Namun argumenku tak mempan bagi sebagian orang. Mereka tetap keberatan dengan uang makan yang hanya 50 ribu sebulan, dan lebih memilih memenuhi kebutuhan mereka sendiri-sendiri.

Tiga orang tetap dengan pendapatnya, keberatan dengan makan bersama. Saat ditanya kenapa, mereka bersikukuh diam seribu bahasa, tak mengungkapkan alasan apa pun. "Pokoknya kami keberatan." kata ketiganya.

Batinku, "Maunya apa orang-orang ini, diajak bersama kok tidak mau." Rasa dongkol, heran, sebal bercampur jadi satu.

"Mas, keterbukaan itu perlu, agar tidak timbul su'udzon di antara kita. Apalagi kita tinggal bersama, berkumpul sehari semalam di bawah satu atap." Mas Dayat, seorang yang usianya jauh di atas kami mencoba menengahi.

Lama kami menanti jawaban tiga kawan yang keberatan, akhirnya satu orang buka suara.

"Maaf kalau misalnya saya, kami, membuat teman-teman jengkel, sebenarnya saya malu untuk mengungkapkan ini. Bukan karena saya tidak ingin bersama-sama atau pelit untuk iuran. Tapi memang terus terang saja saya tidak mampu."

Aku menatap ia heran dan membatin "Tidak mampu? 50 ribu sebulan tidak mampu? Padahal asrama, fasilitas dan biaya pendidikan di ma'had ini sudah gratis semua. Memangnya uang sakunya berapa sampai bilang tidak mampu?"

Ia melanjutkan tuturannya, setelah tadi diam sejenak. "Saya kesini sebulan hanya dibekali 5 kg beras dan uang saku 10 sampai 15 ribu untuk beli kebutuhan saya, maka itu saya tidak bisa ikut iuran yang 50 ribu itu..."

Dan tiba-tiba ruangan ini terasa hening. Lidahku kelu untuk memberi komentar, hanya ada sesal dalam yang kurasakan. Saat dua orang yang lain ikut buka suara, rasa sesalku semakin menyesakkan. Dua orang yang lain tak jauh berbeda dengan orang pertama, yang satu hanya dibekali uang saku 20 ribu untuk ongkos jalan dan satu karung nasi jagung. Yang seorang lagi malah tak membawa apa-apa kecuali pakaiannya saja, karena memang orang tuanya sudah tidak sanggup memberi uang saku. Tanpa bekal dan hanya bermodal tawakal dia tinggalkan kota kelahiran demi menghafal Qur'an.

Dan aku pun merasa kerdil di hadapan mereka, tiga orang yang terus berusaha mencari jalan untuk mendapatkan tambahan pengetahuan demi kemuliaan di sisi Yang Maha Besar. Dalam kesempitan mereka tak pupus harapan, dengan keadaan mereka yang serba kekurangan mereka tetap merentas usaha tanpa peduli kesulitan. Entah seberapa dalam keyakinan mereka bahwa Allah senantiasa memberi jalan kemudahan, dan membersamai setiap langkah yang mereka ayunkan.

Jalan tengah pun diambil, tak ada ketentuan iuran, maka setiap orang memberikan apa yang dipunya dan disanggupinya. Berapa pun itu akan diterima dan digunakan bersama. Akhirnya tak hanya nilai kebersamaan yang kami dapatkan namun juga merasakan bagaimana sikap itsar dan pengorbanan itu dilakukan. "Agar tidak mengurangi rasa kebersamaan dan juga agar tak menjadikan beban, maka hanya ada nasi, untuk lauk pauknya cari sendiri-sendiri." Kata-kata itu menutup pertemuan kami malam itu.

Dan hari-hari pun kami lalui bersama, kudapati kehidupan mereka yang sederhana yang tak sedikit membuatku malu akan keadaan diriku. Suatu saat kulihat seorang dari mereka menyeduh sebungkus mie instan untuk lauk sarapan, "Kenapa tidak dihabiskan?" tanyaku spontan karena kulihat masih ada sisa mie yang ada di piringnya. "Nanti saja," jawabnya sembari tersenyum. Rupanya memang ia sengaja menyisakannya, dan baru disini kulihat sebungkus mie instan untuk lauk tiga kali makan!

Di lain waktu saat aku masuk dapur mereka menawariku untuk makan bersama. Kami duduk melingkari sebuah nampan berisi nasi, dan bagaimana hatiku tak tersentuh saat kudapati mereka makan hanya berlauk dengan garam? Baru disini pula kudapati sebungkus kerupuk adalah lauk yang mewah. Namun tak kulihat wajah susah hanya karena makanan yang jauh dari kata sederhana. Mereka tetap menyuapkan makanan dengan senyuman seakan itu memang bukan hal yang luar biasa, kesusahan-kesusahan ini begitu mereka nikmati. Jangan tanya tentang sayur atau pun telur, lebih-lebih ayam. Sekedar gorengan saja mereka teramat jarang memakannya. Sambal dan kecap itu sudah lauk ternikmat.

Betapa menyedihkan keadaanku, betapa memalukannya diriku, betapa aku tak ada apa-apanya berhadapan dengan mereka. Saat 10 ribu, 20 ribu bahkan 50 ribu habis dalam sehari hanya sekedar untuk hal-hal yang tanpa manfaat, bermain di warnet, beli pulsa dan habis tanpa sisa untuk hal yang tak berguna, berjalan-jalan tanpa tujuan, membeli barang yang tak begitu penting, berbelanja sesuatu yang sebenarnya tak begitu dibutuhkan. Betapa jauh kemanfaatan harta ratusan ribu rupiah dalam sebulan yang kubelanjakan jika dibandingkan dengan 20 ribu yang mereka gunakan untuk bekal menghafal Qur'an! Betapa harta yang kugunakan itu kini tak ada nilainya?

Ah, dua puluh ribu milik mereka bisa mereka banggakan di hadapan pertanyaan saat hari perhitungan. "Untuk apa hartamu yang dua puluh ribu itu?" Mereka bisa menjawab, "Untuk bekal menuntut ilmu, menghafal Kalam-Mu wahai Yang Maha Satu." Dan bagaimana aku akan menjawab jika aku ditanya, "Untuk apa harta ratusan ribumu itu?"
Kelu.. kelu... malu... malu ... ampuni aku wahai Rabbku.

Wahai para sahabat yang senantiasa kukenang dan kurindukan. Terima kasih telah memberiku bermacam pelajaran. Tentang Ketulusan, keikhlasan, kesungguhan, kesetiakawanan dan banyak lagi. Hingga kini ku masih mencintai dan berharap kita kan bertemu lagi dan semoga di akhir nanti dikumpulkan di surga bersama para Nabi... Amin.

======================================================

Kudus, Selesai ditulis -setelah sekian lama tertunda- pada 6/01/2012. 17:10

Mengenang kalian, wahai para perentas jalan Qur'an. Santri-santri Ma'had Tahfidz Abu Bakar Ash Shiddiq Muntilan.  Sungguh, kerinduanku begitu menggebu...