Tuesday, December 22, 2009

Ibu Tidak Sayang Lagi Padaku

"Ibu tidak sayang lagi padaku...!"
Pantaskah kata-kata itu terucap?
Sedang kita, sembilan bulan berada di perutnya, gratis tanpa bayar uang makan atau sewa kontrakan.
Juga saat awal mula melihat dunia, bertahun-tahun dalam buaian, dimanja dan ditimang, diajar macam kata dan mengenal kehidupan.
Selanjutnya, segala pinta selalu diusahakan, segala masalah yang tumpah ikut pula diselesaikan.
Demikian seterusnya tak pernah putus karena memang cintanya tak pernah pupus.

"Ibu tidak sayang lagi padaku...!"
Bagaimana mungkin akan ada kata-kata itu?
Padahal dia selalu tanpa pamrih.
Dia tak pernah mengungkit perjuangannya bertaruh nyawa di hari kelahiran yang kadang menyulitkan.
Dia pun tak akan menuntut bayaran atas air susu yang telah kita telan.
Dia juga tak pernah meminta upah atas malam-malamnya yang terjaga karena tangisan.
Dia memang layaknya lagu yang dulu sering didendangkan.

kasih ibu kepada beta
tak terhingga sepanjang masa
hanya memberi
tak harap kembali
bagai sang surya
menyinari dunia


Dan apa balasan kita untuknya? Wajah yang sering cemberut hingga membuatnya tersudut?
Bibir yang sering masam hingga membuatnya tenggelam dalam kesedihan?
Sapaan dan kunjungan yang jarang datang dengan dalih kesibukan?
Penolakan atas permintaan bantuan dengan bermacam alasan? Dengan itukah kita membalas kasihnya.
Padahal andaikan kita membalasnya dengan kebaikan tanpa jeda dan tanpa sela semuanya tak akan bisa menyaingi apa yang telah ia berikan pada kita.

Apa lagi yang bisa kita lakukan untuknya?
Dan seseorang pun memberi jawaban bagaimana cara membalas jasa sang bunda. Katanya, "Jadilah tabungan akhirat baginya."

Anakku (3) -kata hati bunda-

Anakku...
Lakumu tak lagi kaku, halus
-seiring merambat senja usiaku
dari langkah satu-satu, berubah lincah
menyirat cercah cerah
tumbuhmu pasti, kertas putih itu
telah tertulisi
macam warna pembentuk jiwa
harapku akan pribadimu sempurna
menjadi penyejuk pandangku
menjadi cahaya kuburku dari
doa-doa sholihmu

Thursday, December 10, 2009

Serpih Kata di Sela Masa 1

September 10 2009 at 10:38am
Saya hanya mendambakan kerukunan sesama kita, ketika salam tak hanya terucap pada sesama golongannya, dan ukhuwah tidak memandang di bawah bendera mana seorang muslim berada. saya hanya rindu, pada senyum yang tidak memilih pada siapa ditujukan, Tarbiyah, MTA, HTI, Salafy, NU,Muhammadiyah, Persis, apa pun itu... kita adalah satu tubuh yang saling menguatkan... (nukilan dari Note: Untuk Islam! Bukan Golongan)

October 5 2009 at 12:19pm
di dalam mini bus, seorang pemuda ada di depanku dengan penglihatan yang disimpan oleh-Nya. Di bibirnya senyuman masih tersungging meski hanya kegelapan yang ada di sekitarnya. Dan aku pun merasa kerdil, betapa nikmat cahaya kini besar terasa...

October 5 2009 at 9:10pm
Laki-laki muda itu masih membayangiku... sepanjang jalan ia pejamkan mata, saat mata itu terbuka, tak ada lagi bintik hitam sempurna di dalamnya. Seorang anak duduk di pangkuannya, sebagai penterjemah warna dan arah...

October 6 2009 at 8:10am
Dewasa adalah pilihan, maka mana yang akan kita pilih? Berusaha menjadi dewasa seiring putaran masa atau bertahan dalam kekanakan dengan wajah kita yang kian menua? Semoga kita lebih memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya (nukilan dari Note: Seperti Apa Arti Kedewasaan yang Sebenarnya)

October 9 2009 at 1:55pm
Ingatlah, langkah demi langkah yang diayun tiap detik tanpa serapah, tanpa lengah dan tanpa membantah perintah. Semua kan berakhir indah. Tuhan tak kan melupakan, tak juga kan menyia-nyiakan segala yang dilakukan dalam bingkai keikhlasan demi keridhoan. Dan janjinya adalah benar … (nukilan dari Note: Kapankah Keikhlasan Itu Sempurna)

October 9 2009 at 7:52pm
Menegur dengan senyum, menasehati dengan hati dan menunjukkan ketulusan. Menegur bukan karena benci pada pribadi tapi karena peduli. Bukan manusianya, tapi perbuatannya yang kita tak sukai. (nukilan dari Note: Duhai Akhi yang Menegurku di Serambi)

October 13 2009 at 9:06pm
Mengalir... menuju muara yang selayaknya ditempati oleh para hamba. Dan sekarang aku sedang berusaha ke arah sana...

October 16 2009 at 5:53pm
Hidup adalah ujian, dan ujian adalah keniscayaan yang akan selalu berulang. selamanya akan demikian hingga kita menghadap Tuhan… Maka, mana yang akan kupilih antara kesabaran atau keluh kesah yang berlebihan? (Diary Pribadi)

October 20 2009 at 8:45pm
Rambutnya mulai berubah warna. Keperakan, menandakan usia yang beranjak senja. Dalam mangu aku memandangi gurat-gurat di wajahnya. Ayah, bunda, Bakti ini memang belum seberapa, tapi sungguh aku cinta...

October 21 2009 at 6:02pm
Wahai ibu betapa aku rindu sapaanmu, Wahai ayah betapa rekah di hati kian memerah saat kuingat kerut kulitmu di wajah.....

October 22 2009 at 12:14pm
Setiap pribadi punya hak hidup sendiri-sendiri. Mencari yang ia senangi, mendekat pada apa yang ia rasa lezat. Memilih apa yang ia rasa lebih... (Diary Pribadi)

October 28 2009 at 12:32pm
tapi sekarang aku sedikit paham, aku belum tentu masuk surga lebih dulu, dan hidup ini memang masih berjalan, kenapa aku harus marah, kenapa harus pergi menjauhi, toh esok masih ada hari, masih ada kesempatan untuk berubah dan kembali. Lebih-lebih jika niat baik itu masih tertancap di hati, aku tak ada alasan untuk membenci. Aku akan tetap menyapa dan menemani.

October 29 2009 at 11:36pm
wahai Allah, kuserahkan segala urusan ini kepadaMu, karena aku telah lelah. Benteng rapuh itu rubuh, dan aku butuh waktu untuk kembali membangunnya... laa haula walaa quwwata illa billah...

October 30 2009 at 2:02pm
nasyid itu selalu ingin kudendangkan.... "sabarlah wahai saudaraku tuk menggapai cita... jalan yang kau tempuh amat panjang tak sekedar bongkah batu karang... yakinlah wahai saudaraku kemenangan kan menjelang... walau tak kita hadapi masanya tetaplah al haq pasti menang...."

October 30 2009 at 2:05pm
ini benalu baru... mencoba menggerogoti benteng rapuhku...

October 31 2009 at 8:37am
"Ceritakan pada kami," katanya "Agar bebanmu di hati terkurangi. Berbagilah masalah, agar tak ada lagi resah." (nukilan dari cerpen: Wanita Bermata Shangrila)

October 31 2009 at 5:43pm
"Kekalahan demi kekalahan itu memang menyakitkan. memang berat memberi nilai pada kehidupan. namun kepahitan yang dirasakan paling tidak akan menambah kedewasaan. Dan semoga saja melipatkan catatan kebaikan di mizan." (nukilan dari cerpen: Wanita Bermata Shangrila)

November 1 2009 at 1:44pm
"Sapi betina,tidakkah kau suka?" lanjutnya dengan nada canda. Senyum setipis garis hadir di bibir. "Ya, Al Baqoroh." kata pemuda berhati poranda. Sang sahabat menganguk sembari berkata, "Al Baqoroh,halaman ke 13 dari juz 2. Baris pertama. Tentu kau ingat ayatnya." "Aku ingat, 216. Wa 'asaa antakrohu syaian wa huwa khoirul lakum, wa 'asaa antuhibbu syaian wa huwa syarrul lakum." (nukilan dari cerpen: Wanita Bermata Shangrila)

November 3 2009 at 11:29am
Ada kalanya, hidup terasa pahit. Hingga seakan dunia menjadi sempit. Dan timbullah prasangka bahwa diri adalah manusia paling sengsara, paling menderita, paling nelangsa dan paling-paling yang lain. Padahal, mungkin saja kepahitan yang dialami tidak seberapa jika dibandingkan dengan kepahitan yang dirasakan oleh orang lain. Ah, memang …. "Innal insana khuliqo halu’a …"

November 6 2009 at 5:22am
Merenda hati menuju cinta hakiki...

November 8 2009 at 5:44am
Duhai jiwa yang sukar kugenggam, adakah akan tenggelam dalam kubang kenistaan... Yaa muqollibal quluub, tsabbit qolbii 'alaa diinik...

November 9 2009 at 5:13am
"Aku punya cita-cita.." kataku memecah kebisuan, dua orang sahabat di depanku serentak bertanya, "Apa?" Aku menjawab dengan senyum, "Reuni kita berikutnya, di surga.."

November 9 2009 at 1:30pm
Dia mengetuk pintu yang telah tertutup. Dia memanggil dari balik tabir meski kuberpaling. Dan terbitlah tanya dari lisannya,"Kenapa?" Mantap kujawab, "Karena masih ada banyak kota yang ingin kusinggahi, masih banyak jiwa yang harus kutemui dan aku tak ingin berhenti..."

November 10 2009 at 5:30am
Aku berusaha menyusun keping-keping asa. Dan menoreh kenangan yang berkesan di mata Tuhan. Agar nanti tak ada luka di lembar-lembar pertanggungjawaban, yang kuharap kuterima dari sisi kanan.

November 11 2009 at 5:54am
para sahabat nabi.... rendah hati menjadikan mereka tinggi... mereka mujahid tangguh di medan laga, hingga wangi surga tercium oleh mereka...

November 12 2009 at 4:53am
Tersenyumlah dan bersyukurlah karena anugerah itu masih lekat dan tanpa sekat. Meski pun mungkin hari-hari kita tak sama dengan manusia yang banyak harta. Meski ada banyak keinginan yang tertunda. Meski cita-cita itu tak jua tergenggam di tangan, Yakini saja suatu saat waktunya akan tiba. Karena DIA selalu mengabulkan pinta..

November 13 2009 at 4:32am
Apa pun itu yang menunggu, sesuatu yang disenangi atau dibenci, kepahitan atau kemanisan. Semua punya makna dan pelajaran, sebagai pancingan agar hidup semakin berkembang...

(Petikan kata-kata di atas adalah kumpulan status di Facebook milik "Tiada Nama")

Thursday, November 26, 2009

Ukhti, Kamu Cantik Sekali

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi hanya di mata manusia. Sedangkan yang Maha Kuasa tak pernah memandang rupa atau pun bentuk tubuh kita. Namun Ia melihat pada hati dan amal-amal yang dilakukan hamba-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi cantik fisik tak akan pernah abadi. Saat ini para pesolek bisa berbangga dengan kemolekan wajah ataupun bentuk tubuhnya. Namun beberapa saat nanti, saat wajah telah keriput, rambut pun kusut dan berubah warna putih semua, tubuh tak lagi tegak, membungkuk termakan usia, tak akan ada lagi yang bisa dibanggakan. Lebih-lebih jika telah memasuki liang lahat, tentu tak akan ada manusia yang mau mendekat.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi kecantikan hanyalah pemberian dan untuk apa dibangga-banggakan? Sepantasnya kecantikan disyukuri dengan cara yang benar. Mensyukuri kecantikan bukanlah dengan cara memamerkan, memajang gambar atau mengikuti bermacam ajang lomba guna membandingkan rupa, sedangkan hakekatnya wajah itu bukan miliknya.
Tidakkah engkau jengah bila banyak mata lelaki ajnabi yang memandangi berhari-hari? Tidakkah engkau malu ketika wajahmu dinikmati tanpa permisi karena engkau sendiri yang memajang tanpa sungkan. Ataukah rasa malu itu telah punah, musnah? Betapa sayangnya jika demikian sedangkan ia sebagian dari keimanan.

Ukhti, kamu cantik sekali
Tapi apa manfaat pujian dan kekaguman seseorang? Adakah ia akan menambah pahala dari-Nya? Adakah derajatmu akan meninggi di sisi Ilahi setelah dipuji? Tak ada yang menjamin wahai ukhti. Mungkin malah sebaliknya, wajah cantik itu menjadikanmu tak punya harga di hadapan-Nya, karena kamu tak mampu memelihara sesuai dengan ketentuan-Nya.

Ukhti, kamu cantik sekali
Kecantikan itu harta berharga, bukan barang murah yang bisa dinikmati dengan mudah. Dimana nilainya jika setiap mata begitu leluasa memandang cantiknya rupa. Dimana harganya jika kecantikan telah diumbar, dipajang dengan ringan tanpa sungkan. Dimana kehormatan sebagai hamba tuhan jika setiap orang, baik ia seorang kafir, musyrik atau munafik begitu mudah menikmati wajah para muslimah?

Ukhti, kamu cantik sekali
Alangkah indah jika kecantikan fisik itu dipadu dengan kecantikan hatimu. Apalah arti cantik rupawan bila tak memiliki keimanan. Apalah guna tubuh molek memikat bila tak ada rasa malu yang lekat. Cantikkan dirimu dengan cahaya-Nya. Cahaya yang bersinar dari hati benderang penuh keimanan. Hati yang taat senantiasa patuh pada syariat. Hati yang taqwa, yang selalu menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Hati yang sederhana, yang tak berlebihan dalam segala urusan dunia.

Ukhti, kamu cantik sekali
Maka tampillah cantik di hadapan penciptamu karena itu lebih berarti dari pada menampilkan kecantikan pada manusia yang bukan muhrimmu
Tampillah cantik di hadapan suamimu, karena itu adalah bagian dari jihadmu. Mengabdi pada manusia yang kamu kasihi demi keridhoan Ilahi.
Tampillah cantik, cantik iman, cantik batin, cantik hati, karena itu lebih abadi.

Monday, November 16, 2009

Apresiasi Cerpen "Ta'aruf Titi"

Oleh: El Herlian Ardivia*


1. Judul: Ta’aruf Titi

Judulnya tidak “eye catching’. Terkesan sangat biasa dan kurang persuasif.
Judul yang terlampau umum dan sederhana, bisa mengurangi minat pembaca untuk mengikuti alur cerita dari awal sampai akhir.

Judul itu daya jual pertama yg ampuh mempengaruhi ketertarikan pembaca, jadi memang harus dipilih dengan sebaik-baiknya dengan memakai diksi yang kuat dan tepat.

Beda dengan: “aku kehilangan dia dua kali” (membuat pembaca penasaran, karena hanya dengan membaca judul, kadang sudah timbul pertanyaan dalam benak hati)

Atau coba bedakan dengan judul-judul cerpen dibawah ini:
1 Aku, liebestraum, dan cinta itu
2. Jaring- jaring merah
3. Lebaran di karet-karet
4. Burung kolibri merah dadu
5. Nyanyi sunyi seorang bisu

2. Kata Asing

Di dalam cerpen ini banyak mempergunakan kata asing (bahasa arab dan jawa), tetapi tidak disebutkan keterangan arti kata-kata asing tersebut. Tidak semua pembaca mengerti bahasa asing yang penulis gunakan, jadi sewarjanya ditulis keterangan kata atau istilah-istilah yang digunakan dibawah cerpen. Semacam catatan kaki.
El menemukan:
Bahasa arab:

  1. Ta’aruf

  2. Ukh (ukhti)

  3. Anti

  4. Ente (antum)

  5. Akh (akhi)

  6. I’dad

  7. Syukran


Bahasa jawa:

  1. Nduk

  2. Mosok

  3. Ndak

  4. Sampeyan


Istilah asing:

  1. Mahdzab

  2. Harokah

  3. Nasab

  4. Jama’ah


3. Penceritaan

Ceritanya mengalir lancar. Bahasanya padat dan jelas. Hanya saja sangat sederhana. Terkesan begitu klise. Pembaca hanya membaca, dan selesai begitu saja. Tidak ada sesuatu yang meninggalkan kesan. Emosi pembaca tidak pernah dilibatkan. Pembaca hanya berekspresi biasa saja. Tidak kagum, tidak terharu, tidak tersenyum, atau bahkan tidak menangis. Tidak bisa menimbulkan kesan mendalam yang akan selalu diingat dibenak pembaca, meski mungkin telah berhari-hari lalu membaca ceritanya.

Eksplorasi alur cerita kurang detail dan matang. Begitu juga dengan tokoh dan penokohan yang begitu sederhana.
Ta’aruf memang proses yang biasa, tetapi dengan imajinasi penulis tentunya akan bisa mengemas cerita ta’aruf menjadi sesuatu yang luar biasa. Sesuatu yang bisa membuat pembaca menjadi cerdas dan memperoleh pencerahan.
Gitu di =)

Di, artikel-artikelmu itu lebih bagus dari cerpen ini lho.
Kenapa? karena bisa membuat kita berpikir, belajar, dan tercerahkan.
Bisa mengusik nalar dan nurani kita yang paling dalam. Hingga ada kesan yg tertinggal di memori dan membuat kita ingin urun ngomong (yg berarti sebuah bentuk apresiasi).
Segini saja Di. Makasih. Semoga bermanfaat. =)

 



*El Herlian Ardivia, saat artikel ini diunggah masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir FSSR UNS Surakarta

Ta’aruf Titi

Oleh: Ardhi el Mahmudi



Hari-hari terakhir ini Titi selalu tampak ceria. Senyuman begitu sering menghiasi bibirnya. Binar matanya menambah kesan rasa senang yang tidak bisa disembunyikan. “Tinggal besok, insya Allah.” Demikian gumamnya berulang-ulang. Esok hari seorang pemuda akan datang, pemuda yang ia tahu cukup baik agama dan nasabnya. Setelah beberapa proses melalui guru ngajinya, tukar- menukar biodata dan saling bertanya tentang kehidupan masing-masing -sebagai sebuah penjajakan sebelum melangkah ke jenjang berikutnya, proses ta’aruf itu pun hampir mendekati akhir. Pemuda itu akan datang ke rumahnya, bertemu dengan ibu dan saudara-saudaranya. Tentu saja untuk memperkenalkan diri dan mungkin juga meminta izin untuk menjadi bagian dari keluarga kecilnya.


“Kamu sudah ngabari masmu nduk?” Tanya ibunya, memecah kebisuan siang itu.


“Sudah bu, insya Allah besok mas Yus datang agak siang.” Sahut Titi.


“Dengan Isna juga kan?”


“Ya iya, mosok mbak Isna ditinggal sendiri.”


“Lha si Har sudah kamu kabari juga?”
Titi terdiam saat mendengar nama Har disebut, ada semburat mendung gelisah di wajahnya.


“Kenapa? Apa ndak kamu kabari?


“Belum bu, nanti saja kalau sudah pasti khitbahnya”


Ibu hanya memandang Titi sekilas dan tersenyum tipis, “Ya sudah kalau begitu, terserah kamu.” ujarnya kemudian.


Titi menghela nafas lega, ia tahu ibu pasti mengerti dengan keputusannya untuk menunda mengabari mas Har. Besok adalah ta’aruf Titi yang keempat kalinya. Dan ia sungguh ingin ta’aruf kali ini berakhir baik, berlanjut dengan khitbah dan kemudian menikah. Tidak seperti ta’aruf-ta’aruf yang lalu, yang selalu berakhir gagal setelah proses yang panjang. Hatinya masih pedih ketika mengingat hal itu, saat tiga lelaki membatalkan rencana untuk melamarnya, tentu saja dengan bermacam-macam alasan. Dan semua penyebab pembatalan itu dipicu oleh kakaknya yang nomor dua. Meskipun tidak secara langsung tetap saja bagi Titi mas Har adalah sumber semuanya.


Lelaki pertama adalah teman Titi di organisasi kampus. Titi tahu betul pemuda ini adalah sosok idealis, jabatan penting pernah diamanahkan kepadanya dan ia bisa disebut aktivis tulen, namanya Wahyu. Awalnya proses ta’aruf berlangsung lancar-lancar saja dan mereka sama-sama cocok.


Hingga pada saat bertandang ke rumah, Wahyu tampak terkejut melihat penampilan mas Har yang “tidak biasa”, gamis putih panjang selutut di padu dengan celana longgar yang menggantung di atas mata kaki. Tak lupa kopyah haji seakan telah lekat di kepala. Setelah berbincang-bincang dan bertukar pikiran dengan mas Har tampaknya Wahyu telah membuat sebuah kesimpulan bahwa ia berbeda dengan orang yang ada di hadapannya.


Tak lama kemudian dengan alasan tidak siap menghadapi perbenturan antar harokah, perbedaan madzhab dan jamaah, ia pun berpaling. “Picik.”Demikian anggapan Titi saat mendengar alasan Wahyu, apa dia kira jama’ahnya yang paling benar? Apa ia kira jama’ahnya bisa menegakkan islam tanpa adanya bantuan dari jama’ah yang lain, bukankah perbedaan itu sebuah keniscayaan, dan dia begitu pengecutnya lari dari sebuah kenyataan bahwa perbedaan itu pasti ada.


Pemuda kedua melakukan hal yang sama dengan yang pertama, membatalkan rencana khitbahnya tapi dengan alasan yang berbeda. Dia memang tidak sefanatik ikhwan pertama, ia juga bukan seorang aktivis organisasi yang sibuk atau diamanahi posisi penting. Dari biodata yang Titi terima, Titi mengerti pemuda bernama Irwan ini di kancah organisasi memang tak begitu tampak, biasa-biasa saja tapi di bidang akademis tak ada yang mengalahkannya. Berbagai lomba ilmiah ia menangi sejak usia SD hingga kuliah, pernah pula mengikuti pertukaran pelajar  tak heran bahasa asingnya mengalir seperti bahasa ibunya sendiri. Singkatnya di mata Titi dia sosok yang lurus dan cerdas, dan siapa yang akan menolak jika dipinang olehnya.


Dan  ketika Irwan bertandang ke rumahnya lagi-lagi sesuatu terjadi, awalnya obrolan begitu hidup, hangat dan tampak akrab. Dia datang sendiri dan begitu mudah mengambil hati orang-orang di rumahnya.


“Wah, dapat adik cerdas nih.”celetuk mas Har waktu itu dan disambut senyum tipisnya.


“Katanya pernah keluar negeri juga ya?” Tanya mas Yus.


“Alhamdulillah, iya mas”


“Bisa bagi-bagi cerita? Pengalaman selama disana, kulturnya mungkin, atau bagaimana perkembangan umat islamnya?” Dan mengalirlah ceritanya, dengan bahasa santun dan tidak terdengar nada menyombongkan diri, malah dia cenderung merendah. Ada satu nilai tambah yang di catat Titi, ketawadhuan.


“Ngomong-ngomong hafalannya berapa juz akh? pasti sudah banyak ya?” Tanya mas Har tiba-tiba.


“Nggak banyak kok mas, belum mulai ngapalin.”


“Tapi biasanya mahasiswa itu hafal juz 30 dan 29, iya kan?” kejar Mas Har


“Kalau saya belum kok mas”


“Walah, ndak usah merendah gitu, wong sampeyan ini pinter kok, pasti sudah hafal banyak” Mas Har menimpali lagi, masih dengan senyum.


Dan tiba-tiba saja sikap Irwan berubah, tampak tidak tenang dan pembicaraan pun mulai kaku. Ta’aruf hari itu pun berakhir tanpa kepastian.


Beberapa hari berikutnya Titi menerima pesan dari guru ngajinya bahwa Irwan membatalkan semuanya. “Maaf ukh, mungkin memang anti terlalu sempurna untuk saya, hafalan Qur’an saya masih bolong-bolong dan saya merasa tidak pantas mendampingi adik seorang hafidz qur’an.” demikian bunyi pesan Irwan di secarik kertas yg diberikan padanya. Lagi, hati Titi perih, saat itu berulang-ulang ia menggumamkan, “Jodoh itu rizki, jodoh itu rizki, laa haula wa laa quwwata illa billah”


Ikhwan ketiga juga seorang aktivis dakwah, spesialisasinya demo! Untuk masalah aksi turun ke jalan dia nomor satu. Zaenal nama pemuda itu, adalah seorang orator ulung dan pasti langganan menjadi korlap saat para mahasiswa di kampusnya turun ke jalan. Kata teman-teman Titi, pemuda ini mempunyai kepekaan dan jiwa sosial yang tinggi.


Dan lagi-lagi ketika Zaenal bertandang ke rumah, mas Har membuka obrolan. Kali ini tentang kondisi umat islam yang terus ditekan. Tentu saja dia langsung nyambung, karena memang itu kesukaannya. Obrolan mulai merembet ke masalah demonstrasi yang dilakukan elemen-elemen umat islam.


“Katanya ente aktivis demo ya akh?”tanya mas Har dengan nada canda.  Zaenal menganguk sopan sambil tersenyum.


“Apa tidak capek akh, panas-panas. Terus jalannya jauh?” Mas Yus ikut menimpali.


“Alhamdulillah mas, lha mau bagaimana lagi, bisanya baru menggalang dana dan ikut demo, belum bisa berbuat banyak”


“Ya, kita memang belum bisa berbuat banyak. Tapi kan harus tetap bersiap-siap.” Kata Mas Har.


“Iya mas, memang harus i’dad sebelum jihad.” Timpalnya.


“Ngomong-ngomong, akhi Zaenal belajar bela diri apa nih untuk persiapan jihad?”


“Eh, gimana mas?” Sepertinya Zaenal tidak siap dengan pertanyaan itu.


“Belajar bela diri apa?” ulang mas Har.


“Mmm anu mas, belum mulai.”


“Tapi olahraganya rutin kan”


“Ehm, ya begitulah.” Nadanya ragu, dan sepertinya sikap Zaenal juga berubah seperti sikap Irwan saat ditanya tentang hafalan Qur’annya. Ya, dia memang jarang olahraga, malah hampir tidak pernah. Lalu kenapa selalu kuat untuk ikut demonstrasi? Wajar saja kuat, karena dia tidak pernah ikut jalan kaki. Dia lebih sering numpang di mobil bak terbuka, memegang mic atau megaphone dan berteriak-teriak memimpin yel-yel, dan membakar semangat para demonstran.


Seperti yang sudah-sudah, Zaenal pun mundur teratur, menyadari kekurangan diri. Bidadari yang ia damba memang dikawal sosok yang jauh di atasnya.


Dan setelah pemuda-pemuda idaman itu berlalu Titi marah dan menyalahkan Har. Kesabarannya seakan habis,


“Mau mas apa sih?” tanya Titi dengan nada kecewa.


“Ada apa to De’?”


“Berlagak bingung lagi! Maksud mas itu apa nanya macam-macam sama dia, nanyain tenang beladiri segala, kurang kerjaan tau!”


“Lha, apa salahnya?”


“Ya salah! Gara-gara itu dia batal melamar Titi!”


“Mungkin belum jodoh”


“Belum jodoh? Enteng ya mas bilang begitu, mas tahu kan Titi sudah ta’aruf berapa kali? Tiga kali mas! Tiga kali! Dan semua gagal gara-gara mas!”


“Lho kok gara-gara mas?”


“Iya, semua mundur kan gara-gara mas! Wahyu batal melamar saat lihat mas pakai pakaian kayak gitu, ngapain mas pake gamis segala? Irwan juga mundur saat mas tanya hafalan Qur’an. Terus kemarin Zaenal mundur gara-gara ditanya masalah beladiri. Masih mengelak kalo bukan mas biangnya?”


“Mas nggak punya maksud begitu….”


“Trus maksud mas apa?!? Titi tahu mas itu hafidz, mas itu jago bela diri, tapi apa semua bisa seperti mas? Mas pengen mereka seperti mas semua?! Mas, mereka kan punya kelebihan sendiri-sendiri!”


“Mungkin memang mereka tidak tepat buat ade’, kan …”


“Gak usah tausiyah deh, percuma! Mas suka ya Titi tidak juga dapat jodoh, ndak nikah-nikah! mas sih enak! Mas laki-laki, nikah umur 30 juga ndak papa. Lha aku? Aku perempuan mas! Mas suka ya adeknya jadi perawan tua!?”


Titi tak peduli bagaimana reaksi Har mendengar cercaannya, dia langsung pergi mengurung diri di kamar semalaman. Paginya, dia tak mendapati Har lagi, “Sudah kembali ke Pesantren.” Jawab  ibunya waktu ia tanya tentang Har, dan jawaban itu melegakannya.


* * *


Akhirnya hari yang dinanti tiba, ta’aruf yang keempat kalinya. Titi menunduk malu-malu menghadapi orang yang dinanti. Sesekali ia mencuri pandang, ada debar aneh saat mendengar suaranya, bias harap dan asa menari di hatinya. Mas Yus berbincang akrab dengan pemuda itu, ibu dan mbak Isna kadang ikut menimpali.


Di tengah percakapan mereka tiba-tiba terdengar ucapan salam, “Assalamu’alaikum”


Reflek, semua mata menatap ke arah pintu sembari menjawab salam. Di sana berdiri sosok yang tak asing bagi keluarga Titi. Kopyah putih, dengan gamis panjang selutut dengan warna yang sama dan celana longgar yang ujungnya menggantung di atas mata kaki.


“Mas Har?” desis Titi, tiba-tiba tangannya menjadi dingin, tubuhnya seakan beku. Dia tidak peduli lagi saat obrolan dilanjutkan dengan tambahan pemain. Titi hanya menajamkan telinga, menanti mas Har melontarkan tanya pada calon suaminya. Semenit, dua menit, setengah jam tapi tak juga terdengar suara tanya mas Har. Ia hanya sesekali tertawa kecil atau menjawab pertanyaan yang dilontarkan padanya.


“De’ bagaimana?"


“Hah? Apa?” Titi agak linglung ketika tiba-tiba mas Yus bertanya padanya.


“Kok malah melamun to? Kamu dilamar, kamu jawab apa? Menerima atau menolak.” Lanjut mas Yus. “ Kalau ibu sama mas-masmu sudah terserah kamu.” Timpal Ibu.


Dilamar? Titi seakan masih belum percaya, ia memandang ibu yang duduk di samping mbak Isna, kakak iparnya, keduanya tidak berhenti tersenyum. Mas Yus juga sama. Dan saat matanya bertemu dengan wajah mas Har yang datar tanpa ekspresi, benaknya pun menari-nari, menebak apa yang dipikirkan masnya itu tentang calon suaminya. Dan tiba-tiba saja ada keraguan untuk menjawab “ya”.


“Maaf saya tidak bisa menjawab sekarang, karena….” Sebisa mungkin Titi melontarkan alasan-alasan agar bisa menunda jawaban. Entah kenapa bila mas Har tidak berkomentar seperti ada yang kurang. Itulah yang ia rasakan. Laki-laki itu tampak terkejut dengan jawaban Titi, tapi berusaha menguasai diri. “Kalau memang begitu insya Allah akan saya tunggu.” katanya kemudian.


Sepeninggal tamu istimewanya, Titi mendekati Har, “Mas” sapanya.


“Dia baik, hafalan Qur’annya memang belum banyak tapi katanya dia mau nambah kok, dia juga…”


“Ya sudah, kalau kamu cocok ya diiyakan saja, nggak usah promosi.” Potong Har, sembari tersenyum.  “Yang mau nikah kan kamu, kalau sudah mantap ya diteruskan saja.” Lanjutnya.


“Berarti boleh?” Tanya Titi memastikan. Har tersenyum tipis dan menganguk,


“Alhamdulillah. Syukron mas!”


“Nih! pangeranmu langsung dikabari saja, kasihan kalau nunggu lama-lama” kata Har sembari menyodorkan ponselnya. “Tapi sms saja ya, pulsanya limit..” Dan tawa ceria Titi pun berderai, ia lega.



Pesma arroyan, 12 Oktober 08
(untuk zayyan yang menempuh jalan berliku demi separuh dien itu, barakallahu lak)

Sunday, November 8, 2009

Sajak Terserak 1 : Fatamorgana Rasa

Hiburlah Dia

Tegurkan cinta yang membeku
di sudut hati membiru
Sapa ia
lewat lisan menawan
Dia terlalu sedih, terasing dalam kesendirian
Tutup pintu lukanya,
lewat buai lembut
penuh cumbu memupuk sebut
Dekati saja, temani jua, ia kan terbalut
Lekat kau duduk, peluk kau renggut
Memahatkan asmara, membuah ceria
yang sempat terkikis sirna

------------------------------------------------------------

Duhai Rindu

Wahai rindu yang merajam
Tolong, biarkan hati ini tenang
Sejenak, agar tiada bimbang

Wahai rindu yang menggebu
Tolong, undurlah deburan di kalbu
Sebentar, hingga disapa waktu

Wahai rindu yang menggelora
Tolong, jangan ada lagi lara
Terulang, hingga sakit tak lagi terasa

------------------------------------------------------------


Siapa disana..

Siapa ini, yang mengisi tiap mili dengan pesona di hati.
Siapa dia, yang menjadi berharga dan membuat terlena.
Siapa? Siapa?
Siapa, yang menjadikanku terhempas, tenggelam dalam peluh kerinduan
Siapa, yang menguburku dalam remah-remah kepiluan
Siapa? Siapa?
Siapa, yang membiarkanku terpuruk dengan jiwa terkesan,
terdiam memandang menikam
Siapa? Siapa?
Siapa gadis berkacamata disana...

------------------------------------------------------------


Hasrat-hasrat

Siapa berpuisi?
membelah hari-hari dengan kata
sarat makna ungkapan rasa
Siapa bersajak?
Mengirim kerak-kerak rangkaian kalimat
penuh hasrat
lukisan jiwa pendamba

Hasratku tuliskan puisi
untuk putri bermata jeli
yang hadir dalam mimpi-mimpi

Hasratku tuliskan sajak
mewakili kuncup-kuncup terinjak
kaki-kaki penebar kehendak

Hasratku tuliskan prosa
bagi anak manusia
yang sempat tumbuhkan benih cinta
beraroma, berasa dalam dada

hasrat-hasrat hatiku... menggebu.

Wednesday, November 4, 2009

Kaukah Orangnya...?

Kaukah orangnya, yang membenamkan diri dalam kelam malam sembari bercinta dalam dekap keagungan Tuhan. Melantunkan 'surat cinta' sang Pencipta yang dianugerahkan pada manusia. Menenggelamkan diri dalam cahaya yang muncul dari pengakuan akan Kuasa-Nya.

Kaukah orangnya, yang tak ragu melangkah di jalan sunnah. Meneladani tiap mili gerak Nabi. Mengambil segala cakap ucap, segala tindak tanduk dan segala tingkah polah sang pembawa risalah.

Kaukah orangnya, yang terus menapaki jenjang-jenjang kesholihan tanpa jeda. Yang merangkum hari dengan kebaikan tanpa sela. Yang menghabiskan detik demi detik dalam bingkai kemanfaatan tanpa reda.

Kaukah orangnya, yang tak jemu menyeru manusia menuju Tuhannya. Merambah lika-liku dakwah tanpa keluh kesah, tanpa pernah berkata "aku lelah"

Kaukah orangnya, yang begitu menganggap biasa kubang pujian manusia dan senantiasa membalut diri dengan keikhlasan dalam bekerja, semata mendamba keridhoan sang Maha Pemelihara.

Kaukah orangnya, yang tak bosan menyapa sesama dalam ketulusan rekah senyuman dan menghulurkan persaudaraan dalam bingkai keimanan.

Kaukah orangnya...

Kaukah orangnya, seorang merdeka yang telah mengetahui wujudnya dan lantang berseru, "Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam yang tiada sekutu bagi-Nya. Kepada yang demikian itulah aku diperintahkan dan aku termasuk orang-orang yang berserah diri."

UBIN

oleh:  Ardhi  El Mahmudi


Setelah sholat subuh Parto sengaja tak segera pulang. Masjid sudah sepi hanya tinggal dia dan mbah haji Bakir, imam masjid, yang sedang khusyuk berdzikir. Parto menyandarkan punggungnya ke salah satu tiang masjid. Dia diam saja layaknya orang bertafakur atau berdzikir dalam hati. Tapi sebenarnya ia melamun dan asyik dengan pikirannya sendiri. “Mungkin Sami’un punya?” gumamnya lirih. “Tapi Istrinya baru saja melahirkan. Tidak mungkin ia punya uang cadangan. Pasti semua untuk si jabang bayi. Kalau Tardi? Ah, penjudi itu kapan pernah punya uang? Setiap pegang uang larinya pasti ke meja judi. Paling dia juga utangnya menumpuk. Sastro? Ya dia pasti punya. Tapi dia itu lintah darat. Mendingan tak usah pinjam dia, susah sendiri nanti. Atau Kandar? Utang yang kemarin saja belum kubayar. Malu kalau mau utang dia lagi.”

Parto mendesah, kalau bukan karena istrinya yang merengek-rengek dia tak perlu repot memilah dan memilih teman-temannya yang punya uang lebih. Cari utangan saja susah apalagi cari uang sendiri. Mata Parto berputar dan akhirnya menunduk memandang ke bawah, lantai masjid ini tampak bagus, ubinnya dari kayu tidak licin, kalau malam tentunya tidak dingin dan kalau siang pun tidak terasa panas. Sedangkan lantai rumahnya masih tanah, penuh debu. Lantai, itulah penyebabnya, istrinya minta lantai rumahnya diberi ubin. Percakapan semalam masih terngiang di telinganya.

“Mas, mbok ya rumah ini diberi ubin. Mas ini kan sudah lama jadi pegawai, mosok lantai rumahnya masih tanah. Apa ndak malu?”

“Belum ada uangnya Sri, aku kan hanya pegawai kecil. Golongan rendah. Gajiku berapa sih? Sabar dululah, kita nabung dulu.”

“Utang kan bisa?”

“Kita sudah banyak utang.”

“Kasihan thole, dia mulai bisa mbrangkang. Kalau lantainya masih tanah kan ndak bersih. Bisa-bisa penyakitan, debunya banyak.”

Parto pun menyerah, dan mulai mencoba mencari utangan. Sami’un, Tardi, Kandar dan teman-temannya sesama pegawai tak bisa diharapkan. Mereka sama-sama hidup pas-pasan, gaji sama-sama kecil.

“Ada apa Le? Tidak pulang?” suara mbah haji Bakir mengusik lamunannya.

“Ah ndak apa-apa mbah haji, hanya ingin ngadem di mesjid.” Sekenanya ia menjawab, mencoba menutupi masalahnya. Parto salah tingkah saat haji Bakir menatapnya lama.

“Ada masalah apa di rumah? Cerita saja!” Rasa tidak enak menyergap dada Parto saat mendengar pertanyaan mbah haji Bakir, dia sudah terlalu sering merepotkan lelaki sepuh itu. Sejak dia kecil, saat ia remaja, hingga ketika ia kesana-kemari mencari kerja semua tak lepas dari bantuan mbah haji Bakir. Segan dan malu rasanya untuk mengeluh lagi pada beliau, apalagi ia sudah menikah. Guru ngajinya itu memang cukup sayang pada Parto, mungkin karena Parto orangnya nurutan, dan tidak suka neko-neko.

“Kenapa diam? Ndak usah ngapusi, mbah tahu kamu ada masalah. Masih ndak mau cerita?” tatapan sejuk orang tua itu mengikis keraguan di hatinya.

“Tak apalah sedikit cerita siapa tahu mbah haji punya jalan keluar.” Kata hati Parto. Dan meluncurlah ceritanya, tentang istrinya yang minta ubin, anaknya yang mulai bisa merangkak dan juga rencananya cari utangan.

“Oh itu to, Kalau kamu mau di rumah masih ada semen sama pasir, mungkin cukup untuk nambal lantai rumahmu.” Tawar mbah haji Bakir.

“Nggak usah repot-repot mbah, biar nanti saya …”

“Cari utangan? Kamu itu, sejak nikah kok kemaki. Biasa wae, sudah ..!, besok ambil saja, dari pada repot-repot cari utangan. Apa mau barangnya sekalian diantar ke rumahmu?”

“Eh ndak usah mbah, biar saya saja yang ngambil.”

“Lha mbok ya gitu, yo wis, aku pulang. Jangan lupa diambil.” Pamit mbah haji Bakir sembari menjabat erat tangan Parto dan menepuk pundaknya. Dalam hati Parto berjanji akan mengembalikan semen dan pasir yang ia ambil dari rumah haji Bakir. Ia menganggap semua itu adalah utang.

* * *


Parto lega, akhirnya lantai tanah itu tertutupi, memang bukan dengan ubin tapi hanya plesteran semen. Memang tak mewah tapi cukup bisa mengurangi debu tanah hingga nanti anaknya bisa leluasa bermain di lantai. Dan yang jelas bisa menutup mulut istrinya yang terus-terusan minta ubin. Tapi kelegaan itu tak begitu lama, beberapa hari kemudian mulut istrinya bersuara lagi.

“Mas beli karpet ya? Lantainya dingin.” Rajuk istrinya. Melihat Parto tak menanggapi, sang istri melanjutkan dengan alasan lain.

“Kasihan thole sering masuk angin setelah tiduran di lantai. Semen kan lembab kalau musim hujan.”

“Ya jangan tidur di lantai, di kasur kan bisa.”

Simbok juga sering ngeluh dingin kalau sedang duduk-duduk. Asmanya bisa kambuh nanti. Rematiknya juga.” Istrinya tak menyerah membujuk.

“Apa hubungannya asma dengan lantai dingin?” batin Parto, tapi ia tak kuasa mendebat istrinya.

“Ya nanti dipikir, aku belum punya uang. Sabar ya, kita nabung dulu.” Ucap Parto akhirnya.

“Utang kan bisa?”

“Sri utang kita sudah banyak, utang sama mbah haji Bakir saja belum kita bayar mosok mau cari utangan lagi? Belum lagi utang ke Kandar waktu thole sakit, utangmu ke warungnya yu War belum dibayar juga kan? Sekarang masih mau cari utangan? Punya utang itu hidup tidak tenang.” Panjang lebar Parto mencoba menasehati. Istrinya pun diam sambil cemberut.

“Sabar dululah Sri, kalau nanti ada rejeki kita beli karpet.” Percakapan itu pun berakhir, istri Parto tampaknya sudah mulai menerima meski masih dengan wajah tertekuk.

* * *


Hari menjelang ashar, dalam lelah Parto melangkah., perut yang lapar dan kepenatan memaksa kakinya bergegas. Tapi seketika rasa laparnya menguap ketika mendapati keadaan lantai rumahnya yang berubah.

“Lho, karpet siapa ini Sri?” tanyanya terkejut.

“Karpet kita! Lha memangnya karpet siapa?” jawab si Sri sambil mengulum senyum.

“Kamu beli pakai apa? Uang dari mana? Kamu utang ke siapa?” Cecar Parto menyelidik.

“Sabar mas, nanyanya mbok ya satu-satu. Ini nggak utang kok, ini kreditan.”

“Apa bedanya dengan utang?”

“Ya beda!”

“Aku kan sudah bilang, ndak usah beli karpet dulu. Kamu kok ndak mau sabar to?”

“Sabar gimana? Lha nanti kalau thole masuk angin gimana? Ujung-ujungnya cari utangan juga kan, buat periksa? Buat nebus obat? Hayo? Kata bu Bidan kan mencegah lebih baik dari pada mengobati.”

Parto tidak berminat mendebat istrinya, dari pada nanti perang, lebih baik diam. Dia hanya mendengus dan berlalu dengan jengkel. Parto sering heran dengan tingkah istrinya itu, apa tidak memikirkan keadaan rumah tangganya yang pas-pasan.

* * *


“Mas pijitin dong, aku capek, thole tadi ngompol di karpet.”

“Suruh siapa beli karpet.” batin Parto. Tapi tangannya tetap bergerak memijit lengan dan pundak istrinya.

“Pasang keramik saja ya mas, kan nggak harus nyuci kalau kena ompol.” Parto menghela nafas panjang sembari membatin kenapa istrinya tidak juga merasa cukup dengan yang ada.

“Dingin, licin. Nanti kalau thole masuk angin gara-gara tidur di lantai atau kepleset gimana?”

“Nggak kok.”

“Kamu kok ngeyel,”

“Di tempat yu War nggak dingin. Nggak licin banget.”

“Itu bukan keramik, itu marmer.” Jawab Parto sok tahu, padahal dia belum pernah masuk ke rumah yu War. Selain itu sebenarnya dia juga tidak tahu apa bedanya keramik dengan marmer.

“Ya udah pasang marmer saja.”

“Mahal, bisa-bisa jual rumah buat beli marmer.”

“Mosok sampai jual rumah, utang kan bisa?”

“Mau utang lagi? Karpetmu saja belum lunas.” Sri diam, sesekali meringis ketika Parto memijit agak keras.

“Kalau ubin kayu gimana mas? Ganti ubin kayu saja ya mas, kan tidak dingin, tidak licin.mungkin saja lebih murah.”

“Carinya susah harus ke luar kota.”

“Lha yang di masjid itu?”

“Itu sumbangan. Belinya juga aku ndak tahu dimana.”

Istri Parto nampak diam, matanya terpejam menikmati pijatan sang suami. Parto lega, akhirnya istrinya berhenti berkata-kata, dan tangannya tetap bergerak di pundak istrinya.

***


Seperti hari-hari yang biasa dijalani. Parto pulang menjelang ashar. Tatap heran muncul di wajahnya saat didapatinya tumpukan kardus di depan rumah. Istrinya yang berdiri menyambutnya langsung ditanya.

“Apa ini Sri?”

“Marmer.” Jawab istrinya kalem.

“Uang dari mana?”

“Dari kang Sastro.”

“Rentenir itu?”

“Bunganya kecil kok mas. Cuma dua persen.”

Tiba-tiba kepala Parto pening, terbayang pasir dan semen dari haji Bakir yang belum dikembalikan, karpet yang belum lunas cicilannya, dan sekarang ditambah utang berbunga. Dia merasa begitu marah pada istrinya.

“Kamu sudah kelewatan Sri! kapan kamu mau nurut sama aku!?” keras suara Parto.

Tanpa memperdulikan istrinya yang terkejut dengan bentakannya Parto pergi meninggalkan rumah. Dan istrinya memandanginya dengan tatap tak mengerti.

(Ar Royyan, 7 Juni 2006) Qona’ahkah kita?


thole / le : panggilan untuk anak laki-laki


mbrangkang : merangkak


neko-neko : macam-macam


nurutan : penurut


ngapusi : berbohong


Biasa wae : biasa saja


Simbok : Ibu


yu : kependekan dari mbakyu




Cerpen ini pernah di muat di Lembar Khazanah (eLKa) majalah Sabili, edisi berapa ya? lupa.... ^_^.   Ada yang tahu?

Saturday, October 31, 2009

Ibuku Sendiri Lagi

Ibuku sendiri lagi,
saat anak-anak kehilangan kaki
untuk melangkah dan berlari menemui
"Cukup di hati." kata mereka
saat kutanya "tidakkah kau rindu pada ibu."

Ibuku sendiri lagi
Dengan lingkaran kerinduan
tak pernah diungkapkan, memang.
Karna kita terlalu bebal
untuk mendengar

Hadirlah disini, pintaku

Pernah rasa merajam hati
menjadi serpih-serpih sepi
ingin kuteriakkan agar kau dengar
dengan gema yang memantul
di sisi-sisi detak sanubari

Hadirlah disini,
pintaku
tenangkan gejolak gelombang gundah resah
redam gemuruh rusuh
bunuh getar gentar gemetar

Hadirlah disini,
pintaku
obati kerinduan dengan lengkung senyuman
susunkan hatiku yang terkotak koyak
menyempit tersudut di antara sakit

Hadirlah disini, pintaku

Thursday, October 22, 2009

Bunga-Bunga Benalu di Hatiku

Momen itu masih lekat dalam ingat. Saat kamu memandangku dengan bingkai malu, mata itu seakan ingin mengatakan sesuatu. Betapa hatiku berbunga ketika tatap mata itu menyapa karena tatapan itu bagiku adalah jawaban dari harapan yang sekian hari kututupi. Pandangan itu adalah sebuah tanda kesediaan atas pinta-pinta yang tak sempat terucapkan. Meski hanya sekilas, meski sebentar, meski hanya sekali, tatapan itu begitu berarti...

Di ruang kuliah bercat kusam, dengan bangku-bangku model kuno yang terbuat dari besi penuh karat dan kayu-kayu berat. Aku dan kamu duduk berbaur dengan puluhan mahasiswa lainnya, melihat ke arah yang sama, ke depan, tempat seorang dosen sedang berkoar menerangkan mata kuliah Belajar Pembelajaran.
Entah dari mana bermula ketika tiba-tiba sang dosen menyinggung masalah pernikahan. Reflek aku memandang ke arahmu, tak kusangka kau pun sedang memandangiku dengan senyuman setipis garis. Dan kutemukan binar yang tak biasa disana, yang membuat taman di hatiku makin dipenuhi bunga-bunga.

Di antara kita memang tak pernah terucap kata-kata ungkapan rasa. Semua tersimpan dalam hati dengan rapi. Sebelumnya pun aku tak pernah tahu rasa di hatimu, tapi setelah tatapan itu binar harapan kian terang, sayang itu tak akan bertepuk sebelah tangan.

Namun, seiring waktu yang berjalan, kehendak memang tak selamanya bisa dipaksakan. Segala ingin tak juga bisa selalu didapatkan. Kehidupan kampus dan pergaulanmu dengan kalangan tertentu telah mengubah asa yang pernah ada. Yang kutahu, pengetahuanmu tentang agama dan harokah kian bertambah, maka makin mengertilah kamu tentang batas-batas itu.
Sedang aku? Meski telah mengerti jauh-jauh hari, aku masih saja memelihara bunga-bunga yang rupanya adalah benalu bagi hatiku.

Akhirnya, segala puji hanyalah milik-Nya. Kesadaran itu pun datang. Benalu yang kukira bunga ini memang seharusnya dibuang dan tak sepantasnya dipelihara. Tapi bagaimana cara memusnahkannya, sedang bayanganmu selalu muncul di ekor mata?

Setelah kesulitan pasti ada kemudahan, setiap kita berazzam pasti akan diberi jalan. Dan jalan itu pun terbentang, Dia -atas kuasanya- telah memberi keberanian untuk membuat sebuah keputusan. Putusku pergi agar perjumpaan itu tak lagi terjadi.
Dan kini bayanganmu tak lagi merajam hati. Rasa itu sekarang bukan sesuatu yang menyakitkan. Bukan pula siksaan yang membuat terkapar. Rasa itu telah menjadi kenangan, sekedar hiasan bagi kehidupan.

Pelan tapi pasti, bayanganmu hilang ditelan kesibukan. Bunga-bunga benalu itu pun layu. Harapan-harapan itu pun tak lagi menggebu. Tinggallah kini kepasrahan bersemayam, menyerahkan semuanya pada ketentuan yang telah tertuliskan.
Aku telah berhenti berharap, karena ada sesuatu yang lebih utama dari pada memelihara bunga. Ada yang lebih penting dari pada menapaki jalan dengan hati kering.

Karena jiwaku milik zaman. Karena diriku hidup untuk sebuah pengabdian.
Demi sesuatu yang abadi. Demi menyiapkan pertemuan dengan Yang Maha Suci. Demi janji-janji yang diikrarkan oleh diri. Demi hari yang pasti terjadi. Aku ingin bersegera menuju sebuah panggilan,
"Duhai jiwa, terjunlah ke medan laga. Turun! atau kau harus dipaksa. Kulihat engkau membenci surga. Sungguh kalaupun kau tak gugur, kau pasti kan binasa jua..."

Friday, October 16, 2009

Analisis kecil puisi "Senja itu berlalu"

Analisis kecil puisi "Senja itu berlalu": dilihat dr segi Stilistika
(oleh: EL Herlian Ardivia*)

Senja itu berlalu

Tergolek senja di antara kaki pendusta
Saat mentari lari dari hati
Tegurnya tak lagi menari
Beribu nama membuang sukma
Beribu jiwa silaukan mata
Duga-duga hadir dalam gurat muka


Sang senja menata mati
Tertutup kaki pendusta sejati
Sinis tatap pendengki
Sang kelam merangkak pasti
Peluk pendusta setengah hati
Cericit-cericit menghias
Kabut turun terhempas
Selubungi peluk setengah terlepas


Tubuh-tubuh terbungkus
terikat belenggu-belenggu tak tentu
sang senja pun begitu
dalam rengkuh berbuhul ujung
lubang-lubang ternganga sambutannya
masuklah, tak keluar selama
tertimbun tapak-tapak liat
senja telah mangkat

( Ardi El Mahmudi)

Analisis
1. Diksi nya padat. tidak ada 1 diksi pun yang bisa dihilangkan agar 1 bait tetap utuh.

2. Ada banyak asonansi di semua bait . Asonansi merupakan gabungan/komposisi huruf vokal, yang berfungsi memperlancar bunyi. Jadi ketika puisi dibaca, akan terdengar bunyi yang lancar dan efonis (merdu).

A) asonansi /a/:

bait 1
Tergolek senj/a/ di ant/a/ra k/a/ki pendust/a/
Sa/a/t ment/a/ri l/a/ri d/a/ri h/a/ti
Tegurny/a/ tak l/a/gi menar/i/
Beribu nam/a/ membu/a/ng sukm/a/
Beribu jiw/a/ silauk/a/n mat/a/
Dug/a/-dug/a/ h/a/dir d/a/lam gur/a/t muk/a/

B) asonansi vokal /a/, /i/, dan /e/

bait 2
S/a/ng senj/a/ menat/a/ mat/i/
T/e/rtutup kak/i/ p/e/ndusta s/e/jat/i/
Sin/i/s tatap pendengk/i/
S/a/ng kel/a/m merangkak p/a/st/i/
P/e/luk p/e/ndusta s/e/tengah hat/i/
C/e/ric/i/t-c/e/ric/i/t mengh/i/a/s/
Kabut turun terhempa/s/
S/e/lubungi p/e/luk s/e/tengah t/e/rlepas

C) asonansi vokal /u/, /e/, dan /a/

bait 3

Tub/u/h-tub/u/h terb/u/ngku/s/
t/e/rikat b/e/lenggu-b/e/lenggu tak t/e/nt/u/
dalam rengkuh berbuhul ujung
lubang-lubang terngang/a/ sambutanny/a/
masuklah, tak k/e/luar s/e/lama
t/e/rtimbun tap/a/k-tap/a/k li/a//t/
s/e/nja t/e/lah mangka/t

3. Ada banyak aliterasi di semua bait. Aliterasi merupakan komposisi huruf vokal dan huruf konsonan.

A) asonansi /t/+/e/, /t/+/a/ , /b/+/e/:

bait 1
/Te/rgolek senj/a/ di an/ta/ra kaki pendus/ta/
Sa/at/ men/ta/ri lari dari h/at/i
/Te/gurn/a /ta/k lagi menari
/Be/ribu nama/ membua/ng sukm/a/
/Be/ribu jiwa/ silauk/a/n mat/a/
Duga-duga hadir dalam gur/at/ muka

B) asonansi vokal /a/, /i/, dan /e/

bait 2

S/a/ng senj/a/ menat/a/ mat/i/
T/e/rtutup kak/i/ p/e/ndusta s/e/jat/i/
Sin/i/s tatap pendengk/i/
S/a/ng kel/a/m merangkak p/a/st/i/
P/e/luk p/e/ndusta s/e/tengah hat/i/
C/e/ric/i/t-c/e/ric/i/t mengh/i/a/s/
Kabut turun terhempa/s/
S/e/lubungi p/e/luk s/e/tengah t/e/rlepa

C) asonansi vokal /u/, /e/, dan /a/

bait 3

Tub/u/h-tub/u/h terb/u/ngku/s/
t/e/rikat b/e/lenggu-b/e/lenggu tak t/e/nt/u/
dalam rengkuh berbuhul ujung
l/u/bang-l/u/bang terngang/a/ samb/u/tanny/a/
masuklah, tak k/e/luar s/e/lama
t/e/rtimbun tap/a/k-tap/a/k li/a//t/
s/e/nja t/e/lah mangka/t/

4. Ada beberapa bunyi kakafoni. Kakafoni merupakan bunyi yang terdengar ‘merusak “ bunyi lain. Biasanya bunyi kakafoni ditandai huruf /k/, /p/, /t/, dan /s/.

Terlihat pada beberapa penggunaan kata:
*pendusta, tak, silaukan ( bait 1)
*mati, sinis, merangkak, pendengki, tegurnya, terhempas, terlepas, kelam (bait 2)
*tertimbun, mangkat, tak tentu (bait 3)

5. Ada banyak rima akhir

bait 1
A) rima akhir yang diakhiri huruf /a/ dan /i/

terdapat pada kata-kata; pendusta, sukma, mata, muka, hati, dan menari.

Tergolek senja di antara kaki pendust/a/
Saat mentari lari dari hat/i/
Tegurnya tak lagi menar/i/
Beribu nama membuang sukm/a/
Beribu jiwa silaukan mat/a/
Duga-duga hadir dalam gurat muk/a/

bait 2

B) rima akhir yang diakhiri aliterasi huruf /t/+/i/ dan huruf /s/+/a/

terdapat pada kata-kata; mati, sejati, pendengki, pasti, menghias, terhempas, dan terlepas.

Sang senja menata ma/ti/
Tertutup kaki pendusta seja/ti/
Sinis tatap pendeng/ki/
Sang kelam merangkak pas/ti/
Cericit-cericit menghi/as/
Kabut turun terhemp/as/
Selubungi peluk setengah terlep/as/

bait 3
B) rima akhir yang diakhiri asonani vokal /u/ dan aliterasi huruf /a/+/t/
terdapat pada kata: terbungkus, tentu, begitu, liat dan mangkat

Tubuh-tubuh terbungk/u/s
terikat belenggu-belenggu tak tent/u/
sang senja pun begit/u/
dalam rengkuh berbuhul uj/u/ng
lubang-lubang ternganga sambutannya
masuklah, tak keluar selama
tertimbun tapak-tapak li/at/
senja telah mangk/at/

5. Ada perulangan kata

A) perulangan di awal kalimat,

seperti kata: /beribu/, pada bait pertama, larik ke 4 dan 5.

/sang/, pada bait ke dua, larik 1 dan 4.

B ) perulangan lain seperti: - duga-duga (bait 1, larik ke 6),
- cericit-cericit (bait 2, larik ke 6)
- tubuh-tubuh (bait 3, larik pertama)
- belenggu-belenggu (bait 3, larik ke 2)
- lubang-lubang (bait 3, larik ke 5)
- tapak-tapak (bait 3, larik ke 7)

6. puisi ini bertabur metafora, dari awal sampai akhir puisi. Yang paling menonjol adalah beberapa personifikasi yang terdapat dalam larik-lariknya.

Diantaranya yaitu sebagai berikut.
1. tergolek senja di antara kaki pendusta
2. saat mentari lari dari hati
3. tegurnya tak lagi menari
4. sang senja menata mati
5. sang kelam merangkak pasti
6. senja telah mangkat

7. Puisi di atas memiliki banyak kelebihan dari segi stilistika, yang menjadikannya efonis ketika diapresiasi secara lisan (poetry reading). Dalam segi diksi maupun keindahan bahasa yang lain (yang ditunjukkan dengan banyaknya asonansi, aliterasi, beberapa kakafoni, dan banyaknya metafora), puisi ini mampu memberikan sentuhan emotif dan ekspresif, baik bagi puisi nya sendiri maupun bagi pembacanya.

***
Catatan (nambah dikit)
1. Di, judul puisi nya kan “senja itu berlalu”, judul ini bagus. Ketika el membaca sampai akhir , ada klimaks puisi yang bagus banget menurut el, diwakili 2 kalimat;

“…tak keluar selama
tertimbun tapak-tapak liat,
senja telah mangkat”

naah, knapa ya el berasanya puisi ini lebih mantab ketika judulnya “Senja Telah Mangkat” heeee…
jadi judulnya sama dengan kalimat terakhir puisi..
ini hanya masukan Di

2. Terus menulis Di..
Kita memang tidak bisa buat sejarah, tapi minimal kita punya karya yang menyejarah buat kita secara pribadi. Tinta emas buah akal kita yang akan kita kenang seumur hidup. Proses kreatif sbg pembelajaran terus menerus tentang hidup yang pernah kita miliki.
Pun ketika tidak ada yang peduli dengan karya kita, tidak lah menjadi masalah, karena kita bisa belajar dari apa yang kita tulis. Tulisan kita mampu menjadi pengingatan atau semacam taujih untuk kita secara pribadi, yang senantiasa berdengung-dengung agar kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Sungguh, sesuatu yang berharga bukan.

*El Herlian Ardivia, saat artikel ini diunggah masih tercatat sebagai mahasiswi tingkat akhir FSSR UNS Surakarta

Friday, October 9, 2009

Duhai Akhi yang menegurku di serambi...

Masjid kampus UGM, menjelang dhuhur.
Di salah satu sudut serambinya aku duduk berdua dengan seorang wanita. Kami berbincang akrab, sesekali kami tertawa bersama. Setiap orang yang memandang bisa mengatakan kami tampak mesra.

Aku tahu beberapa pasang mata berulang kali menatap ke arah kami. Aku tertawa dalam hati dan membatin, "Emang gue pikirin!" Dan aku pun mencoba menikmati tatapan mata mereka.

Beberapa saat kemudian, seorang pria berkopyah dengan baju koko yang dipadu dengan sarung berwarna gelap datang menghampiri kami. Dia mengucapkan salam, memperkenalkan diri sembari mengulurkan tangan. Aku pun menjabat tangannya dan menyebutkan nama. Tapi kulihat dia tidak begitu memperhatikan namaku siapa. Mata itu juga tak nampak ramah. Sorotnya dingin. Bibirnya membentuk garis datar, cenderung melengkung ke bawah dari pada ke atas. Lelaki beku tanpa senyum.

Dari sikapnya aku telah menangkap maksudnya. AKu tak mau kalah, saat dia menatapku dan sesekali melirik wanita di sampingku, maka aku pun balas menatapnya. Bedanya, di bibirku ada sedikit senyuman yang akan menjadi senyum kemenangan.

Tanpa basa-basi lainnya -kecuali menyebutkan namanya tadi- dia langsung bertanya sembari menunjuk wanita di sampingku, "Adiknya?" Interogasi dimulai. Dan dengan senyum tersungging aku pun menganguk. Tapi sepertinya dia belum puas. "Kandung?" Lanjutnya. "Ya." jawabku dengan senyuman yang semakin melebar. Setelah ber'o'panjang dia pun pergi. Lagi-lagi tanpa basa-basi, tanpa kata maaf, dan tanpa penjelasan untuk apa ia bertanya tentang wanita di sebelahku. Tabayun yang singkat. Dan aku pun kembali tertawa dalam hati sembari membatin, "Kasihan deh lu! Sudah pasang tampang sangar tapi salah orang."

Ups! Istighfar Akhi...!
Seharusnya aku tidak menertawakannya, malah seharusnya aku salut kepadanya.

Di saat orang-orang hanya berani mengamati dengan dzon-dzon di dalam hati. Di kala orang-orang mencukupkan diri dengan 'selemah-lemah iman' karena hanya berani mengingkari sebuah kemunkaran dengan hati. Dimana orang-orang tak lagi peduli dan bersembunyi di balik kata nafsi-nafsi.

Dia datang, bertanya dan memastikan dugaan. Dia datang, tabayun demi mematikan prasangka yang ada dalam hatinya. Dia datang, dengan keinginan memberikan teguran, mengamalkan sebuah perintah amar ma'ruf nahi munkar.

Akhi yang menegurku di serambi...
Dia telah memberikan pelajaran tentang keberanian mengamalkan perintah Tuhan. Tanpa malu, tanpa sungkan karena sadar itu adalah kewajiban. Dia mungkin adalah bagian dari segelintir manusia yang berwatak ghuroba'.

Bibir bekunya yang tanpa senyuman telah mengingatkan dan membuatku berkaca pada diri. Aku yang memang tak biasa berbasa-basi, yang juga jarang mengumbar senyuman meski telah tahu itu sedekah yang mudah, Kini merasakan sendiri bagaimana rasanya ditegur tanpa senyum. Mulai kusadari, teguran tanpa senyuman, percakapan tanpa permulaan, hanya akan membuat hati antipati, mungkin saja menumbuhkan kebencian dan menjauhkan manusia dari keindahan agama. Bisa jadi, nasehat tak kan berarti tanpa basa-basi.

Menegur dengan senyum, menasehati dengan hati dan menunjukkan ketulusan. Menegur bukan karena benci pada pribadi tapi karena peduli. Bukan manusianya, tapi perbuatannya yang kita tak sukai.

Akhi yang menegurku di serambi, di pertemuan yang tak begitu lama engkau memberiku pelajaran yang berharga. Semoga kita dipertemukan di surga-Nya. Amin.

Sunday, October 4, 2009

Aku kehilangan dia dua kali...?

Kamu berubah, kabar itu kuterima di suatu pagi lewat lisan seorang ukhti.
"Kembali ke akar dimana kau dibesarkan?" Itulah ungkapan yang kuterima saat kutanya "Kenapa?"
"Dipicu oleh sosok baru dan asing -bagi kami- yang kini selalu membersamaimu." Ini tambahan dariku.

Reaksiku? Sama seperti saat menerima sms darimu di akhir Romadhon 1428 H.
Aku merasa kehilangan. Dan di seberang sana saudariku mendengarku berkata, "Aku kehilangan dia dua kali ukh..."
Dua kali? Ya, dua kali. Pertama ketika kamu disunting lelaki yang sekarang menjadi suamimu.
Kedua, saat kamu putuskan tak lagi bergabung dengan Jama'ah kami kemudian lebih bersimpati pada tokoh yang penuh kontroversi.
Dan apa yang bisa kukatakan?
"Suamimu telah merusak pola pikirmu?"
atau "Kamu memang begitu lemah dan mudah dikikis idealismenya?"
atau "Kamu memang belum matang dan masih angin-anginan , jauh dari militan dan keistiqomahan?"
Empat tahun di Jama'ah ini, bergabung dalam barisan da'iyah, masuk dalam jajaran murobiyah kampus,
rupanya tidak cukup membuatmu semilitan dugaanku.

Aku kecewa, galau dan sakit...
Tapi aku ini siapamu? Tak lebih hanya orang yang numpang lewat dalam kehidupanmu di masa lalu.
Apakah cita-cita reuni di surga dengan bernaung di satu bendera hanya angan-angan belaka?
Atau ada rahasia Allah yang belum terungkap, yang menjanjikan akhir yang lebih sempurna?

Seperti biasa, jika kugalau, kutumpahkan semuanya di "personal book"-ku.
Menuliskan semua ganjalan dan segala sesuatu yang membuat akalku buntu.
Dan Pujian hanya milik-Nya, aku pun menemukan jawaban.
Teringat wasiat Hasan AL Banna yang kuterima di halaqoh perdanaku 8 tahun yang lalu,
"Bahu-membahu dalam kesepakatan, toleransi dalam perbedaan."
Juga cuplikan ungkapannya di buku Risalah Pergerakan yang kubaca saat semester satu,
"Perbedaan itu suatu keniscayaan."

Maka kutuliskan beberapa pertanyaan yang sedikit melegakanku.
"Apakah kamu yang kembali ke akar dimana kamu dibesarkan dan keluar dari jama'ah ini bisa kuanggap murtad?"
"Apakah kamu yang mulai simpati pada tokoh yang terkenal kontroversial bisa kukatakan kafir?"
"Apakah kamu yang tak lagi ikut halaqoh dan tak sepemahaman dengan kami bukan lagi saudara seiman dan seislam?"
Tentu saja jawabannya "tidak". Kamu tetap memiliki hak yang sama sebagai saudara seiman,
selama masih berpegang pada AL Qur'an dan Sunnah, kemudian terus berusaha menerapkannya dalam kehidupan.
Engkau masih saudara, masih saudara...

Maka aku hanya bisa mencoba berlapang dada,menebalkan rasa tasamuhku atas keputusanmu dan menghormati jalan pilihanmu.
Semua adalah proses kehidupan menuju kematangan yang tentu saja akan dilalui oleh semua orang.
Hingga batas akhir nanti, saat kita akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya atas pilihan-pilihan kita. Disanalah segalanya bermuara.

Dan peristiwa itu membuatku kembali merenungi langkahku selama ini.
Akankah aku mencukupkan diri dengan pengetahuan dan wawasan yang ada di depanku saja?
Kemudian tidak mencoba membuka pintu-pintu lainnya untuk mencari kebenaran yang lebih sempurna?
Atau aku sudah cukup puas hanya dengan pemikiran satu dua tokoh saja? Tentunya tidak demikian.

Seperti Imam Syafi'i, pada masanya Makkah tempat beliau tinggal sudah cukup nyaman.
Disana ada banyak alim ulama yang bisa ditanyai tentang bermacam masalah.
Di usia 15 th beliau sudah disegani dan dimintai fatwa agama, hidupnya terjamin karena ia cukup "disayang" oleh Amir Makkah.
Beliau sudah berada dalam posisi "aman". Harta, kedudukan dan kehormatan telah beliau dapatkan.

Tapi Imam Syafi'i tidak berhenti. Ia terus mencari dan menambah ilmunya, memperluas wawasan dan pandangannya.
Beliau menuju Madinah menemui Imam Malik dan belajar pada peletak dasar madzhab Maliki itu.
Selanjutnya Imam Syafi'i mengembara, menemui ulama-ulama hingga ke Mesir, melewati Kufah, Basrah dan kota-kota lainnya.
Dia pun tak segan belajar pada muridnya sendiri. Imam Ahmad bin Hanbal -peletak dasar madzhab Hanbali- adalah salah satu muridnya.
Tapi tanpa sungkan dan merasa rendah Imam Syafi'i bertanya pada Imam Ahmad tentang ilmu hadits.

Semoga saja kita bisa meneladani kegigihan para pencari ilmu dan kebenaran seperti beliau.
Dan tidak berhenti memperdalam pemahaman tentang dien ini, tak juga mencukupkan diri dan cepat merasa puas dengan ilmu yang kita miliki.

Dan akhirnya, dimanapun akar kita tumbuh, apapun latar belakang madzhab dan pemikiran yang membesarkan kita, akar Islam tetaplah sama : Al Qur'an dan Sunnah Rasullullah saw.
Dengan kata lain, kita tetap mempunyai kewajiban dan hak yang sama.
Kita masih wajib berdakwah, kita masih wajib beramar makruf nahi munkar, kita masih wajib menegakkan hukum2 Allah... Karena kewajiban itu tidak hanya milik golongan atau aliran tertentu saja. Semua yang mengaku muslim tetap berkewajiban.
Maka, teruslah bergerak, bergerak dan bergerak.
Menebarkan kebaikan dan terus memberi kemanfaatan pada sesama,
bukankah sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya?
Sungguh, dakwah tidak pernah membutuhkan kita, tapi kitalah yang membutuhkan dakwah,
karena ia adalah ruh di dalam jiwa kita.
Wallahu a'lam

Pesan milad untuk sahabat




Apakah perputaran masa demikian cepat hingga kita tak bisa merasakannya? Seringkali jenak-jenak waktu itu berlalu tanpa kita nikmati, tanpa bisa kita maknai.
Sebuah pesan milad hanyalah nasehat yang diulang-ulang setiap tahunnnya. Sekedar untuk mengingatkan akan makin dekatnya kita pada sapaan kematian. Atau tentang urgensi pemanfaatan waktu yang sering terbuang.

Selagi ruh masih lekat dengan jasad, sebelum malaikat maut datang menjemput, sebelum ajal menjelma di depan mata … Tak ada salahnya kita menata ulang rencana-rencana kehidupan, memetakan cita-cita dan harapan masa depa. Agar hidup ini lebih punya arah dan nantinya bisa bermuara di tempat yang tepat lagi bermanfaat.
Jangan lagi kita menjadi manusia kerdil, manusia kecil yang kata Sayyid Quthb, manusia yang hidup untuk dirinya sendiri. Manusia yang tidak peduli pada milliu yang ia tinggali.

Saat kita bisa menjadi besar dan menjadi manusia yang selalu dikenang penduduk langit, kenapa tak kita coba untuk wujudkan? Mengapa kita tidak mencoba menggapai tempat terhormat itu?

Ketika kehidupan kita bukan lagi milik kita sendiri. Ketika waktu luang, harta benda, jiwa raga, akal pikiran, dan segala yang ada pada diri kita menjadi bara pembakar bagi sebuah peradaban. Alangkah nikmatnya sebuah pengorbanan untuk manusia dan menjadi martir dalam perang kehidupan demi tegakkan panji kemenangan. Maka menjelmalah kita menjadi manusia besar.

Kalaupun itu terlalu tinggi untuk dicapai, maka cukuplah tangan dan lisan kita berhenti menyakiti. Cukuplah hati ini bersih dari dengki. Cukuplah raga dan jiwa ini patuh mengabdi pada Ilahi.

Kalaupun kita tak mampu memberi banyak manfaat bagi manusia, dan tak bisa mencipta sebuah, dua buah karya, cukuplah kehadiran kita tidak mencelakakan mereka. Cukuplah keberadaan kita tidak merugikan mereka.

Kalaupun kita tidak bisa menjadi “pahlawan” bagi orang lain, cukuplah kita menjadi pahlawan bagi diri kita sendiri, yang berhasil membawa diri dari gelap pada cahaya, dari maksiat pada taat, dari ingkar pada iman … Wallahu a’lam


Akhi... Mereka Menanti (Sebuah tulisan untuk "Ikhwan Pengecut")

Obrolan beberapa waktu yang lalu, antara aku dengan dua teman lama yang kutemui di kost mereka.
Kebetulan salah satu temanku tadi hendak menggenapkan setengah diennya dan yang satunya lagi sedang menjalani proses ta'aruf.
Maka Kami pun membicarakan tentang pernikahan, ta'aruf, pengalaman bias merah jambu di kehidupan masing-masing dan masalah-masalah sejenis.
Diskusi ringan itu merembet ke masalah proposal-proposal pernikahan yang masuk ke bagian biro jodoh dari sebuah jama'ah yang diikuti oleh dua temanku.
Katanya, berkas dari para ikhwan tidak sebanding dengan proposal-proposal para akhwat yang menumpuk tinggi.
Sudah tahu begitu, tapi di kalangan ikhwan tak juga berusaha untuk bersegera, mereka tidak juga peka bahwa ada banyak ukhti yang menanti.
Saat itu aku hanya menjadi pendengar setia, karena untuk masalah begini aku memang kurang paham dan kurang pengalaman. ^_^

Dua sahabatku masih saling tutur, satu pendapat keluar pendapat lain menguatkan.
"Anak kampus banyak yang pengecut."
"Kok bisa?" kataku sambil menahan senyum,tersenyum karena yang di depanku juga mahasiswa,tersenyum karena untungnya aku bukan termasuk anak kampus.
"Ya memang begitu, setiap ditanya kapan nikah mereka banyak yang menjawab nanti dulu, belum mapan, ingin sekolah lagi dsb, dsb. Mungkin ini bisa jadi bukti rendahnya kualitas keimanan hingga tawakal mereka atas rizki begitu tumpul. Atau mereka telah hilang keberanian, hilang keyakinan bahwa Allah selalu memberi jalan keluar."
"Itu kan wajar akh, kualitas iman kan memang beda-beda." Kataku lagi.
"Iya memang wajar, tapi masalahnya bukan itu saja," kata temanku yang satu lagi. "Kalau memang belum siap seharusnya kan mencari jalan untuk mempersiapkan diri, ini malah banyak yang HTS-an, TTM-an, banyak bermunculan ikhwan-ikhwan yang jempol kanannya kapalan karena kebanyakan sms-an."
"Nha kan malah jadi penyakit di hati. Mereka tahu kebutuhan akan lawan jenis, tapi gak berani nikah, akhirnya melangkah di jalan para pengecut. HTS-an, TTM-an,adik-adikan, pacaran. Yang rugi bukan cuma individu masing-masing, tapi kualitas dakwah juga ikut terimbas." imbuh sahabatku.
"Akh HTS-an itu apa to?" Tanyaku lugu.
"Hubungan Tanpa Status!" Serentak keduanya menjawab.
"Kalau TTM?"
"Teman Tapi Mesra!"
Aku menganguk-anguk, "Memangnya belum pernah dengar istilah itu?" tanya temanku.
"Sudah, hanya memastikan, siapa tahu artinya beda." Kataku kalem.

Aku jadi ingat komentar seorang ikhwan yang ditanya, "Kenapa tidak bersegera?" Meski ia menjawab dengan nada canda, ada sebuah jawaban yang membuatku ingin menonjok mukanya. "Santai saja Akh, pasti dapat kok, tinggal milih! stok akhwat kan banyak!"
Teganya mereka bilang demikian, begitu ringan lidahnya. Memangnya para wanita itu mereka anggap apa? Barang? Bukan manusia yang punya perasaan? Coba kalau jawaban itu didengar para ukhti yang dengan sabar menanti proposalnya diproses. Kemudian dimana nilai ukhuwah yang sering digembar-gemborkan itu?
Rata-rata mereka hanya berani ngobrol masalah nikah, ngomongin ukhti A atau Ukhti B di belakang tapi giliran disuruh mengkhitbah, ngeper! dan menghindar dengan berbagai alasan.
Bukankah lebih bermanfaat jika mempersiapkan diri untuk menikah dari pada menilai dan membicarakan plus berangan-angan bisa bersanding dengan ukhti A atau ukhti B?

Dan aku kembali mendengar tuturan mereka,
"Terus terang Akh, saya rindu dengan suasana dakwah tahun-tahun yang lalu. Ketika menikah memang untuk menguatkan barisan dakwah, ikhlas menerima siapa saja, yang penting militan. Lebih tua yang perempuan tidak masalah yang penting nikah dan bisa saling menguatkan, bisa menjaga kehormatan diri dan memelihara pandangan."
"Saya kagum dengan teman-teman Rohis di SMU dulu, mereka sudah banyak yang menikah terutama yang tidak melanjutkan kuliah. Dan tidak sedikit yang menikahi perempuan-perempuan yang lebih tua, dua, tiga tahun di atas mereka. Padahal yang lebih muda pun ada. Kalau mereka mau bisa cari sendiri tanpa harus taat dengan guru ngaji. Sungguh keikhlasan mereka, saya salut."
Aku tersenyum. Ah, masa lalu itu. Memang selalu indah untuk dikenang namun selamanya tak akan pernah menghampiri lagi. Akankah terulang?

"Kalau antum, kapan nikahnya Akh?"
Aku diam mendengar tanya itu, mungkin aku termasuk golongan yang menurut mereka pengecut karena tak segera mempersiapkan diri untuk pernikahan. Tapi paling tidak aku punya prinsip sendiri. Saat aku tertarik dengan perempuan, maka aku akan diam di tempatku, tak akan kuumbar kata-kata indah di depannya, tak akan kucoba dekati dia, tak akan kuungkapkan perasaanku padanya. Aku akan tetap diam dan berusaha bersikap biasa sampai nanti aku siap untuk meminangnya. Biar ketertarikan ini hanya milikku sendiri. Bagaimana jika didahului orang lain? Berarti memang dia bukan rizkiku, bukan bagianku, dan Allah pasti akan memberi yang lebih baik bagiku. Insya Allah.

Dan aku pun menjawab tanya itu, "Doakan saja semoga cepat menyusul." jawaban inilah yang kurasa paling aman.

Mbak Fitri lagi... Mbak fitri lagi... Tapi dia INSPIRASI!!!

Tiga tahun yang lalu saat menunggu pendaftaran di sebuah yayasan pendidikan, saya nunut tinggal di sebuah pesantren mahasiswa selama 6 bulan. Bergaul dengan para aktivis dakwah kampus dan mengamati kesibukan mereka dari dekat.
Dan terdengarlah suara-suara itu di telinga saya...
"Hoii, tolong anter ke tempat mbak fitri dong..."
"Akh tadi ada telp dari mbak fitri, katanya bla...bla..."
"Mas pinjem motornya, disuruh mbak fitri nih..."
"Anu... mbak fitri tadi..."
"Itu mbak fitri minta..."
"mbak fitri.... mbak fitri... mbak fitri..."
Walah, ini siapa sih? kok para akhi disini begitu mudah diminta begini begitu? Apa istimewanya ya? Sampai kadang gerimis pun tetap pergi jika yang minta mbak Fitri padahal saat disuruh rapat, ngaji atau kerja bakti hmm mbelernya sering.
"Mbak fitri siapa sih mas?" tanya saya pada seorang senior yang jadi guru ngaji saya. Dan mas guru ngaji itu pun menjawab, "Ada deh!" Puh!

Kesempatan itu pun datang, mas guru ngaji mengajak saya pergi angkat-angkat buku. "Kemana?" tanya saya. "Ke tempat mbak fitri."
Di depan sebuah rumah sederhana kami berhenti, ucap salam, dan masuk. Cukup sekali pandang dan saya pun paham kenapa mereka, para akhi itu begitu patuhnya, begitu mudahnya menolong, begitu hormatnya pada sosok satu ini.
Madrasah Diniyah, TPA, Pengajian Ibu-ibu, pengajian romadhon, dsb  semua itu dikoordinir oleh beliau lewat yayasan yang ia dirikan, Yayasan  Al Fitroh. Dan itu pun dengan penglihatan yang disimpan di Akhirat. Ya, meski mata itu tak sempurna seperti milik saya.

Saat saya melihat, bagaimana ia hafal nama-nama aktivis berikut nomor HPnya, bagaimana ia menekan tuts keyboard atau keypad Hp dengan jari-jarinya, bagaimana ia memberi arahan tentang macam-macam amanah dakwah, rasa kagum itu muncul, salut, hormat, dan saya pun merasa kecil di depannya. Ah, beliau telah memberi inspirasi, untuk terus berbuat dan berbuat, karena setiap orang pasti memiliki kelebihan disamping kekurangan.... Kullu syai-in maziyah... Kullu syai-in maziyah...

Amanah Kepemimpinan (2)




Ketika kepemimpinan diamanahkan dan dibebankan padamu. Akankah hal itu menjadi titik tolak perubahanmu dalam meniti jalan kehidupan?

Layaknya Umar bin Abdul Aziz yang menjadikan beban amanah kepemimpinan sebagai awal revolusi kehidupan pribadinya. Umar yang pesolek, Umar yang berpenampilan glamour, Umar yang banyak tertawa, Umar yang gaya jalannya ditiru gadis-gadis Madinah, Umar…

Ia berubah menjadi Umar yang zuhud akan dunia, Umar yang senantiasa mengingat akhirat, Umar yang berhati-hati dalam menggunakan harta negara, Umar yang sungguh sangat sederhana, bahkan sejak diangkat sebagai khalifah hingga akhir hayatnya dia sama sekali tidak pernah tertawa.

Pengorbanannya tidak sia-sia, negeri yang ia pimpin menjadi makmur, hingga tak ada mustahiq zakat, tak ada yang pantas diberi zakat. Para muzakki kebingungan siapa lagi yang akan disantuni sedang semua rakyat telah makmur? Padahal Umar hanya memerintah selama +/- 2 tahun, ya hanya 2 tahun! Tapi rupanya masih ada satu orang yang miskin, dia Umar bin Abdul Aziz sendiri beserta keluarganya. Adakah Umar-Umar yang lain kini? Akankah kamu menjadi sepertinya?

Atau layaknya Umar bin khatthab, pemimpin tegas yang keras dalam memerangi penyelewengan anak buahnya. Al Faruq, demikian julukan yang diberikan Rasulullah baginya, pembeda antara yang salah dan benar. Umar yang begitu total dalam mengabdi pada Allah, yang tanpa canggung memikul karung gandum demi rakyatnya, yang rela menggiring dan mengobati unta hasil zakat yang sakit di teriknya matahari, yang begitu biasa tidur di emperan masjid berbantalkan surban tanpa gengsi meski tanpa dikawal, yang lekat dengan kesederhanaan dan begitu biasa dengan baju penuh tambalan. Akankah kamu mengikuti jejak ahli surga ini?

Atau layaknya Muhammad, sang Nabi terakhir, yang tingkah lakunya sempurna tanpa cela. Dua Umar mencontoh padanya, meneladaninya dan mengambil hukum dari risalah yang ia bawa. Ia dipilih Allah untuk memikul amanah kenabian, kerasulan dan risalah terakhir bagi manusia. Pribadi sempurna inilah yang selayaknya dijadikan teladan sepanjang masa. Dia tidak hanya Nabi atau Rasul dia juga pemimpin sebuah negara, juga panglima perang, ia juga suami dan ayah, ia juga guru, ia juga pedagang, konsultan dan ia seorang manusia seperti kita.

“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” (QS. Al Ahzab:21)



Wahai seseorang yang memimpin suatu kaum, yang diamanahi untuk mengurus urusan orang banyak, yang membawahi berbagai kalangan. Meski aku tidak di bawah kepemimpinanmu, meski kamu tidak mengurus urusanku, meski aku tidak berada di bawahmu. Izinkan aku ikut berharap dan merindukan atas nama seorang manusia yang menginginkan kebaikan untuk semua.

Aku ingin ikut berharap kamu bisa memenuhi amanah-amanah itu layaknya seorang muslim yang mukmin. Layaknya Muhammad saw yang berjiwa besar dan menyatu dengan umat. Layaknya Umar bin khatthab yang tegas pada kemungkaran dan penyimpangan anggaran, yang bisa lembut pada orang yang dizalimi, yang berbalut kesederhanaan meski ia mampu untuk kaya. Layaknya Umar bin abdul aziz yang berani merubah diri demi merubah negara, yang begitu takutnya kepada Allah, yang selalu berusaha untuk tidak menunda masalah-masalah negara.
Aku juga merindukan sosokmu menjadi sosok tegar dalam mengatakan kebenaran, melarang munkar sekecil apa pun itu. Kekuasaan kini ada di tanganmu, kamu berkesempatan mengubah segala kebijakan di tempatmu memimpin selama kamu mau dan berusaha untuk itu.

Aku menunggumu mengamalkan hadits Nabi, “Barangsiapa yang di antara kamu melihat kemunkaran, maka ubahlah dengan tanganmu (kekuasaanmu) dan apabila tidak mampu maka ubahlah dengan lisanmu dan apabila tidak mampu maka ubahlah/ingkarilah dengan hatimu dan itulah selemah-lemah iman.”




Aku Mengenang Jasa sang Bunda

Anakku (1)

Kubelai sepenuh susah sembilan bulan
-dalam kandungan
kuelus sepenuh sakit di kala melahirkan
kubuai sepenuh letih mata terpejam jarang
kutimang sepenuh sabar hadapi
-rengekmu lantang
kudekap sepenuh harap akan hidupmu panjang

Anakku (2)

Bergelayut manja tangan mungilnya
Merajuk mata beningnya
-singgah nyatakan pinta
isak tercekat saat kusajikan
-tolak halus akan inginnya
rengekannya membelit tak bersudah
mencari celah lengah
luluhku demi diamnya
kuturut maunya

Anakku (3)

Lakumu tak lagi kaku, halus
-seiring merambat senja usiaku
dari langkah satu-satu, berubah lincah
menyirat cercah cerah
tumbuhmu pasti, kertas putih itu
telah tertulisi
macam warna pembentuk jiwa
harapku akan pribadimu sempurna
menjadi penyejuk pandangku
menjadi cahaya kuburku dari
doa-doa sholihmu

Amanah Kepemimpinan (1)



Kepemimpinan, sekilas ia memang membebani, membuat ruang gerak menjadi sempit dan menguras tenaga, pikiran juga perasaan. Tapi di balik itu ada kesempatan untuk belajar, belajar menata hati, meredam emosi dan menempatkan diri sebagai publik figur yang akan banyak diperhatikan orang.
Di sana ada kesempatan untuk memaksa diri menuju kebajikan. Karena kepemimpinan bisa dijadikan sarana untuk mendulang pahala, memanen kebaikan tanpa jeda. Tentunya selama sang pemimpin menyadari hal itu. Dan kesadaran hanya akan tumbuh dari hati yang dipenuhi keimanan.

Di sana ada kesempatan untuk memperbaiki diri agar tak lagi bertingkah semaunya, agar tak memandang remeh segala hal yang ada, agar tak mudah memutuskan tanpa musyawarah. Ya, di balik beban itu ada banyak kebaikan jika kita mau menelaahnya, menggalinya lebih dalam dan mau menerima penuh keikhlasan.
Sebaliknya, beban itu bisa menjadi bencana dan tambah memberatkan ketika sang pemimpin begitu menyepelekan kepemimpinan. Menganggapnya sebagai hal yang biasa dan tak perlu diurusi dengan serius. Semua itu hanya akan menjerumuskan pada kehinaan, kehinaan di mata manusia dan sang Pencipta.
Bagaimana tidak hina di mata manusia bila pimpinan yang dipercayai banyak orang tidak memperhatikan permasalahan yang ada. Bagaiman tidak hina di mata sang Pencipta, sedang ajaran tuhan begitu membenci para pengkhianat yang menyia-nyiakan amanat, mengutuk pemimpin yang dzalim dan mencela para penentang keadilan.

Ketika seseorang diamanahi beban kepemimpinan maka ada tugas yang memaksanya untuk berpikir bagi orang lain, ada tugas yang akan membentuk jiwanya agar lebih bisa menjadi manusia yang bermanfaat bagi manusia yang lain. Dan Umar bin Khathtab pun berpesan untuk para calon-calon pemimpin, “Perdalamlah ilmu sebelum engkau menjadi pemimpin.”

Semua tidak cukup selesai dengan keluhan “Kepemimpinan ini sangat berat.” Kalau memang merasa berat tentunya seseorang yang diamanahi akan berusaha keras, mengeluarkan tenaga ekstra demi menahan pikulan di pundaknya. Tak sekedar sadar di lisan bahwa amanah ini berat, tapi juga di hati, juga di setiap amal perbuatan, juga di setiap desah nafas kehidupan.

Karena, banyak orang rindu akan kepemimpinan yang terpuji di langit dan di bumi. Manusia rindu pemimpin yang berorientasi akhirat. Manusia rindu pemimpin yang menyayangi sepenuh hati. Rasulullah sendiri bersabda, “Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang mencintai kalian dan kalian pun mencintai mereka. Yang kalian mendoakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian…”


Senja Itu Berlalu

Tergolek senja di antara kaki pendusta
Saat mentari lari dari hati
Tegurnya tak lagi menari
Beribu nama membuang sukma
Beribu jiwa silaukan mata
Duga-duga hadir dalam gurat muka

Sang senja menata mati
Tertutup kaki pendusta sejati
Sinis tatap pendengki
Sang kelam merangkak pasti
Peluk pendusta setengah hati
Cericit-cericit menghias
Kabut turun terhempas
Selubungi peluk setengah terlepas

Tubuh-tubuh terbungkus
terikat belenggu-belenggu tak tentu
sang senja pun begitu
dalam rengkuh berbuhul ujung
lubang-lubang ternganga sambutannya
masuklah, tak keluar selama
tertimbun tapak-tapak liat
senja telah mangkat

Thursday, October 1, 2009

Rinduku Menggigilkanku

Gemeletuk gigi beradu
menahan sendu dalam beku
Gigilku di sela harap akan kasih yang hinggap
Ia terbang tanpa sayap, berlari tanpa kaki
Terbenam di sela kelam malam
Tak kuasa ia kusapa. Aku terpekur tak berani menegur

Dingin ini menggigit. Menambah sakit jerit hati yang terhimpit
Antara taat dan hasrat
antara jaga dan lena
antara wahyu dan nafsu

Selimutku yang lekat tak jua membuat hangat
kulit ini telah berubah pucat
Inginku cairkan rindu
Agar hangat meresap
Hingga jerit hati menguap.

Seperti Apa Arti Kedewasaan yang Sebenarnya?



Seringkali manusia menghubungkan pertambahan usia dengan kedewasaan, meskipun memang usia tua belum tentu bisa bersikap dewasa. Hingga ada ungkapan, “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan.”

Pernah saya membaca sebuah tulisan seorang ustadz yang sering muncul di layar kaca, beliau menuliskan tentang ciri-ciri kedewasaan. Tulis beliau, dewasa adalah diam aktif, tak banyak bicara, tak banyak komentar tapi menyikapi permasalahan dengan bijaksana. Dewasa juga berarti mempunyai empati, senantiasa meluangkan jiwa untuk memikirkan dan memahami perasaan orang lain. Dewasa adalah senantiasa berhati-hati dalam berpendapat, menentukan sikap, menggunakan waktu dan membelanjakan harta . Dewasa adalah sabar, sehingga ia bisa mengendalikan jiwanya dari ledakan emosi dan menenangkan hatinya dari kemarahan tanpa guna. Dewasa adalah bertanggungjawab akan kehidupan yang ia arungi.

Semoga kedewasaan kita tidak terlambat tumbuh. Memang kita tak akan bisa seperti Imam Syafi’i yang telah menguasai berbagai macam ilmu agama saat usianya baru lima belas tahun dan ia pun telah menjadi mufti kota Makkah pada usia itu. Atau seperti Usamah bin Zaid yang memimpin ribuan pasukan, padahal usianya belum genap 20 tahun. Atau layaknya Muhammad Al Fatih yang ketika menaklukkan Konstatinopel, ibukota Romawi Timur, dalam usia 23 tahun. Kita memang tak bisa seperti mereka karena kini kita telah tua, hanya saja jangan sampai kita berputus asa karena kita masih bisa belajar dari mereka tentang kegigihan dalam menggapai cita-cita, kesabaran dalam merentas jalan ke surga dan kesungguhan dalam mewujudkan harapan.

Imam Syafi’i tidak pernah berhenti menuntut ilmu meski telah mendapat kedudukan istimewa di Makkah. Ia pergi ke Madinah untuk belajar kepada Imam Malik, ia juga ke Mesir, Kufah, Baghdad dan kota-kota lainnya. Hingga berpuluh tahun merantau demi ilmu, dia tak pernah berhenti. Dan ia pun berpesan kepada kita semua, “Bepergianlah, kamu pasti akan mendapatkan pengganti apa yang kamu tinggalkan. Berusaha keraslah, karena kenikmatan hidup ada pada kelelahan usaha keras. Aku melihat, air yang berhenti itu merusak dirinya, kalau ia mengalir pasti akan baik, kalau ia berhenti akan buruk. Dan, kalaulah singa tidak meninggalkan tempatnya ia tidak akan mendapat buruan. Demikian juga panah, kalau tidak bergerak meninggalkan busur, dia tidak akan mengenai sasaran.”

Sedang Usamah, meski dijuluki kesayangan dari putra kesayangan karena begitu dicintai Nabi Muhammad saw, ia tidak berhenti dalam berjihad, tak berhenti dalam mengharapkan kesyahidan. Usia 15 tahun ia terjun pada perang Khandaq, usia 18 tahun ia ikut serta pada perang Mu’tah dan belum genap 20 tahun ia memimpin pasukan ke Syam. Dalam jangka waktu 40 hari misinya sukses, berhasil dengan gemilang tanpa satu pun korban. Kita mungkin memang tak bisa seperti dia, tapi kita bisa meneladani tekadnya, mengambil pelajaran dari perjalanan hidupnya. Atau paling tidak bersemboyan seperti semboyannya, “Untuk kemenangan, matilah!”

Bagaimana dengan Al Fatih? Dia yang ketika berusia 10 tahun telah dipercaya untuk menjadi gubernur dan panglima perang di wilayah Amasya. Ketika usianya 14 tahun ia diminta untuk menggantikan ayahnya, Sultan Murad II,  untuk memimpin negara meski hanya sementara. Dan di usia 20 tahun ia benar-benar menggantikan ayahnya yang telah mangkat. Akhirnya di usia 23 tahun ia berhasil menaklukkan Konstatinopel, ibu kota Romawi Timur. Demikianlah, ia di usia mudanya telah berhasil mewujudkan ramalan Rasulullah setelah sekian lama umat islam menanti-nantikannya. Lingkungan istana tidak membuatnya larut dalam kelenaan dan kesenangan. Kecintaannya pada ilmu membuatnya tumbuh menjadi sosok pemimpin yang mencintai agama dan jihad di jalan-Nya. Kita mungkin tak akan sempat mewujudkan mimpi-mimpi umat yang besar ini di usia yang sama dengan AL Fatih, tapi kita bisa mengambil semangat dan tekadnya yang tergambar pada jawabannya ketika ditanya oleh seorang ibu, kenapa ia mau berpayah lelah membantu pasukannya menyingkirkan salju dan batu-batu, membuat jalan. Ia berkata, “Wahai ibu, pekerjaan berat ini semuanya untuk jalan islam. Apakah anda mengira bahwa kami pantas untuk disebut mujahid jika kami tidak menanggung kesulitan ini di jalan Allah? Wahai ibu, pedang-pedang yang akan kita gunakan ini bukan untuk hiasan atau kesombongan tapi untuk berperang di jalan Allah.”
Dan ketika ia meninggal ia meninggalkan pesan pada putranya, yang salah satu penggalannya berbunyi, “Berharaplah kepada agama, sebab ia adalah rahasia kemenangan kita.”

Dewasa adalah pilihan, maka mana yang akan kita pilih? Berusaha menjadi dewasa seiring  putaran masa atau bertahan dalam kekanakan dengan wajah kita yang kian menua? Semoga kita lebih memahami arti kedewasaan yang sesungguhnya.